Pendekar Pedang Kayu Harum

Pendekar Pedang Kayu Harum
pkh 10 part 7


__ADS_3

"Mau atau tidak, engkau harus ikut bersama kami ke Kong-thong-pai! Di sana, di hadapan Kong-thong Ngo-lojin, baru kau boleh bicara untuk membela diri" kata Kok Cin Cu sambil melangkah dan menghadang Keng Hong.


Pemuda itu menjadi penasaran dan marah sekali. Di antara banyak watak gurunya, salah satu watak yang diwarisinya adalah watak tidak takut menghadapi apa pun asal merasa benar. Ia maklum akan kelihaian kakek ini, maklum dari penuturan gurunya bahwa kelima orang Kong-thong Ngo-lojin mempunyai ilmu pukulan Ang-liong Jiauw-kang (Cengkeraman Kuku Naga Merah) dan sangatlah ampuhnya, mengandung tenaga panas melebihi api membara dan merupakan kesaktian yang amat sukar dikalahkan.


Dia pun pernah mendengar pula bahwa selain Ang-liong Jiauw-kang, kelima orang kakek itu mempunyai senjata keistimewaan sendiri-sendiri dan Kok Cin Cu ini memiliki senjata sabuk baja yang dipergunakan sebagai pecut. Akan tetapi melihat betapa kakek ini amat mendesak dan memaksanya, timbul sifat keras kepalanya sehingga ia menjawab dengan tegas,


"Sebaliknya, Totiang. Dengan cara apa pun juga, saya tidak mau ikut ke Kong-thong-pai karena tidak mempunyai urusan dengan siapa pun juga di sana!"


"Bagus, engkau berani menentang pinto, ya?"


"Saya bukan menentang orangnya, melainkan perbuatan dan sikapnya yang tidak benar yang saya tentang!"


"Bocah sombong! Kau kira pinto tidak akan dapat menangkapmu?" Tosu tua itu menjadi marah.


Dia bukan seorang pemarah, di depan murid-murid dan keponakan-keponakan muridnya, ia selalu didesak omongan oleh pemuda ini, tentu saja ia menjadi malu dan menganggap Keng Hong tidak memandang mata kepadanya. Dia telah berlaku sungkan dan mengajak pemuda itu ke Kong-thong-pai hingga keputusan yang akan dijatuhkan terhadap pemuda ini bukan keputusan dia sendiri, melainkan keputusan kelima orang Kong-thong Ngo-Lojin. Hal ini saja sudah dia lakukan secara banyak mengalah terhadap seorang pemuda.

__ADS_1


Sekarang, ditambah oleh bantahan-bantahan Keng Hong, benar-benar membuat kakek ini kehilangan kesabaran dan lupa diri. Ia sudah melangkah maju dan cepat mencengkeram untuk menangkap pundak Keng Hong dengan tangan kanan, ada pun tangan kirinya telah melolos sabuk baja dari pinggangnya.


Keng Hong menjadi marah dan tidak mau diam saja. Dia lalu mengerahkan sinkang dari pusarnya, kemudian mengangkat tangan kiri menagkis cengkeraman itu.


"Plakkk!"


Tangan Kok Cin Cu tertangkis secara hebat, akan tetapi kakek ini bukan main lihainya. Cengkeraman pada pundak yang ditangkis itu cepat berbalik menjadi cengkeraman pada pergelangan tangan Keng Hong dan gerakannya amat cepat dan kuat sehingga sebelum Keng Hong tahu apa yang terjadi, tahu-tahu pergelangan tangan kanannya sudah kena dicengkeram oleh lima buah jari tangan yang panas dan kuat sekali.


"Hayaaaaaaa...! Teriakan ini keluar dari mulut Kok Cin Cu ketika kakek ini merasa betapa tenaga singkang yang terkandung di dalam tangan kanannya membanjir keluar memasuki pergelangan tangan pemuda itu.


Totokan itu mengenai jalan darah dengan tepat sekali sehingga seketika tangan kiri Keng Hong menjadi lumpuh, dan otomatis tangan Kok Cin Cu yang mencengkeram dan telah melekat tadi dapat direnggutnya terlepas. Kok Cin Cu cepat melompat ke belakang sambil berseru,


"Bocah keji! Engkau benar-banar memiliki ilmu iblis Thi-khi I-beng itu?" Kakek ini dia-diam merasa kagum dan juga iri hati sekali.


Ilmu yang sudah ratusan tahun dikabarkan lenyap itu, yang tentu saja sangat diinginkan oleh semua tokoh kang-ouw, dan bahkan Lam-hai Sin-ni sendiri, tokoh datuk hitam yang paling lihai hanya mengerti sedikit saja tentang ilmu ini, kini dimiliki oleh bocah yang masih hijau! Ia lalu menggerakkan sabuk baja itu yang meledak-ledak di udara seperti sebatang cambuk dan segera berubahlah cambuk itu menjadi sinar melingkar-lingkar laksana naga beterbangan di atas kepala Keng Hong!

__ADS_1


Keng Hong menjadi pening kepalanya memandang sinar hitam melingkar-lingkar ini, akan tetapi dia tidak menjadi gentar dan sambil melengking keras tubuhnya sudah meloncat. Akan tetapi tubuhnya yang meloncat itu bertemu dengan ujung sabuk baja di udara. Ujung sabuk yang lemas itu tahu-tahu telah mengait lehernya.


Keng Hong yang tercekik itu kaget dan marah sekali, tetapi sabuk itu sudah ditarik dengan gentakan keras sehingga tanpa dapat dicegah lagi tubuhnya terpelanting dan bergulingan di atas tanah. Ia meloncat bangun, mendengar suara ketawa dan ternyata sepuluh orang murid Kong-thong-pai itu sedang mentertawakannya. Kemarahannya makin menjadi dan cepat Keng Hong sudah membalikkan tubuh menghadapi kakek itu lagi.


Kok Cin Cu merasa tidak enak sendiri harus menghadapi seorang lawan muda dengan senjata di tangan. Akan tetapi dia pun maklum betapa bahayanya apa bila dia bertangan kosong saja, mengingat pemuda itu memiliki ilu Thi-khi I-beng. Dia tentu saja tidak tahu bahwa sesungguhnya dalam hal ilmu silat, kepandaian Keng Hong masih dangkal sekali. Bahkan dalam hal itu pukulan, dia hanya mengenal ilmu pukulan sakti San-in Kun-hoat di samping ilmu Pedang Siang-bhok Kiam-sut yang hanya dapat dimainkan dengan pedang kayu itu!


Kakek itu mengira bahwa pemuda yang sudah memiliki Thi-khi I-beng tentu memiliki pula ilmu-ilmu silat yang sangat tinggi. Dan dia tidak berniat merobohkan pemuda ini dengan membunuhnya, melainkan hendak menangkapnya yang tentu saja lebih sukar dari pada kalau membunuhnya.


"Totiang, engkau jahat!" Keng Hong berseru dan kini dia menerjang maju sambil mainkan jurus ke tiga Ilmu Silat San-in Kun-hoat.


Jurus ini disebut Siang-in Twi-san (Sepaang Mega Mendorong Gunung), dilakukan dengan pukulan mendorong ke arah lawan mempergunakan sepasang lengan yang dilonjorkan sambil melompat maju. Untuk melakukan serangan ini, Keng Hong menggunakan sinkang sehingga angin pukulannya dari jauh sudah menyambar ke arah dada Kok Cin Cu.


Tokoh Kong-thong-pai ini sendiri adalah seorang ahli Iweekeh, seorang yang mahir sekali mempergunakan sinkang untuk memainkan Ilmu Ang-liong Jiauw-kang, juga sinkang-nya sudah kuat sekali. Akan tetapi, pada saat angin pukulan dari sepasang tangan pemuda itu mendorongnya dan dia merasa betapa tenaga itu sangat dahsyat, yang kalau dia lawan agaknya dia tidak akan kuat, dia menjadi terkejut bukan main.


Cepat dia melempar tubuh ke belakang dan segera berjungkir balik ke samping, kemudian pecutnya disabetkan ke depan mengarah tubuh Keng Hong yang masih meloncat datang. Ujung cabuk ini melibat kedua kaki Keng Hong sehingga pemuda itu terpelanting keras ke atas tanah. Kembali dia terjatuh dan terguling-guling, juga kembali dia mendengar suara ketawa anak murid Kong-thong-pai yang baginya lebih menyakitkan dari pada bantingan itu sendri.

__ADS_1


Keng Hong melompat bangun lagi. Bajunya sudah robek di bagian siku dan pundak, akan tetapi dia tidak peduli akan keadaan dirinya, bahkan tidak peduli terhadap rasa nyeri pada pinggul dan pahanya pada waktu terbanting tadi. Kemarahannya membuat dia tidak mau mengeluarkan suara, melainkan siap untuk menyerang lagi.


__ADS_2