Pendekar Pedang Kayu Harum

Pendekar Pedang Kayu Harum
pkh 09 part 10


__ADS_3

Kakek kecil pendek yang bongkok itu ternyata dapat lari cepat sekali. Tadinya kakek itu menggunakan ilmu berlari cepat secara melompat-lompat sepert katak, sekali melompat ada sepuluh meter jauhnya dan begitu kakinya tiba di atas tanah terus melompat lagi ke depan.


Akan tetapi Keng Hong yang oleh mendiang gurunya digembleng terutama sekali untuk tenaga dan kecepatan, dapat bergerak lebih cepat lagi. Tubuh pemuda yang kini terlalu penuh dengan hawa sinkang ‘rampasan’ dari orang-orang Tiat-ciang-pang tadi, sekarang ringan seperti sebuah balon karet penuh hawa, maka dia dapat berlari cepat dan ringan sekali mengejar sambil berteriak, makin lama makin dekat.


"Locianpwe, tunggu dulu...!" Mendengar ini, kakek itu berlari makin cepat lagi.


"Heiii, Locianpwe yang bongkok, tunggu...!" Suara Keng Hong makin keras.


Ketika kakek itu menoleh dan melihat betapa pemuda itu mengejarnya dengan cara yang sama, yaitu melompat-lompat seperti katak, akan tetapi dengan lompatan yang lebih jauh dari pada lompatannya, dia terkejut sekali dan cepat mengubah caranya berlari. Kini dia tidak berlompatan lagi, namun berlari dengan gerakan yang luar biasa cepatnya sehingga kedua kakinya itu lenyap bentuknya dan tampak seperti kitiran berputar sehingga terlihat bagaikan roda. Langkah-langkahnya pendek-pendek, sesuai dengan kedua kakinya yang pendek-pendek, namun gerakannya cepat sekali sehingga tubuhnya meluncur ke depan seperti seekor kuda membalap.


"Heh-heh-heh, tak mungkin kau dapat mengejarku lagi, bocah bandel" Kakek itu terkekeh dan mengerahkan seluruh tenaganya untuk berlari secepat mungkin.


Beberapa lamanya kakek itu berlari sampai dia merasa yakin bahwa pemuda itu kini tentu telah tertinggal jauh dan kalau dia teruskan, napasnya mungkin akan putus meninggalkan tubuhnya yang sudah amat tua. Selagi dia hendak memperlambat larinya, tiba-tiba dekat sekali di belakangnya terdengar teriakan Keng Hong.


"Heiii, Locianpwe, mengapa melarikan diri? Saya hendak bicara..!"


Kakek bongkok itu menengok dan alangkah kagetnya ketika mendapat kenyataan bahwa kini pemuda itu pun berlari cepat seperti dia, cepat sekali seperti terbang melayang saja. Karena merasa bahwa lari pun tidak ada gunanya, kakek itu berhenti dan membalikkan tubuh menanti sampai Keng Hong tiba di depannya.

__ADS_1


Muka pemuda itu masih merah sekali, sampai matanya pun masih merah sebagai akibat dari pada kebanjiran sinkang pada tubuhnya, akan tetapi dia sudah agak tenang karena kelebihan hawa sakti itu tadi sudah banyak dia pergunakan untuk melakukan pengejaran terhadap kakek yang amat cepat larinya itu, dan juga pada sepanjang jalan Keng Hong sempat menggunakan tangannya mendorong roboh beberapa batang pohon besar.


"Ehh, bocah yang keji seperti setan. Apakah engkau masih belum kenyang sehingga terus mengejarku untuk menyedot habis sinkang-ku dengan ilmu sesatmu Thi-khi I-beng?" Dia bertanya sambil memandang tajam. "Seekor lintah sudah puas dengan hanya menyedot darah sampai kenyang, akan tetapi engkau menyedot hawa orang sampai empat orang mati masih belum puas, sungguh jauh lebih keji dari pada seekor lintah!"


Keng Hong mengerutkan alisnya dengan hati risau. "Locianpwe, benarkah ada ilmu yang dinamai Thi-khi I-beng itu? Apakah benar tenaga menyedot yang keluar dari tubuhku itu tadi Ilmu Thi-khi I-beng?"


Kakek itu membusungkan dada menegakkan kepala dan memandang Keng Hong dari bawah dengan sikap seorang guru memandang muridnya, kemudian dia menunjuk hidung sendiri sambil berkata,


"Aku Siauw-bin Kuncu (Budiman Berwajah Ramah) selamanya tidak suka membohong. Seorang kuncu (budiman) tidak akan membohong! Terang bahwa kau tadi menggunakan ilmu menyedot sinkang lawan, apa lagi namanya jika bukan Thi-khi I-beng yang kabarnya sudah lenyap dari permukaan bumi dan dibawa lari ke neraka untuk dijadikan ilmu para iblis dan setan? Akan tetapi kini ternyata engkau memilikinya. Hihh, sungguh mengerikan, sungguh keji menakutkan!"


"Heh-heh-heh, seteguk arak mengusir semua kerisauan hati! Biar pun engkau mempunyai ilmu iblis, tentu tak akan kau pergunakan untuk menyedot hawa dari tubuhku, bukan?"


Dengan cepat Keng Hong menggelengkan kepala. "Locianpwe telah menolong saya, telah menyelamatkan nyawa saya dengan sambitan tadi, mengapa saya hendak mengganggu locianpwe yang budiman? Tidak sama sekali, bahkan saya mengejar locianpwe agar bisa menghaturkan terima kasih atas pertolongan itu dan .."


"Tidak ada tolong menolong! Siapa suka menolong orang yang semuda ini telah memiliki ilmu begitu keji sehingga tidak segan-segan membunuh orang? Seekor lintah menyedot darah hanya secukupnya saja, setelah kenyang akan melepaskan diri. Akan tetapi engkau menyedot hawa orang sampai orang-orang itu mati. Aku tidak menolong siapa-siapa, aku hanya tidak suka melihat pembunuhan-pebunuhan."


"Ahh, akan tetapi saya tidak sengaja membunuh mereka, Locianpwe..."

__ADS_1


"Bohong! Ingat, membohong itu tidak baik dan aku, Siauw-bin Kuncu selamanya tidak sudi membohong! Kebohongan itu perbuatan berantai, sekali berbohong engkau harus selalu membohong untuk menutupi kebohongan-kebohongan yang terdahulu."


Keng Hong menahan senyumnya, "Saya tak perlu berpura-pura, Locianpwe, sekali waktu, kalau perlu saya akan membohong. Akan tetapi sungguh saya tidak pernah mempunyai niat di hati untuk membunuh siapa pun juga. Dan ilmu Thi-khi I-beng yang tadi Locianpwe sebut-sebut itu sama sekali saya tidak mengerti dan tak pernah mempelajarinya. Tenaga penyedot yang berada di dalam tubuh saya ini bukan saya pelihara dan bergerak di luar kesadaran saya."


"Eh, ehh, ehh, mengapa begitu? Aku melihat engkau seorang bocah yang baik, maka aku condong memihakmu ketika engkau ribut-ribut dengan orang-orang Tiat-ciang-pang. Akan tetapi aku kecewa melihat engkau mempergunakan ilmu yang sesat itu. Dan sekarang kau mengatakan tidak sadar akan ilmu itu? Sungguh luar biasa...!"


"Sudahlah, Locianpwe. Sesungguhnya selain hendak menghaturkan terima kasih kepada Locianpwe, saya hendak mohon penjelasan, hendak bicara dengan Locianpwe…"


"Hemm, boleh. Bicara tentang apa?"


"Tentang air!"


Kakek itu melongo. Mulutnya masih tersenyum akan tetapi karena terbuka lebar kelihatan lucu, sepasang matanya terbelalak, tangan kirinya perlahan-lahan diangkat ke atas lantas menggaruk-garuk bagian atas kepalanya yang botak kelimis.


"Eh, orang muda, apakah kau sudah gila?" tanyanya, pertanyaan yang sungguh-sungguh dengan wajah serius, bukan main-main atau memaki.


Timbul kegembiraan di hati Keng Hong. Pemuda ini memang mempunyai dasar watak gembira, maka walau pun kelihatannya pendiam, setiap kali bertemu dengan orang yang bersikap riang dan lucu, tentu dia akan mudah terbawa riang pula...

__ADS_1


__ADS_2