Pendekar Pedang Kayu Harum

Pendekar Pedang Kayu Harum
pkh 09 part 7


__ADS_3

Makin hebat latihannya, makin kuat tenaga sinkang si murid, makin kebal dan kuat tangan besinya. Kekuatan tangan besi inilah yang dijadikan ukuran tingkat.


Tingkat pertama tentu saja diduduki oleh ketuanya yang bernama Ouw Beng Kok, sedang tingkat kedua diduduki oleh Kiam-to Lai Ban. Kini, kedua orang sute yang menghampiri pohon di mana duduk kakek bongkok, dan yang menerima tugas untuk menyeret turun kakek itu, adalah orang-orang tinggi besar dan kuat sekali, apa lagi karena mereka telah menduduki tingkat ke empat di Tiat-ciang-pang yang menandakan bahwa ilmu ‘tangan besi’ mereka sudah amat hebat.


"Orang tua bongkok, engkau sudah mendengar permintaan Ji-pangcu kami, harap lekas turun dan pergi dari sini karena kami merasa tidak enak sekali kalau harus menggunakan kekerasan terhadap seorang kakek tua seperti engkau," kata seorang di antara dua murid Tiat-ciang-pang tingkat empat itu.


"He-he-heh-heh, apakah sih artinya kekerasan? Kalian hendak menggunakan kekerasan seperti apa? Aku sejak tadi duduk di sini dan hanya tertawa bicara, hanya menggunakan kelemasan, duduk mengandalkan kelemasan kaki, bicara mengandalkan kelemasan lidah, akan tetapi kalian ini agaknya suka sekali akan barang yang serba keras. Agaknya, lebih baik lagi kalau Tiat-ciang (Tangan Besi) ditambah dengan Tiat-sim (Hati Besi)!"


"Kekerasan seperti inilah!" Seorang di antara mereka tiba-tiba menghantamkan tangan kanan dengan jari-jari terbuka ke arah bantang pohon itu.


"Kraaakkkkk...!"


Hebat bukan main hantaman tangan yang penuh berisi hawa Tiat-ciang-kang itu. Batang pohon yang besarnya sepelukan orang itu, sekali kena dihantam tangan besi itu, menjadi patah dan tumbang! Tentu saja tubuh kakek bongkok yang duduk di dahan pohon itu ikut pula terbawa roboh ke bawah!

__ADS_1


Akan tetapi saat dua orang tokoh Tiat-ciang-pang itu siap hendak menubruk dan menyeret kakek cerewet itu pergi, tiba-tiba hanya tampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu kakek bongkok itu sudah berjongkok lagi di atas dahan pohon lain sambil terkekeh-kekeh.


"He-he-he, itukah yang kalian sebut kekerasan? Bagiku, lebih tepat disebut pengrusakan! Pengrusakan ciptaan alam, sungguh besar dosanya!"


Karena merasa bahwa mereka diejek dan ditertawakan, dua orang tokoh Tiat-ciang-pang itu menjadi makin marah. Mereka berlari menghampiri pohon besar di mana kakek itu kini berjongkok di atas dahan, lalu mereka berdua secara berbareng memukul batang pohon yang amat besar itu.


Kembali terdengar suara yang lebih keras dari pada tadi dan batang pohon itu tumbang, membawa dahan-dahan dan daun-daun berikut tubuh si kakek bongkok. Seperti tadi pula, bagaikan seekor burung saja, kakek itu sudah meloncat seperti terbang melayang lantas ‘hinggap’ di atas pohon lainnya. Cara dia bergerak meloncat benar-benar mengagumkan sekali, selain cepat dan ringan, juga aneh gerakannya karena dalam meloncat, kakek ini mengembangkan dan menggerak-gerakkan kedua lengan seperti sayap burung!


Dua orang tokoh Tiat-ciang-pang makin penasaran sehingga mereka terus mengejar dan memukul tumbang semua pohon yang dijadikan tempat ‘mengungsi’ kakek itu sehingga hanya dalam waktu tak berapa lama, belasan batang pohon telah tumbang!


"Sute, tahan...!" Tiba-tiba Kim-to Lai Ban berseru.


Kedua orang sute-nya itu lalu mundur, akan tetapi muka mereka merah dan mata mereka melotot ke arah kakek bongkok yang kini masih duduk ongkang-ongkang di atas dahan sebuah pohon yang lain, agak jauh dari situ karena pohon-pohon yang berdekatan telah tumbang semua.

__ADS_1


"Asal kakek itu tidak mencampuri urusan secara langsung, biarkan saja dia menggoyang lidahnya, setidaknya dia sudah tahu bahwa Tiat-ciang-pang tak boleh dibuat main-main." Kemudian Lai Ban menghadapi Keng Hong dan berkata, "Orang muda, kau sudah melihat sendiri kehebatan pukulan Tiat-ciang-kang dari dua sute-ku. Aku tidak ingin menggunakan kekerasan terhadapmu. Apa bila kau menyerahkan diri tanpa perlawanan, kami pun akan membawamu ke hadapan pangcu tanpa kekerasan."


Semenjak tadi Keng Hong memandang kakek bongkok dengan penuh perhatian. Ia dapat menduga bahwa kakek itu bukanlah sembarang orang, akan tetapi yang paling menarik hatinya adalah bunyi kalimat yang merupakan kalimat pertama yang terukir pada pedang Siang-bhok-kiam. Ingin dia bertanya mengenai kalimat itu kepada si kakek bongkok, akan tetapi dia masih menghadapi urusan dengan orang-orang Tiat-ciang-pang ini, dan karena itu dia harus dapat membereskan urusan ini lebih dulu.


Tadi dia melihat kehebatan pukulan dua orang tokoh Tiat-ciang-pang itu dan dia maklum bahwa orang-orang ini benar-benar amat lihai dan memiliki pukulan maut yang amat kuat. Dalam hal ilmu silat tentu saja dia masih kalah jauh sekali, akan tetapi dalam hal sinkang, mereka itu tidak ada artinya baginya. Juga dia mempunyai kecepatan gerakan yang jauh melampaui mereka.


"Lai-pangcu, kedua orang sute-mu telah mendemonstrasikan kelihaian dan hal ini hendak kau gunakan untuk menundukkanku, apa bedanya itu dengan kekerasan? Tidak, Pangcu, karena aku tidak merasa bersalah, aku tetap tidak mau kau bawa pergi menghadap ketua kalian di Tiat-ciang-pang."


"Bocah, kau benar-benar keras kepala!" teriak seorang di antara dua orang sute Lai Ban yang tadi mengejar-ngejar si kakek bongkok. Mereka masih terlalu penasaran dan marah karena merasa dipermainkan oleh si bongkok, dan sekarang mereka seolah-olah hendak menimpakan kemarahan mereka kepada Keng Hong. "Ji-suheng, serahkan saja bocah ini kepada kami, tidak perlu kiranya Ji-suheng turun tangan sendiri!"


Kim-to Lai Ban adalah seorang cerdik. Apa bila tadi dia menyuruh kedua orang sute-nya untuk mundur adalah karena pandang matanya yang awas dapat menduga bahwa kakek bongkok itu bukanlah orang sembarangan. Kalau pemuda yang lihai ini saja belum dapat ditundukkan, sungguh tak menguntungkan jika menambah seorang lawan lagi yang belum dapat diukur sampai di mana kelihaiannya.


Kini, dia harus mengawasi gerak-gerik si bongkok yang dia duga tentu akan membantu Keng Hong, maka dia mengambil keputusan untuk ‘menyerahkan’ Keng Hong pada anak buahnya dan dia sendiri yang akan turun tangan kalau kakek bongkok itu mencampuri urusan ini. Anak buahnya ada puluhan orang, masa tidak akan mampu menangkap Keng Hong. Maka dia lalu mengganggukkan kepala dan berkata,

__ADS_1


"Baik, tangkaplah bocah sombong ini! "


Dua orang tokah Tiat-ciang-pang yang tinggi besar itu lalu bergerak dari kanan kiri Keng Hong sambil membentak keras, "Bocah, engkau ikutlah dengan kami!"


__ADS_2