
Keng Hong cepat menggerakkan tangan kirinya ke depan dan angin pukulan tangannya sedemikian kuatnya sehingga jarum-jarum itu dalam jarak dua meter sebelum menyentuh tubuhnya sudah runtuh semua ke bawah, ke dasar jurang yang tidak tampak dari atas.
"Cui Im, apa yang kau lakukan ini…?!"
Akan tetapi Keng Hong tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena pada saat itu sambil tertawa Cui Im sudah menggerakkan tangan lagi dan kini sinar putih berkilau menyambar bukan ke arah Keng Hong, melainkan ke bawah, ke arah tambang yang diinjak pemuda itu.
Keng Hong terkejut sekali, tak berdaya menghindarkan ancaman bahaya ini karena sekali kena disambar senjata rahasia bola putih berduri, senjata rahasia Biauw Eng yang telah dicuri Cui Im, tambang itu putus di tengah-tengah dan tentu saja tubuh Keng Hong jatuh ke bawah!
__ADS_1
Pada detik itu Keng Hong maklum bahwa nyawanya sedang terancam bahaya maut yang mengerikan. Cepat dia menyambar ujung tambang dan ketika tubuhnya meluncur deras ke bawah, dia menggerak-gerakkan tangan kakinya memukul dan menendang ke bawah sambil mengerahkan ginkang sehingga tenaga luncuran itu banyak berkurang. Hal ini dia lakukan untuk mencegah tambang itu putus di bagian atas.
Ketika tubuhnya diayun tambang ke arah dinding jurang, dia menggunakan tangan kirinya sehingga dia tidak terbanting keras dan tambang itu untungnya tidak putus, akan tetapi bajunya sudah robek-robek dan kulitnya lecet-lecet mengeluarkan darah. Keng Hong tidak kekurangan akal, segera perlahan-lahan dia memanjat naik melalui tambang yang tinggal sepotong karena putus pada tengah-tengah tadi.
Ia berhasil mencapai tepi jurang di seberang dan begitu dia meloncat dan berdiri dengan baju robek-robek berdarah, muka pucat berkeringat serta napas agak terengah karena baru saja dia terlepas dari bahaya maut mengerikan, dia melihat Cui Im di seberang sana tertawa terkekeh, membuat dia menjadi makin marah dan membenci wanita curang dan kejam itu.
Cui Im membalikkan tubuhnya dan menghilang, meninggalkan Keng Hong di seberang yang berdiri mengepal tinju akan tetapi tidak dapat berbuat sesuatu.
__ADS_1
Keadaan Keng Hong amatlah buruknya dan kalau saja orang lain yang mengalami mala petaka seperti dia, tentu akan menjadi bingung, gelisah dan putus asa. Tetapi pemuda ini masih dapat mempertahankan ketenangannya.
Ia memandang pada sepotong tambang yang sudah dia gulung naik. Tambang itu hanya setengah panjang jarak jurang antara kedua tepi. Walau pun tergesa-gesa mencari akal, tak akan mungkin dapat mencegah Cui Im melarikan semua pusaka itu. Akan terlambat. Pula, bagaimana akalnya untuk dapat menyeberang?
Dia lalu berjalan perlahan memasuki lorong, dan untuk menghilangkan rasa panas karena kemarahannya terhadap Cui Im, dia lantas pergi ke sumber air untuk mencuci muka dan tubuhnya yang lecet-lecet. Biasanya, dia datang ke bagian ini hanya kalau membutuhkan makan minum, karena di seberang lebih enak ditinggali. Kini dia mendapat kesempatan sangat luas untuk menyelidiki keadaan di situ sampai habis, dan dengan teliti mulailah dia melakukan penyelidikan.
Di mulut lorong sebelah sana, tempat yang dihuni oleh burung-burung walet, mempunyai dinding yang tidak mungkin dituruni. Siapa tahu kalau-kalau ada jalan atau lorong rahasia di bagian ini. Hasil karya seorang sakti seperti gurunya tak dapat diduga lebih dulu.
__ADS_1
Dengan membawa Siang-bhok-kiam yang tidak pernah terpisah dari tubuhnya sehingga tidak sampai terampas Cui Im, dia lalu mulai melakukan pemeriksaan dengan teliti sekali. Karena dia melakukan sangat teliti, setiap dinding dan lantai batu dia periksa, sejengkal demi sejengkal, maka Keng Hong harus menggunakan waktu sampai tiga hari untuk bisa memeriksa tempat itu seluruhnya, dari tepi jurang sampai sepanjang lorong, kamar berisi makanan, sampai ujung lorong yang dihuni burung-burung walet...