Pendekar Pedang Kayu Harum

Pendekar Pedang Kayu Harum
pkh 09 part 8


__ADS_3

Mereka mencengkeram ke arah pundak Keng Hong dari samping kanan dan kiri dengan niat menangkap dan sekaligus membuat pemuda itu tidak berdaya dalam cengkeraman tangan besi mereka.


Keng Hong dapat merasakan sambaran angin pukulan tangan mereka yang sangat kuat dan mantep. Dia tidak takut menghadapi cengkeraman itu karena kalau dia mengerahkan sinkang ke arah sepasang pundaknya, kulit pundaknya akan menjadi kebal dan agaknya tidak perlu takut menghadapi cengkeraman mereka.


Akan tetapi setidaknya bajunya tentu akan menjadi robek-robek dan dia tak menghendaki ini. Pula, dia pun harus memperlihatkan kelihaiannya, maka cepat dia mengangkat kedua tangan ke kanan kiri, mengerahkan tenaga dan menangkis dengan tolakan dari samping mengadu pergelangan kedua tangannya dengan lengan kedua orang lawannya.


"Plak! Plak!"


Dua orang tokoh Tiat-ciang-pang itu berteriak kaget dan tubuh mereka lantas terdorong ke belakang. Lengan mereka yang tertangkis terasa nyeri dan panas sekali. Hanya dengan pengerahan tenaga saja mereka dapat mencegah tubuh mereka terguling, dan sekarang mereka memandang dengan kemarahan berkobar, sejenak mengelus pergelangan tangan yang terasa senut-senut.


Orang-orang Tiat-ciang-pang menjadi marah sekali dan tanpa menanti komando, mereka sudah menerjang maju dengan senjata di tangan mengeroyok Keng Hong. Hal ini bukan hanya menunjukkan bahwa orang-orang Tiat-ciang-pang suka main keroyok, melainkan karena mereka telah terlatih dalam perang melawan pasukan-pasukan kerajaan sehingga mereka memiliki jiwa setia kawan yang tebal dan setiap melihat seorang kawannya, apa lagi pimpinan, terdesak atau terpukul, tanpa dikomando mereka lalu maju menerjang.


Hal ini menimbulkan rasa marah di hati Keng Hong. Tadinya dia tidak marah, hanya ingin berpegang kepada kebenaran menurut faham dan pendapatnya sendiri dalam urusannya dengan orang-orang Tiat-ciang-pang, karena itu dia pun tidak berniat untuk menurunkan tangan maut. Akan tetapi, sekarang melihat betapa puluhan orang itu bergerak seperti semut menggeroyoknya, dia menjadi marah dan membentak keras.

__ADS_1


"Kalian manusia-manusia curang tak tahu malu!"


Dan tubuhnya langsung menerjang ke depan. Sambil mengerahkan tenaga pada kedua lengannya, Keng Hong menangkis, mencengkeram dan memukul. Karena pengeroyoknya hanyalah para anggota Tiat-ciang-pang tingkat rendahan, maka berturut-turut robohlah enam orang yang mengeroyok dari sebelah depan!


Tiba-tiba angin pukulan yang amat dahsyat menghantam dari arah belakang, dari kanan kiri menuju ke punggung Keng Hong. Pemuda ini terkejut karena angin pukulan ini hebat bukan main. Dia maklum bahwa kedua orang tokoh Tiat-ciang-pang tukang merobohkan pohon tadi telah menyerangnya dari belakang, menggunakan kesempatan selagi dia sibuk menghadapi pengeroyokan banyak orang dari depan. Kemarahan Keng Hong memuncak dan dia mengeluarkan suara pekik melengking sambil mengerahkan sinkang ke tubuh bagian belakang.


"Bukk...! Bukk...!" Dua kepalan tangan yang amat kuat telah menghantam punggung Keng Hong di kanan kiri.


Akan tetapi pada waktu itu, Keng Hong yang sedang marah sekali sudah mengerahkan tenaganya dan tenaga mukjijatnya segera timbul di luar kehendaknya sehingga begitu dua kepalan itu menyentuh tubuhnya, maka dua kepalan itu melekat pada punggungnya dan tak dapat dilepaskan pula.


Cepat mereka menggunakan tangan kiri mereka, mengirim pukulan dengan pengerahan tenaga sepenuhnya, dan kini mereka memukul ke kanan kiri lambung. Pukulan ini adalah pukulan maut, karena selain yang memukul adalah kepalan-kepalan tangan yang penuh dengan hawa sakti Tiat-ciang-kang, juga yang dipukul adalah sisi lambung yang biasanya merupakan tempat yang lemah.


Akan tetapi, justru bagian tubuh Keng Hong yang dekat pusar merupakan bagian-bagian yang paling ‘peka’ dan aktif sekali bila tenaga mukjijat yang menyedot itu sedang bekerja. Maka, begitu dua pukulan itu menyentuh lambung, kontan saja tersedot dan melekat!

__ADS_1


Dua orang tokoh Tiat-ciang-pang itu kini menjadi seperti dua ekor lintah yang melekat, tak dapat terlepas pula dan tenaga sinkang mereka terus menerobos keluar melalui sepasang tangan mereka memasuki tubuh Keng Hong yang gerakan-gerakannya menjadi semakin lamban akan tetapi menjadi makin hebat tenaga sinkang-nya.


Dia hanya melangkah perlahan-lahan ke depan, kedua lengannya bergerak perlahan pula, namun kedua tangannya itu mengeluarkan angin bersuitan dan setiap orang pengeroyok yang terdorong oleh angin pukulan ini tentu roboh terjengkang! Hal ini tidaklah aneh kalau dipikir bahwa pada saat itu tenaganya yang memang telah amat kuat, kemudian ditambah lagi oleh tenaga Tiat-ciang-kang dari kedua orang yang menempel yang di tubuhnya dari belakang itu!


"Pemuda iblis!!" Kim-to Lai Ban menjadi marah sekali. 'Lepaskan dua orang sute-ku!" Dia marah dan juga ngeri menyaksikan betapa dua orang sute-nya itu kini telah bergantung pada tubuh Keng Hong dengan lemas, wajah mereka pucat separti mayat.


Sebetulnya hal ini adalah kesalahan dua orang itu sendiri. Tenaga mukjijat yang bergerak di seluruh tubuh Keng Hong adalah tenaga yang hanya mengenal dan menyedot tenaga sinkang dari luar. Andai kata seorang manusia biasa yang tidak pernah berlatih sehingga tenaga sakti dalam tubuh mereka tidak bangkit, membuat mereka itu hanya bertenaga biasa dari otot-otot saja, maka tenaga mukjijat di tubuh Keng Hong takkan dapat berbuat apa-apa, dan orang yang tidak ber-sinkang itu tidak akan dapat terlekat dan tersedot.


Demikian pula bagi mereka yang memiliki tenaga sakti seperti dua orang Tiat-ciang-pang itu, andai kata mereka tidak mempergunakan tenaga sinkang, tentu mereka akan terlepas dengan sendirinya dari tubuh Keng Hong. Tadi mereka memukul dengan tangan kanan, disusul dengan tangan kiri, mempergunakan Tiat-ciang-kang, pukulan yang sepenuhnya didasari tenaga sinkang, tentu saja mereka segera terlekat dan tersedot.


Setelah demikian, mereka meronta-ronta dan mengerahkan tenaga pula untuk berusaha melepaskan diri. Tentu saja usaha pengerahan tenaga ini menjadi ‘makanan empuk’ bagi tenaga mukjijat di tubuh Keng Hong yang bekerja sehingga makin hebat mereka berusaha untuk melepaskan diri makin hebat pula mereka tersedot dan melekat terus!


"Aku... aku tidak bisa melepaskan mereka...!" kata Keng Hong gugup.

__ADS_1


Peristiwa seperti ini terulang kembali namun selalu dia menjadi gugup. Apa lagi sekarang bukan hanya dua orang itu yang melekat dan tersedot sinkang-nya, juga ada dua orang lain yang tadinya berusaha membantu kawan mereka, kini turut menempel dan tersedot sinkang-nya.


__ADS_2