
Para tosu geger menyaksikan hal ini, terutama sekali enam orang pimpinan Kun-lun-pai menjadi pucat mukanya. Mereka maklum bahwa pemuda itu kini telah menjadi orang yang lihai sekali dan amatlah berbahaya bagi Sian Ti Tojin dan Lian Ci Tojin kalau tidak segera dibinasakan.
"Kejar! Kepung! Bunuh!" Sian Ti Tojin berseru keras sehingga semua tosu yang mentaati perintahnya sudah mengepung tempat itu dan siap untuk meloncat naik ke atas genteng mengeroyok Keng Hong.
"Heh, para tosu Kun-lun-pai, dengarlah baik-baik!" Keng Hong berteriak.
Oleh karena pemuda ini mempergunakan tenaga khikang, maka suaranya menggetarkan jantung semua tosu, termasuk juga tokoh-tokohnya hingga mereka terkejut sekali, bahkan beberapa orang anak murid Kun-lun-pai yang sinkang-nya masih belum kuat benar, dua kaki mereka langsung menjadi lemas dan mereka pun roboh terguling begitu mendengar suara Keng Hong yang mengandung getaran khikang yang amat kuatnya itu.
"Menurut aturan sesungguhnya Kiang Tojin yang patut menjadi ketua Kun-lun-pai, selain beliau adalah murid tertua mendiang Thian Seng Cinjin, juga memiliki tingkat kepandaian paling tinggi dan mempunyai pula sifat-sifat yang berdisiplin, bijaksana, berpemandangan luas. Akan tetapi kedudukan ketua telah dirampas oleh Sian Ti Tojin secara curang, yaitu menggunakan bantuan seorang iblis betina golongan sesat. Jika kalian mau insyaf, demi menjaga nama besar Kun-lun-pai, bebaskan Kiang Tojin dan angkat beliau sebagai ketua! Aku tak ingin mencampuri urusan Kun-lun-pai, hanya memberi nasehat mengingat bahwa aku pernah hidup di sini. Sekarang, aku ingin berjumpa dan bicara dengan Kiang Tojin!"
Dari atas genteng Keng Hong dapat melihat jelas betapa pada wajah sebagian besar para tosu Kun-lun-pai tampak keraguan dan bahkan persetujuan dengan anjurannya itu, maka berisiklah keadaan di bawah itu karena para tosu saling berbisik-bisik.
"Diam semua! Siapa hendak memberontak akan kubunuh dengan tongkatku ini!" Sian Ti Tojin membentak dan diamlah para tosu itu. "Hayo kalian membantu pinto menangkap dan membunuh pengacau Kun-lun-pai itu!"
Para tosu kembali menjadi berisik sekali. Seperti rombongan semut diganggu, mereka itu bersiap untuk mengeroyok Keng Hong.
"Tahan semua...!" Tiba-tiba terdengar nyaring dan sesosok tubuh berkelebat naik ke atas genteng. Tahu-tahu Kiang Tojin telah berdiri di depan Keng Hong!
"Cia Keng Hong, engkau pengacau terbesar di dunia! Mau apa engkau hendak berjumpa dengan pinto? Masih ada muka untuk bicara dengan pinto? Bicara apa lagi?" Kiang Tojin membentak Keng Hong dengan sikap kereng dan mata memancarkan kemarahan.
Keng Hong memandang tosu penolongnya itu dan hatinya terharu. Pakaian tosu ini kumal dan robek-robek, rambutnya kusut, wajahnya amat pucat dan tubuhnya kurus sekali. Dua lengannya diborgol pada pergelangan tangan. Yang masih tetap kelihatan bersemangat, bahkan kini lebih tajam sinarnya, adalah sepasang mata kakek ini.
__ADS_1
Keng Hong cepat menjura dengan penuh hormat dan menjawab. "Totiang, mohon maaf atas kelancangan saya. Akan tetapi saya mendengar bahwa Totiang dicurangi, bahkan dihukum dan saya datang dengan maksud membantu…"
"Pinto tidak membutuhkan bantuanmu, Keng Hong. Dan tentang urusan kedudukan ketua Kun-lun-pai, tongkat ketua telah di tangan sute-ku Sian Ti Tojin, hal ini juga urusan dalam Kun-lun-pai. Engkau tidak berhak..."
"Kalau saya tidak berhak mencampuri, mengapa Ang-kiam Bu-tek boleh mencampurinya dan membantu mereka yang merampas kedudukan Totiang?"
Tiba-tiba saja sepasang mata itu menjadi makin bersinar marah. "Perempuan itu! Tidak menyebutnya masih tidak mengapa, akan tetapi setelah engkau menyebutnya, betapa... tidak punya malu engkau, Cia Keng Hong!"
"Ehh, apakah maksud Totiang?"
Tosu tua itu memandang Keng Hong dengan kepala dikedikkan ke belakang, matanya memandang setengah terkatup dan cuping hidungnya bergetar. "Cia Keng Hong, engkau menolak permintaan banyak tokoh kang-ouw gagah perkasa yang menginginkan pusaka peninggalan Sin-jiu Kiam-ong. Andai kata engkau mengkhianati gurumu dan menyerahkan pusaka itu kepada para tokoh kang-ouw yang akan mempergunakan untuk perjuangan membela kebenaran dan keadilan, itu sih masih tidak mengapa. Akan tetapi engkau telah menyerahkan pusaka gurumu kepada seorang wanita seperti murid Lam-hai Sin-ni! Cia Keng Hong, kemana larinya kesadaran dan kebijaksanaanmu?"
####
"Cia Keng Hong, tutup mulutmu dan jangan mencampuri urusan Kun-lun-pai. Pinto sudah dikalahkan, tongkat ketua juga sudah dirampas, mau berkata apa lagi? Biarlah, ini adalah urusan pribadi pinto sendiri!"
"Begitu pula urusan peninggalan harta pusaka suhu adalah urusan pribadi saya, Totiang. Tidak perlu ada orang lain memusingkannya. Sekarang, saya pun tidak mau mencampuri urusan Totiang dengan Kun-lun-pai, akan tetapi saya hendak menyampaikan pesan Thai Kek Couwsu kepada Totiang."
"Iiiihhhh...!!!" Terdengar seruan-seruan kaget dari para tosu di bawah genteng.
"Keng Hong, apa yang kau katakan ini? Keng Hong, bocah yang sejak dulu pinto anggap sebagai putera sendiri, ahhh, benarkah engkau begini kejam, selain selalu mendatangkan rasa kecewa, kini malah berani menggunakan nama Couwsu untuk main-main di hadapan pinto?" Kiang Tojin memandang dengan muka sedih dan suara gemetar.
__ADS_1
Keng Hong terharu sekali dan cepat menjatuhkan diri berlutut. "Tidak, Totiang, saya mana berani mempermainkan Totiang yang saya junjung tinggi dan yang tak akan pernah saya lupakan budi Totiang yang amat besar terhadap saya? Saya sudah menemukan rangka Thai Kek Couwsu, bahkan saya telah menyempurnakannya dengan membakar rangkanya dan menyebarkan abunya di atas lereng batu pedang."
"Siancai… siancai… siancai...!" Terdengar Kiang Tojin bersama para tosu berdoa sambil menundukkan kepala.
"Cia Keng Hong, untuk kesekian kalinya pinto percaya dengan segala keteranganmu ini. Kini bangkitlah dan katakanlah apa yang kau maksudkan dengan menyampaikan pesan Couwsu kami kepada pinto tadi."
Keng Hong bangkit berdiri dan mengeluarkan kitab kuno peninggalan Thai Kek Couwsu, dipegangnya dengan suara lantang. "Saya mendapatkan kitab pusaka peninggalan Thai Kek Couwsu ini di atas meja dekat rangka Thai Kek Couwsu dan karena di situ terdapat pesan supaya kitab pusaka ini diserahkan kepada calon ketua yang baik dari Kun-lun-pai, maka saya anggap bahwa Kiang Tojin seoranglah yang berhak menerimanya!"
"Bocah jahat, berani engkau mengacau Kun-lun-pai? Serahkan kitab itu kepada pinto!" teriak Sian Ti Tojin.
Tubuh ketua baru Kun-lun-pai ini meloncat naik ke atas genteng dengan cepat sekali dan berada di atas kepala Keng Hong, kemudian tubuh itu membalik dan menukik membuat salto, tongkatnya ke bawah dan meluncur dalam penyerangannya, menusuk ubun-ubun Keng Hong, sedangkan tangan kirinya meraih ke depan merampas kitab.
Melihat betapa sute-nya menggunakan jurus maut dengan ilmu tongkatnya ini, Kiang Tojin berseru terkejut, "Sute..!"
"Aha, Sian Ti Tojin, masa sebagai ketua Kun-lun-pai, jurusmu Hek-liong Lo-hai hanyalah seperti ini? Jauh kurang sempurna…!" Keng Hong berkata cepat pada saat menyaksikan gerakan serangan ketua Kun-lun-pai itu.
Ia tidak mengelak, malah merendahkan tubuhnya sampai berjongkok dan menanti sampai tongkat itu dekat di atas ubun-ubunnya. Baru dia cepat-cepat memiringkan pundak dan kepala, secepat kilat tangan kirinya menyambar ujung tongkat, dibetot terus ke bawah lalu dikempit sedangkan kaki kanannya secara tiba-tiba menendang perut Sian Ti Tojin!
Kakek ini terkejut. Mempertahankan tongkatnya berarti perutnya akan tertendang dan dia mengenal jurus yang lihai ini, dan tahu pula bahwa pemuda ini mempunyai sinkang yang luar biasa sekali. Menurut peraturan, tongkat pegangan ketua yang merupakan ‘tongkat komando’ sama harganya dengan nyawa si ketua, sama sekali tidak boleh terampas oleh lawan. Tentu saja Sian Ti tojin sebagai ketua baru Kun-lun-pai, juga amat sayang kepada tongkatnya itu.
Akan tetapi saat menghadapi bahaya maut, ternyata tosu ini lebih sayang nyawanya dari pada tongkatnya. Hal ini terbukti ketika dia melepaskan tongkatnya untuk menyelamatkan diri dengan melompat ke belakang. Akan tetapi gerakannya kurang cepat dan ujung kaki Keng Hong masih saja menendang paha Sian Ti Tojin hingga kakek ini berteriak nyaring dan tubuhnya terlempar ke bawah genteng. Untung kepandaiannya cukup tinggi sehingga dia dapat berjungkir balik dan tidak sampai terbanting...
__ADS_1