
Melihat sikap pemuda ini yang agaknya nekat dan sama sekali tidak mengenal takut, Kok Cin Cu menjadi makin tidak enak. "Orang muda, lebih baik engkau menyerah saja. Pinto hanya ingin mengajakmu ke Kong-thong-pai, apa sukarnya bagimu? Mengapa kau harus menantang pinto? Pinto sungguh tak ingin menghina orang muda, tak ingin menyakitimu."
"Tosu palsu, tak perlu banyak bicara manis lagi karena bicara manis itu menyembunyikan kepahitan yang memuakkan. Engkau menghendaki Siang-bhok-kiam dan aku tidak ingin memberikan. Mau bunuh atau mau apakan aku, terserah, aku tidak takut!" jawab Keng Hong.
"Ahh, bocah keras kepala, kau memang perlu dihajar!" bentak Kok Cin Cu yang sudah benar-benar tidak berdaya untuk membujuk.
Sabuk bajanya menyambar dan meledak-ledak ke atas kepala Keng Hong, lalu meluncur ke bawah mencambuk ke arah leher pemuda itu. Keng Hong cepat mengelak, akan tetapi cabuk itu seolah-olah mempunyai mata, karena begitu juga mengejar dan dengan suara keras cambuk itu telah menghantam pangkal bahunya.
"Tarrr..!"
Untung Keng Hong cepat sekali mengerahkan lweekang-nya sehingga ujung cabuk itu mental kembali dan hanya berhasil menggigit robek baju di bagian bahunya. Betapa pun juga, kulit bahu terasa pedas dan panas.
Ada pun Kok Cin Cu yang melihat betapa kulit bahu itu tidak lecet sedikit pun, diam-diam merasa semakin kagum dan harus memuji pemuda ini yang betul-betul telah mempunyai tenaga sinkang yang amat hebat. Diam-diam dia harus mengakui pula bahwa jika pemuda itu mempunyai ilmu silat yang tinggi dan terlatih, kiranya sukarlah baginya untuk dapat menandingi pemuda ini.
Untung baginya, pemuda ini agaknya hanya mewarisi sinkang yang amat dahsyat, namun belum mewarisi ilmu silat Sin-jiu Kiam-ong yang tinggi. Biar pun gerakan serangannya tadi luar bisa anehnya dan dahsyatnya, namun gerakannya masih kaku, tanda bahwa pemuda ini kurang terlatih dalam ilmu silat.
"Tarr…! Tarrr…!! Tarrrrrrrrr…!!!"
Cambuk itu melecut-lecut dengan ganasnya, menghujani tubuh Keng Hong dari segala jurusan dan datangnya dari jarak jauh sehingga pemuda itu tidak ada kesempatan untuk balas menyerang. Memang benar bahwa dengan sinkang-nya Keng Hong dapat menolak lecutan tiba, akan tetapi cambuk itu terus melecut tubuhnya sehingga mulailah darahnya mengalir keluar dari kulit paha dan kulit punggung yang ikut robek bersama pakaiannya.
Melihat darahnya sendiri serta merasa betapa nyeri punggung dan pahanya, Keng Hong bukannya menjadi jeri bahkan menjadi makin marah. Ia kini berusaha menerima lecutan cambuk dengan kedua tangannya dan setelah kedua lengannya penuh luka oleh ujung cabuk, akhirnya dia berhasil menangkap ujung cambuk dengan tangan kanannya.
Keng Hong mengerahkan tenaga membetot untuk merampas, Kok Cin Cu mengerahkan tenaganya untuk menahan dengan susah payah. Untung bagi Tosu ini bahwa Keng Hong memegang ujung cambuk baja yang kecil, licin dan keras, berbeda dengan tosu itu yang memegang gagangnya yang tentu saja lebih enak sehingga sampai beberapa lama Keng Hong belum juga berhasil merampasnya.
__ADS_1
Sementara itu anak murid Kong-thong-pai mulai mengurung dengan senjata di tangan dan sudah siap menghujankan senjata pada tubuh Keng Hong. Pemuda ini terancam bahaya, terutama sekali dari Kok Cin Cu yang mulai menggerakkan tangan kirinya dengan Ilmu Ang-liong Jiauw-kang sehingga perlahan-lahan tangan kirinya itu berubah merah sekali, tanda bahwa tenaga Ang-liong Jiauw-kang telah terkumpul. Sekarang tosu itu siap dengan tangan kirinya dan agaknya begitu Keng Hong dapat menang dalam perebutan cambuk, tentu dia akan mengirim pukulan mautnya.
"Suhu, biar teecu serampang kakinya dengan tombak teecu!" seru salah seorang di antara murid-murid Kok Cin Cu.
"Biar teecu tusuk dari belakang," kata yang lain.
Teriakan-teriakan mereka itu dibarengi dengan pengurungan yang makin ketat dan tangan mereka sudah mulai bergerak-gerak penuh semangat karena begitu ada komando dari guru mereka, tentu mereka itu akan berlomba untuk menyerang Keng Hong.
"Jangan… turun tangan...," terdengar Kok Cin Cu berkata lirih.
Cepat kakek ini mengerahkan tenaga lagi karena begitu dia bicara sedikit saja, cambuk terbetot dan hampir dapat terampas oleh Keng Hong.
Pemuda ini pun agak berkurang kemarahannya, bahkan kalau tadi ia bernafsu membunuh kakek ini, sekarang nafsunya hilang dan dia sadar bahwa betapa pun juga, kakek ini tidak seperti tokoh kang-ouw lainnya yang haus akan pusaka simpanan gurunya. Kakek ini masih mengenal sifat gagah, buktinya dia melarang murid-muridnya turun tangan padahal kalau saja hal itu terjadi, sudah jelas bahwa kakek itu tentu akan dapat mengalahkannya, menangkapnya atau pun membunuhnya.
Pada saat itu nampaklah bayangan putih berkelebat dan Sie Biauw Eng sudah meloncat dengan gerakan ringan. Ketika tangannya bergerak, terlihat sebuah sinar putih melayang ke depan dan ujungnya menyambar ke arah mata Kok Cin Cu!
"Hayaaa...!" Tosu itu berseru kaget melihat menyambarnya sabuk sutera putih yang amat cepat seperti ular hidup ini.
Terpaksa dia pun melepaskan cambuknya sehingga cambuk itu tertinggal di tangan Keng Hong, kemudian dengan gerakan cepat kakek itu meraih ke arah ujung sabuk sutera putih dengan cengkeraman tangan kirinya untuk merampas senjata wanita berbaju putih ini. Sie Biauw Eng sudah menyendal kembali sabuk suteranya karena niatnya tadi hanya hendak menolong Keng Hong dari pada bahaya.
Akan tetapi Kok Cin Cu tidak mengerti akan niat wanita cantik jelita yang baru datang ini. Melihat gerakan sabuk sutera putih tadi, Kok Cin Cu yang juga seorang ahli memainkan senjata lemas, maklum bahwa wanita muda ini merupakan seorang lawan lihai yang sama sekali tidak boleh di pandang ringan, maka dia pikir bahwa sebelum dikeroyok dua orang muda lihai ini, lebih baik turun tangan dulu membunuh Keng Hong, baru menghadapi wanita itu.
Pikiran inilah yang membuat Kok Cin Cu tiba-tiba meloncat ke depan menubruk ke arah Keng Hong dan mengirim serangan dengan kedua tangannya mencengkeram ke arah kepala dengan Ilmu Ang-liong Jiauw-kang yang luar biasa dahsyatnya!
__ADS_1
"Keng Hong... awas...!" Sie Biauw Eng menjerit ngeri menyaksikan dahsyatnya serangan tokoh Kong-thong-pai ini dan dari tangannya meluncur sinar putih.
Keng Hong juga maklum akan kelihaian Ang-liong Jiauw-kang, maka dia pun cepat-cepat mengerahkan sinkang-nya. Akan tetapi karena dia tak ingin membunuh kakek ini, dia pun menggunakan tenaga sinkang-nya untuk mendorong agar tubuh kakek itu terpental. Kini dia tidak marah kepada kakek itu, maka otomatis tenaga sedot yang mukjijat di tubuhnya pun tidak bekerja!
"Dessss...!"
Dua tenaga raksasa yang tidak tampak bertemu di udara. Tubuh Keng Hong tergetar dan bergoyang-goyang, kepalanya pening dan matanya berkunang-kunang. Akan tetapi Kok Cin Cu mengeluarkan keluhan tertahan, tubuhnya terbanting ke belakang dan kakek itu pun roboh tak berkutik lagi!
"Kau... perempuan keji…!"
Keng Hong menoleh ke arah Biauw Eng karena dia dapat melihat jelas betapa ujung sabuk sutera Biauw Eng tadi menotok ke arah jalan darah di belakang kepala tosu itu, sebuah totokan maut yang tak mungkin dapat dielakkan oleh tosu yang sedang mengadu tenaga dahsyat dengan dia tadi. Gerakan sabuk sutera di tangan Biauw Eng sedemikian cepatnya sehingga hanya dia yang bisa melihatnya sedangkan sisa murid Kong-thong-pai tidak ada yang mengetahuinya, menyangka bahwa guru mereka itu tewas di tangan Keng Hong.
Biauw Eng memandang heran. "Keng Hong ..., aku hanya membantumu...!"
"Perempuan rendah! Perempuan tak tahu malu! Siapa membutuhkan bantuanmu? Pergi, muak perutku melihatmu!"
"Kau...! Kau...!"
Biauw Eng terisak dan mukanya pucat sekali, kemudian gadis itu membalikkan tubuhnya lantas berkelebat cepat melarikan diri dari tempat itu dengan meninggalkan isak tertahan. Keng Hong menghela napas panjang, memandang ke arah mayat Kok Cin Cu dan mayat empat orang murid Kong-thong-pai, kemudian dia berkata, suaranya berat.
"Heh, kalian murid-murid Kong-thong-pai, semua ini salahku. Aku sudah membunuh Kok Cin Cu totiang dan empat orang saudara kalian. Nah, tangkaplah aku, belenggu tanganku. Bawa aku ke Kong-thong-pai menghadap para pimpinan kalian agar aku dapat menerima hukumannya secara adil."
Empat orang laki-laki gagah serta dua wanita cantik itu sejenak memandang kepadanya dengan perasaan jeri, benci, marah dan juga heran. Kemudian mereka meloncat maju dan menelikung kedua tangan Keng Hong ke belakang. Salah seorang di antara mereka mempergunakan cambuk baja milik Kok Cin Cu untuk mengikat kedua lengan pemuda itu ke belakang, kemudian mereka menggiring Keng Hong sambil membawa lima jenazah itu...
__ADS_1