
Keng Hong menjadi geli hatinya dan di luar kesadarannya sendiri, dia membiarkan semua perbuatan Cui Im. Dia teringat akan gurunya, teringat akan nasehat gurunya, dan timbul watak petualang yang memang terdapat di dalam sudut hati setiap orang manusia, yang membuat dia ingin mengalami segala macam hal.
Keng Hong tidak menolak segala keinginan Cui Im, dan membiarkan diri sendiri menjadi murid yang melayani segala kehendak Cui Im yang sedang diamuk oleh nafsu birahi yang dirangsang oleh hawa racunnya sendiri.
Cui Im sama sekali tak mengira bahwa akan menjadi begini urusannya. Bukan hanya dia sendiri menjadi korban racunnya, bahkan tanpa diketahui olehnya atau oleh Keng Hong sendiri, di dalam hubungan mereka itu pun timbul pula daya sedot mukjijat dalam tubuh Keng Hong sehingga setelah lewat malam itu, Cui Im terkulai bagaikan orang kehabisan tenaga, setengah pingsan di atas rumput.
Ada pun Keng Hong yang telah membereskan pakaiannya sendiri, enak-enak saja duduk nongkrong di bawah pohon dan membesarkan api unggun. Hanya wajahnya yang tampak kemerahan dan segar, serta pandang matanya berbeda dari kemarin karena kini pandang matanya menjadi ‘masak’. Mulai lewat tengah malam tadi Keng Hong telah berubah dari kanak-kanak menjadi seorang laki-laki dewasa. Agaknya benar seperti diramalkan Thian Seng Cinjin ketua Kun-lun-pai bahwa bocah ini akan lebih hebat dari Sin-jiu Kiam-ong!
"Keng Hong...!" Suara itu terdengar lemah namun penuh rayuan, penuh cinta kasih, dan keluar dari mulut Cui Im yang menggeliat seperti seekor kucing kekenyangan. Kemudian dia bergidik, merasa betapa dinginnya hawa pagi dan agaknya baru disadarinya bahwa ia bertelanjang.
Dengan malas Cui Im menyambar pakaiannya, mengenakan sejadinya, kemudian secara tiba-tiba dia meloncat dengan pakaian kusut dan rambut masih terurai lepas, meloncat ke dekat Keng Hong yang masih enak-enak membesarkan api unggun.
"Keng Hong! Kau... kau... ah, lekas, kau telan pil pemunah racun itu...! Ahh, sudah pagi... celaka, terlambat sudah... aduh, Keng Hong, Keng Hong kekasihku...!" Cui Im menangis tersedu-sedu dan merangkul leher Keng Hong.
"Kau ini kenapa sih?" Keng Hong bertanya tak acuh.
"Kenapa? Kau masih enak-enakan saja? Racun itu... engkau berada di ambang maut dan obat pemunah tidak ada gunanya lagi. Kau akan mati, Keng Hong!"
Pemuda itu menoleh dan tampak olehnya betapa wajah itu tidaklah sejelita malam tadi! Ia kini tidak tertarik oleh kecantikan Cui Im, bahkan merasa tidak senang. Padahal wajah itu masih sama, dan mengertilah dia akan keterangan suhu-nya mengenai perbedaan antara cinta sejati dan cinta nafsu.
__ADS_1
Cinta sejati tidak mengenal cantik atau tidak, juga tidak mengenal bosan karena cintanya mendalam dan ada kontak serta getaran antara jiwa dan batin kedua pihak. Sebaliknya, cinta nafsu hanyalah cinta yang timbul karena dorongan nafsu, karena kecantikan yang amat dangkal, hanya setebal kulit sehingga cinta nafsu ini sekali terpuaskan akan menjadi bosan.
"Aku tidak akan mati."
"Apa? Dan racun itu...? Racun ganas sekali!"
"Sudah kutumpahkan kembali. Aku tidak akan mati oleh racunmu, Cui Im."
Gadis itu terbelalak dan hatinya tidak senang melihat sikap Keng Hong yang begitu dingin, seolah-olah lenyap cinta kasihnya padanya. Padahal baru saja, selama setengah malam penuh, mereka bercinta kasih tak mengenal batas.
Ia menggelung rambutnya, memandang dengan kagum. Pemuda ini hebat! Hebat segala-galanya, pikirnya. Diracuni tidak mati, dan dari pengalamannya semalam harus dia akui pula bahwa belum pernah selamanya ia bertemu dengan seorang pria seperti Keng Hong ini. Dia segera menghampiri dan merangkul pundak Keng Hong.
"Tidak! Kau pergilah, Cui Im. Agaknya sudah cukup aku mengalah terus dan menuruti semua perintahmu. Aku tidak menyesal karena terus terang saja, aku senang kepadamu. Akan tetapi jangan harap untuk dapat membujuk atau memaksa aku agar mencari pusaka guruku karena selain aku tidak tahu tempatnya, juga aku tidak mau. Pergilah!"
"Ihhh...! Keparat!" Cui Im meloncat tinggi melepaskan pelukannya dan dia jatuh berdebuk di atas tanah. "Heeeee...? Ke... kenapa...?"
Gadis itu terbelalak matanya dan terheran-heran, juga menjadi gelisah sekali. Mengapa dia seolah-olah kehilangan tenaga sinkang-nya? Meloncat begitu saja ia terbanting roboh! Akan tetapi kemarahannya membuat dia melupakan keadaan yang aneh ini dan dia telah bangkit berdiri, lalu memaki.
"Kau laki-laki tak berbudi! Kau laki-laki pemikat! Sesudah menikmati tubuhku, kau lantas mengusir aku pergi begitu saja!"
__ADS_1
"Ingat, bukan aku yang memikat, melainkan kau sendiri. Pergilah!"
"Jahanam!" Cui Im melompat maju dan mengirim pukulan ke arah punggung Keng Hong.
"Bukkk! Aiiihhh...!"
Keng Hong masih duduk enak-enak, nongkrong di depan api unggun, sebaliknya tubuh Cui Im terlempar ke belakang dan gadis itu mengelus-elus tangan kanannya yang dipakai memukul tadi, matanya terbelalak. Dalam pukulannya tadi dia merasa betapa tangannya mendadak lemah sekali, sebaliknya punggung pemuda itu bagaikan dilindungi hawa yang amat kuat.
"Aku... aku… kenapa...?" Kembali Cui Im berseru heran, hatinya penuh kengerian. "Keng Hong... kau apakan aku...?"
Keng Hong bangkit berdiri dan membalikkan tubuh untuk menghadapi gadis itu. "Cui Im, kau tahu aku tidak melakukan apa-apa. Semenjak kemarin, justru engkaulah yang selalu menggangguku."
"Aku... tenaga sinkang-ku... kosong dan kering... tenagaku amat lemah..."
Keng Hong juga tidak mengerti kenapa, dan dia tak peduli sebab merasa bukan dia yang menyebabkan gadis itu demikian. Keng Hong tidak tahu, seperti dulu saat di Kun-lun-san dia juga tidak sadar bahwa dia sudah menyedot tenaga Kiang Tojin dan para tosu lain, semalam pun tanpa disadarinya, sebagian besar sinkang di tubuh Cui Im telah berpindah ke dalam dirinya.
Keanehan yang terjadi dalam tubuh Keng Hong adalah bahwa setiap kali dia menghadapi serangan sinkang yang kuat, secara otomatis tenaga sedotan itu bekerja tanpa disengaja dan tanpa dapat dia dicegah. Karena sinkang dari Cui Im tidaklah sekuat sinkang-sinkang Tojin dan tosu-tosu lainnya, maka Keng Hong tak terlalu merasakan perbedaannya, tidak seperti ketika berada di Kun-lun-san itu. Sekarang dia hanya merasa tubuhnya segar dan sehat, sama sekali tidak merasa lelah.
Sementara itu, Cui Im juga telah menekan keguncangan hatinya. Ia coba menghilangkan kebingungannya dengan menganggap bahwa sebagian besar sinkang-nya lenyap karena pengaruh hawa beracun, yaitu racun perangsang yang entah bagaimana telah berpindah ke dalam dadanya ketika dia mencium mulut Keng Hong semalam.
__ADS_1