
Tadinya dia memikirkan bagaimana Cui Im akan dapat keluar dari tempat itu tanpa bantuan pedang Siang-bhok-kiam sebagai kunci. Akan tetapi ternyata bahwa batu yang menutupi lubang itu pecah-pecah, agaknya tertimpa batu dari atas dan tentu ketika keluar dari tempat ini, Cui Im telah membongkar batu-batu itu.
Melihat banyaknya batu-batu itu, Keng Hong pun dapat membayangkan betapa sukarnya pekerjaan itu. Tentu makan waktu berhari-hari! Diam-diam ia tersenyum memikirkan betapa Cui Im dengan susah payah membongkar batu-batu yang menimbuni mulut terowongan, dan betapa pekerjaan susah payah itu tanpa disangka-sangka kini digunakan oleh Keng Hong yang dapat keluar tanpa bekerja sedikit pun!
Setelah keluar dari lubang dan berada di lereng batu pedang, Keng Hong menarik napas dalam. Angin gunung meniup mukanya dan ia memicingkan matanya dari sinar matahari. Hatinya terharu. Ia merasa seolah-olah hidup kembali!
Lima tahun lamanya dia berada di sebelah dalam batu pedang, seolah-olah telah terkubur di situ. Dan setahun lamanya dia merasa sudah terjebak tanpa ada jalan keluar. Kini dia telah berada di lereng batu pedang!
Keng Hong mengangkat sebuah batu besar, sebesar kerbau sehingga lubang itu tertutup oleh tumpukan batu-batu besar. Kemudian dia mulai merayap turun dengan hati penuh kegembiraan dan dengan semangat tinggi. Tugas penting terbentang luas di depannya.
Andai kata tidak ada Cui Im yang mengganggu, tentu kini dia telah membawa kitab-kitab dan pusaka-pusaka untuk dikembalikan kepada pemiliknya masing-masing. Akan tetapi, semua pusaka itu telah dirampas oleh Cui Im, maka tugas utama dan pertama baginya adalah mencari Cui Im untuk merampas kembali benda-benda itu. Nama besar suhu-nya tetap akan tercemar dan tetap akan dimusuhi dunia kang-ouw sebelum benda-benda itu dikembalikan kepada mereka yang berhak.
__ADS_1
Akan tetapi sebelum mencari Cui Im dia akan pergi lebih dahulu mengunjungi Kun-lun-pai untuk menyerahkan Thai-kek Sin-kun peninggalan pendiri Kun-lun-pai dan sekalian minta maaf atas segala kesalahannya yang lalu. Ia percaya bahwa pihak Kun-lun-pai, terutama sekali Kiang Tojin, akan dapat memaafkannya, dan andai kata tidak, dia pun tidak gentar karena dia percaya bahwa dengan tingkat kepandaiannya yang sekarang, dia akan dapat dengan mudah menyelamatkan diri!
Dengan gembira Keng Hong lalu bersenandung, melagukan lagu ciptaannya ketika dia dahulu sering kali bermain suling sambil duduk di punggung kerbaunya, ketika dia masih menjadi kacung Kun-lun-pai.
Keng Hong mengira bahwa turunnya dari batu pedang tentu akan segera dihadang oleh orang-orang kang-ouw yang masih teringat akan semua pengalamannya lima tahun yang lalu. Memang, pengalaman-pengalaman yang paling pahit adalah kenang-kenangan yang paling mengesankan! Ia mereka-reka dan merenungkan bagaimana dia akan menghadapi mereka yang pernah mengejar-ngejarnya lima tahun yang lalu.
Sesudah dia mengalami hal-hal yang pahit dengan Cui Im, kini dia dapat melihat bahwa dibandingkan dengan Cui Im, tokoh-tokoh kang-ouw itu tidaklah begitu jahat dan tamak. Cui Im tega melakukan hal-hal keji hanya semata-mata terdorong oleh nafsunya yang sangat besar. Ada pun para tokoh kang-ouw itu mengejar-ngejarnya dengan mempunyai dasar yang tentu saja mereka itu masing-masing menganggapnya benar.
Akan tetapi ketika dia sampai di bawah batu pedang, keadaan di sana sunyi saja, tidak tampak seorang pun manusia. Bahkan ketika dia meneliti dari tempat tinggi ini, melihat ke bawah ke sekililing puncak, tidak ada tampak bayangan manusia, sunyi sekali keadaan di situ. Ah, mungkin kini Kun-lun-pai telah melakukan penjagaan ketat dan melarang semua orang asing mendatangi wilayah Kun-lun!
Ia menuruni puncak Kiam-kok-san, kemudian mendaki ke puncak tertinggi Kun-lun-san di mana markas Kun-lun-pai berada. Di sepanjang jalan sunyi saja, tidak ada pula nampak tosu-tosu Kun-lun-pai melakukan penjagaan.
__ADS_1
Tiba-tiba dia melihat segunduk tanah seperti kuburan orang, akan tetapi tidak ada batu nisannya dan sebagai gantinya terdapat sebongkah batu kasar yang ada tulisannya, diukir kasar, buruk dan berbunyi: DI SINI THIAN TI HWESIO MATI DI TANGAN ANG-KIAM BU-TEK.
Ia terkejut. Thian Ti Hwesio adalah seorang di antara tokoh Siauw-lim-pai yang kitabnya dahulu dicuri Sin-jiu Kiam-ong. Hwesio itu lihai sekali, merupakan hwesio tingkat dua dari Siauw-lim-pai. Siapakah Ang-kiam Bu-tek (Pedang Merah Tanpa Tanding) itu?
Tiba-tiba saja jantung Keng Hong berdebar, mukanya panas saking marahnya ketika dia teringat dan menduga keras bahwa Ang-kiam Bu-tek itu tentulah Ang-kiam Tok-sian-li Bhe Cui Im! Siapa lagi jika bukan dia? Untuk dapat membunuh orang seperti Thian Ti Hwesio haruslah mempunyai ilmu kepandaian tinggi dan dia tahu bahwa tingkat Cui Im sekarang amatlah hebat.
Dan julukan itu! Ang-kiam (Pedang Merah) adalah pedang gadis itu, dan agaknya dia kini membuang julukan Tok-sian-li (Dewi Racun) dan menggantinya menjadi Bu-tek (Tanpa Tanding). Memang dalam tingkatnya sekarang ini, Cui Im tidak memerlukan lagi bantuan racun untuk menghadapi lawan. Setiap pukulannya dengan sendirinya sudah merupakan tangan beracun yang amat ampuh, karena gadis itu telah mencampur adukkan ilmu yang dipelajarinya dari kitab-kitab peninggalan gurunya dengan ilmu yang pernah diterimanya dari Lam-hai Sin-ni, tentu saja ilmu silat golongan sesat.
"Cui Im, aku akan menghajarmu jika benar-benar engkau yang melakukan pembunuhan itu!" gerutunya di dalam hati.
Ia berjalan terus dan di dalam hutan itu dia melihat sebatang pohon besar yang sebagian kulit batangnya terbuka dan pada kayu pohon yang putih itu terdapat pula ukiran-ukiran huruf yang buruk kasar: DI SINI KIU-BWE TOANIO DIKALAHKAN ANG-KIAM BU-TEK.
__ADS_1
Keng Hong menggeleng-gelengkan kepala. Tak salah lagi, semua ini tentu perbuatan Cui Im. Ukiran huruf-huruf itu demikian halus, yang hanya dapat dilakukan oleh seorang ahli pedang, ada pun bentuk huruf-huruf itu sendiri sangat buruk nya yang hanya menunjukkan tulisan seorang setengah buta huruf seperti Cui Im.