Pendekar Pedang Kayu Harum

Pendekar Pedang Kayu Harum
pkh 10 part 6


__ADS_3

Keng Hong tersenyum, "Tentu saja saya telah mengenal Totiang. Bukankah Totiang yang disebut Kok Cin Cu, tokoh termuda dari Kong-thong Ngo-Lojin?"


"Siancai...! Agaknya Sin-jiu Kiam-ong tidak menyimpan sesuatu rahasia terhadap murid tunggalnya. Bukankah engkau murid Sin-jiu Kiam-ong Sie Cun Hong?"


"Benar, Totiang. Saya Cia Keng Hong, murid dari suhu Sin-jiu Kiam-ong dan betul pula bahwa saya mendengar segala hal tentang Kong-thong-pai dari mendiang suhu."


"Hal apa saja kau dengar?"


"Bahwa Kong-thong-pai merupakan sebuah partai persilatan besar yang mengutamakan kebajikan berdasarkan kegagahan, keadilan dan kebenaran. Bahwa Kong-thong Ngo-lojin merupakan lima tokoh besar yang menjadi tulang punggung Kong-thong-pai dan bahwa suhu bersahabat baik dengan para pimpinan Kong-thong-pai," kata Keng Hong, sengaja menambah untuk mendinginkan suasana.


"Bersahabat baik apanya? Dia sudah membunuh lima orang murid Kong-thong-pai dan engkau masih mengatakan bersahabat baik? Apa bila dia bersahabat baik, tentu dia tidak akan begitu pelit untuk memberikan Siang-bhok-kiam kepada pinto sebagai tebusan atas kesalahannya terhadap pihak kami. Pinto hanya mengharapkan supaya engkau sebagai muridnya dapat melihat kekeliruan gurumu dan dapat menebus semua kesalahan supaya persahabatan akan terpelihara."


Keng Hong menghela napas panjang. Tak lain tak bukan, ke sana juga larinya. Alangkah tamaknya kaum kang-ouw ini di dalam mengejar ilmu. Mereka itu seakan-akan tidak ada puasnya dalam mencari ilmu-ilmu yang tinggi, seolah-olah berlomba agar menjadi jagoan nomor satu di dunia, lupa bahwa semua itu akan musnah dan habis digerogoti waktu dan usia, akhirnya ditelan oleh kematian.


Bahkan kakek yang begini tua masih begitu tidak tahu diri untuk memperebutkan pusaka peninggalan suhu-nya. Apakah kakek ini masih mempunyai waktu untuk mempelajari dan kemudian mempunyai kesempatan pula untuk mempergunakan ilmu yang dipelajarinya?

__ADS_1


Sungguh manusia-manusia merupakan badut-badut yang tidak lucu, malah menjemukan, selalu menjadi hamba dari pada nafsu dan ketamakan. Ada yang tamak dalam mengejar kedudukan tinggi, mengejar nama besar, mengejar kemuliaan duniawi, mengejar wanita, atau seperti orang-orang kang-ouw ini, mengejar ilmu supaya menjadi orang yang paling hebat di dunia ini!


Benar gurunya! Gurunya tidak mengejar, melainkan menerima segala sesuatu sebagai suatu berkah, suatu nikmat hidup, suatu kesenangan! Gurunya yang melakukan segala sesuatu demi kesenangan hidup, tidak menyia-nyiakan hidupnya untuk mengejar sesuatu.


Tentu saja Keng Hong tidak tahu keadaan gurunya seperti itu pun adalah sebagai akibat dari pada suatu sebab, yaitu sebab patah hati oleh cinta kasih yang ternoda. Dia masih terlalu muda, masih belum berpengalaman untuk bisa meneropong sepak terjang gurunya yang dianggapnya sebagai pengganti orang tua, yang merupakan satu-satunya manusia di permukaan bumi yang dianggapnya paling baik.


"Maaf, Totiang. Menurut cerita guru saya, bentrokan yang terjadi antara suhu dan anak murid Kong-thong-pai adalah bentrokan di antara orang-orang ada yang sedang bermain judi, artinya merupakan bentrokan pribadi yang tidak ada sangkut-pautnya dengan partai Kong-thong-pai. Kalah dan menang dalam perkelahian sudah wajar, terluka atau mati juga hanya merupakan resiko-resiko dalam sebuah pertandingan. Kebetulan saja murid-murid Kong-thong-pai yang kalah dan tewas. Bagaimana kalau suhu yang ketika itu kalah dan tewas? Saya rasa urusan seperti itu saja tidak perlu diperpanjang, apa lagi kedua pihak, baik lima orang murid Kong-thong-pai yang kalah mau pun suhu yang menang, semuanya telah meninggal dunia. Saya menganggap bahwa urusan itu sudah selesai!"


"Aha, kulihat engkau seorang muda yang berpandangan luas. Tentu engkau akan dapat mengerti pula akan kesediaan pinto menghapus semua luka lama dengan sebuah tangan murid Sin-jiu Kiam-ong yang akan memenuhi permintaan pinto."


Tosu itu tersenyum dan mengangguk, "Engkau seorang muda yang gagah dan cerdik, tentu maklum apa yang kami kehendaki."


"Tentu Totiang sendiri juga sudah tahu jelas bahwa Siang-bhok-kiam telah saya serahkan kepada Kun-lun-pai."


Tosu tua itu meraba-raba jenggotnya yang panjang. "Tentu saja pinto tahu. Akan tetapi pinto juga tahu bahwa pihak Kun-lun-pai sudah kena dibohongi, sudah terkena tipuanmu. Ahh! engkau benar-benar menuruni sifat Sin-jiu Kiam-ong yang nakal, orang muda. Masa para pimpinan Kun-lun-pai sampai kena kau bohongi, kau beri sebuah pedang kayu yang palsu. Ha-ha-ha! Sungguh amat lucu sekali."

__ADS_1


Keng Hong terkejut. "Ahh, jadi... mereka sudah tahu...?"


"Sudah, rahasiamu telah terbuka dan kini engkau berada dalam bahaya maut yang hebat. Maka mengingat persahabatan pinto dengan gurumu, sebaiknya lekas engkau serahkan pedang itu atau memberitahukan tempat pedang itu kepada pinto, dan pinto serta semua pimpinan Kong-thong-pai akan melindungimu. Percayalah bahwa Kong-thong Ngo-Iojin masih memiliki cukup wibawa untuk melindungi murid Sin-jiu-kiam-ong."


Keng Hong segera maklum bahwa kini dia sudah menambah ancaman baru bagi dirinya, menambah musuh baru yang hebat bukan main, yaitu pihak Kun-lun-pai! Ternyata pihak Kun-lun-pai telah mengetahui akan kepalsuan pedang yang dia berikan pada Kiang Tojin!


Akan tetapi, untuk menyerahkan diri berlindung kepada Kong-tong-pai, dia tidak sudi. Dia sudah berbuat, dan dia sendiri pula yang harus bertanggung jawab, demikian ajaran yang dia terima dari gurunya. Bukan sengaja dia hendak menipu Kun-lun-pai, tapi adalah pihak Kun-lun-pai sendiri yang tidak benar, yang telah memaksa minta pedang Siang-bhok-kiam darinya.


"Terima kasih atas atas kebaikan Totiang akan tetapi saya tidak bisa memberikan pedang itu kepada Totiang, karena pedang itu telah lenyap dan saya sendiri tidak tahu berada di mana."


Wajah tosu itu menjadi merah. "Bohong kau!"


"Terserah penilaian Totiang, akan tetapi yang jelas, saya tidak dapat memberikan pedang itu kepada pun juga."


"Cia Keng Hong, bocah masih ingusan seperti engkau ini berani menentang pinto?"

__ADS_1


"Totiang, agaknya menurut kenyataannya, baik mendiang suhu mau pun saya sendiri tak pernah menentang siapa-siapa, tidak menentang Totiang dan juga tak pernah memusuhi Kong-thong-pai. Adalah Totiang sendiri bersama para tokoh kang ouw yang dahulu selalu mendesak-desak suhu dan kini setelah suhu meninggal dunia lalu mendesak-desak saya. Memang soal kebenaran tidak bisa diperebutkan, Totiang, oleh karena setiap orang selalu melihat kebenaran dari sudut demi kepentingan pribadinya. Yang penting adalah buktinya. Sekarang kita bertemu di jalan, apa bila kita masing-masing jalan sendiri, bukankah tidak akan timbul pertentangan? Saya hendak membuktikan bahwa saya tak menentang siapa pun, yaitu saya hendak mengambil jalan sendiri, tidak mengganggu Totiang sama sekali. Hendak saya lihat, siapakah di antara kita yang mencari pertentangan." Setelah berkata demikian, Keng Hong langsung melangkah pergi dan hendak melewati orang-orang yang menghadangnya itu dengan jalan memutar.


__ADS_2