Pendekar Pedang Kayu Harum

Pendekar Pedang Kayu Harum
pkh 04 part 7


__ADS_3

Ia kini menjadi tenang kembali dan tidak menggunakan sinkang, tidak mengerahkan hawa dari pusar, melainkan mencabut pedang merahnya lalu menodong dan mengancam.


"Keng Hong, sungguh pun racun itu tidak dapat membunuhmu, pedangku ini masih dapat mengirim nyawamu ke neraka kalau kau menolak permintaanku!"


Keng Hong memandang ujung pedang yang menodong dadanya, lalu ia menghela napas panjang. "Sayang sekali, Cui Im. Engkau seorang gadis cantik jelita dan berkepandaian tinggi, akan tetapi semua itu tak ada artinya kalau hatimu sekotor ini. Kulihat sinkang-mu sudah sangat lemah, kalau aku mempergunakan tenaga mana mungkin pedangmu dapat mengusikku? Akan tetapi aku tidak akan mempergunakan tenaga, dan biarlah kujadikan engkau sebagai penguji karena selama turun gunung aku belum pernah menggunakan kiam-sut yang kupelajari dari suhu."


Cui Im membuat gerakan menusukkan pedangnya. Akan tetapi dengan tangan miring, jari-jari tangan Keng Hong yang disaluri tenaga sakti yang hebat itu dapat menangkis dan mengibas sehingga pedang merah itu hampir terlepas dari pegangan tangan Cui Im.


Keng Hong lalu membungkuk dan memunggut sebatang ranting kayu, sisa yang dijadikan umpan api unggun malam tadi, kemudian dia sudah siap dengan ranting ini di tangannya, memasang kuda-kuda Ilmu Pedang Siang-bhok Kiam-sut. Tentu saja ilmu pedang ini baru sempurna kalau dimainkan dengan pedang Siang-bhok-kiam, akan tetapi karena pedang itu tidak ada, ranting ini pun cukup baik, lebih baik dari pada dia menggunakan pedang logam karena sifat kayu ini dan ringannya agak cocok dengan Pedang Kayu Harum.


"Nah, marilah kita berlatih ilmu pedang," katanya.


Ranting dilonjorkan lurus ke atas seperti menuding langit, kemudian perlahan-lahan turun ke bawah melingkari lehernya sendiri terus turun dan ditudingkan ke atas tanah. Ini adalah kuda-kuda atau gerakan pembukaan Siang-bhok Kiam-sut. Dengan dua kakinya tegak di kanan kiri, tangan kirinya mengikuti gerakan pedang membentuk lingkaran di depan dada yang berhenti di depan ulu hati dalam keadaan miring seperti orang menyembah dengan satu tangan.

__ADS_1


Cui Im maklum akan kelihaian pemuda ini dalam tenaga sinkang yang dapat menyedot tenaga lawan. Dia sendiri telah menyaksikan betapa Keng Hong merobohkan Kiang Tojin yang lihai bersama beberapa orang tosu Kun-lun-pai yang lain, maka dia merasa ngeri dan jeri untuk beradu kekuatan sinkang.


Akan tetapi ia pun telah melihat gerak-gerik Keng Hong yang masih kaku dalam ilmu silat. Karena itu dia pikir bahwa kalau bermain pedang, apa lagi pemuda itu hanya bersenjata ranting, pasti ia akan menang. Dia sudah menggunakan racun, sudah pula menggunakan rayuan bahkan menyerahkan raganya, namun semua itu tidak berhasil menundukkan hati Keng Hong. Jalan satu-satunya hanya membunuhnya!


Berpikir demikian, Cui Im lalu berteriak keras kemudian menerjang maju dengan dahsyat sekali, mengirim jurus serangan mematikan. Harus diakui bahwa tingkat ilmu kepandaian Cui Im sudah sangat tinggi, apa lagi ilmu pedangnya, karena merupakan murid terkasih dari Lam-hai Sin-ni, datuk nomor satu dari si empat besar Bu-tek Su-kwi. Selain memiliki ginkang yang luar biasa cepatnya, sungguh pun sekarang tidak dapat digunakan karena sinkang-nya sebagian besar telah ‘pindah’ ke tubuh Keng Hong, dia juga mempunyai ilmu pedang yang amat ganas.


Keng Hong bersikap hati-hati sekali. Tadi ia sudah menyaksikan kelihaian gadis ini dalam bermain pedang ketika melawan Kiu-bwe Toanio, maka sekarang ia cepat menggerakkan rantingnya, digetarkan ujungnya lantas menangkis dengan jurus-jurus ilmu silat pedang Siang-bhok Kiam-sut.


Begitu pedangnya bertemu dengan ujung ranting yang bergetar, pedangnya ikut tergetar dan getaran itu terus menjalar ke tangan dan lengannya, membuat lengannya kesemutan dan hampir saja dia terpaksa melepaskan pedangnya kalau tidak cepat-cepat ia memutar pergelangan tangannya dan melangkah mundur.


Keng Hong tidak mengejar atau mendesak lawannya, dia hanya berdiri siap menghadapi serangan gadis itu. Sikapnya tenang dan timbul kepercayaan pada diri sendiri. Mungkin di dalam hal ilmu silat dia kalah pandai, akan tetapi ilmu pedangnya Siang-bhok Kiam-sut merupakan ciptaan gurunya, dan dalam kekuatan sinkang dia menang jauh. Asal dia bisa menjaga diri jangan sampai termakan pedang, dia tidak akan kalah.


"Kau... kau laki-laki keji!" Cui Im berteriak gemas lalu tubuhnya kembali menerjang maju mengirim tusukan dan bacokan bertubi-tubi.

__ADS_1


Hebat sekali gerakan pedang gadis ini, perubahannya juga sangat sukar diduga sehingga pandang mata Keng Hong berkunang-kunang dan silau dibuatnya. Sinar pedang merah itu bergulung-gulung dan membentuk lingkaran-lingkaran panjang dan luas seperti seekor naga hendak membelit tubuhnya.


Terpaksa Keng Hong menyalurkan sinkang pada rantingnya dan memutar-mutar ranting itu melindungi tubuhnya. Hawa sinkang yang disalurkan itu hebat sekali sehingga pedang yang ujungnya berubah menjadi puluhan banyaknya saking cepat dan tak terduga-duga gerakannya itu selalu tertumbuk dan mental kembali, kalau tidak tertangkis ranting tentu membalik oleh hawa pukulan yang amat dahsyat.


Akan tetapi, meski pun serangan Cui Im gagal semua, Keng Hong juga sama sekali tidak ada kesempatan untuk membalasnya. Hal ini adalah karena latihannya belum sempurna sama sekali, gerakannya masih amat kaku dan pedang Siang-bhok-kiam tidak berada di tangannya. Kalau ilmu pedang Siang-bhok Kiam-sut sudah dilatih baik dan pada saat itu dia memegang pedang pusaka itu, kirannya dalam beberapa jurus saja Cui Im yang lihai itu tentu tidak mampu bertahan terhadapnya!


Makin lama Cui Im makin marah. Dari mulut gadis ini keluar lengking panjang yang amat nyaring dan dengan nekat dia memutar pedang lebih cepat lagi. Namun, makin cepat dia menggerakkan pedang, juga makin banyak dia menambah tenaga, dan dia semakin lelah pula sehingga setiap kali terbentur ranting pedangnya segera membalik dan seperti akan menyerang tubuhnya sendiri.


Hal ini membuat Cui Im penasaran dan gemas sekali. Dia memekik keras, lalu mencabut keluar sehelai sapu tangan merah dan menggunakan sapu tangan itu sebagai penyeling serangan pedangnya, mengebutkannya ke arah Keng Hong.


Keng Hong maklum akan bahayanya sapu tangan merah yang berbau harum ini. Teringat ia akan hawa racun yang tercampur pada arak. Menghadapi minuman, dia masih dapat bertahan karena lima tahun dia setiap hari diberi minuman racun. Akan tetapi terhadap racun yang berupa asap atau uap benar-benar amat berbahaya.


Melihat berkelebatnya sapu tangan merah yang wangi. Keng Hong cepat menghindarkan diri dengan menggeser kaki ke kiri dan memukulkan rantingnya pada sapu tangan itu.

__ADS_1


__ADS_2