
"Baik, Suhu!" jawab dua orang tosu itu yang segera pergi meninggalkan tempat itu dengan langkah lebar.
Kiang Tojin hanya memandang dengan hati prihatin karena dia sendiri pun tidak mengerti mengapa Keng Hong sampai berani melakukan penipuan seperti itu. Kalau begitu pedang Siang-bhok-kiam tentu masih dipegang oleh anak itu, dan entah disembunyikan di mana. Karena kalau pedang itu dibawa-bawa, dia merasa yakin bahwa pedang itu tentu sudah dirampas tokoh kang-ouw yang sakti.
Akan tetapi seperti telah dilakukan para tokoh kang-ouw yang semua datang menyerbu ke Kun-lun-pai, hal ini menandakan bahwa mereka juga tidak berhasil mendapatkan Siang-bhok-kiam dari Keng Hong.
Kiang Tojin mengerti bahwa suhu-nya sangat marah dan kecewa padanya, maka dia diam saja, maklum bahwa sekali ini dia memang salah, perhitungannya meleset dalam menilai diri Keng Hong.
Karena hatinya merasa kesal, Kiang Tojin lalu berkata lantang kepada para tamu yang tak dikehendaki itu,
"Cu-wi sekalian membuktikan dengan mata sendiri betapa kami pihak Kun-lun-pai sendiri telah tertipu juga, bahwa di sini sekarang sudah tidak ada apa-apa lagi yang menyangkut warisan Sin-jiu Kiam-ong. Harap Cu-wi meninggalkan tempat ini karena di antara kita sudah tidak ada urusan apa-apa lagi!"
Sambil tertawa-tawa, Bu-tek Sam-kwi berkelebat pergi, diikuti pula para tokoh kang-ouw yang pergi mengambil jalan masing-masing, tetapi dapat dimengerti bahwa isi hati mereka tak banyak berbeda, yaitu selain kecewa, juga masing-masing tentu mengambil ketetapan hati untuk mencari Cia Keng Hong, satu-satunya orang yang menjadi kunci rahasia dan dapat membawa mereka kembali menuju ke simpanan pusaka warisan Sin-jiu Kiam-ong.
__ADS_1
Juga kedua pasukan dari utara dan selatan itu cepat pergi kembali ke asal masing-masing tanpa bertanding. Hal ini memang lucu karena dalam keadaan biasa, dua pasukan yang bermusuhan itu tentunya akan berperang mati-matian. Agaknya karena mereka bertemu dengan tokoh-tokoh yang sakti itu, hati mereka menjadi kuncup, takut kalau orang-orang sakti itu menjadi marah dan membantu salah satu pihak apa bila mereka mengadakan perang di tempat itu.
...********************...
Seperti telah diceritakan di bagian depan, perang saudara yang terjadi antara utara dan selatan itu adalah akibat perebutan mahkota setelah kaisar Thaicu meninggal dunia pada tahun 1398. Ketika itu, putera sulung kaisar Thaicu sudah terlebih dahulu meninggal dunia dan oleh karena itu, maka sebelum dia meninggal, kaisar Thaicu sudah mewariskan tahta kerajaan kepada cucunya, anak dari putera sulung itu, yang bernama Hui Ti.
Di bawah perlindungan dan dukungan para pembesar yang mempergunakan kesempatan untuk mengangkat diri sendiri mencapai kedudukan tinggi dan berenang dalam kemuliaan duniawi, setahun sesudah kaisar Thaicu meninggal, Hui Ti naik tahta dan menjadi Kaisar Kerajaan Beng.
Menurut pendapatnya, tidaklah adil kalau mahkota diwariskan kepada keponakannya itu, dan dia yang sudah banyak berjasa kepada kerajaan, dia sebagai putera ke dua, merasa lebih berhak mewarisi mahkota. Demikianlah, Raja Muda Yung Lo yang berkedudukan di Peking ini lalu membawa bala tentara dan menyerbu ke Nanking hingga timbullah perang saudara memperebutkan tahta Kerajaan Beng-tiauw.
Telah menjadi kenyataan dalam catatan sejarah bahwa setiap kali terjadi perang, apa lagi perang saudara sesama bangsa, maka rakyatlah yang menderita. Yang memperebutkan kekuasaan demi kemuliaan diri sendiri hanyalah beberapa gelintir orang besar, akan tetapi yang dijadikan makanan golok dan pedang adalah prajurit-prajurit, anak rayat jelata.
Perang dapat mendatangkan akibat yang lebih buruk lagi, yaitu kekacauan dan kejahatan merajalela, mempergunakan kesempatan selagi pemerintah mencurahkan kekuatan untuk berperang, di mana penjagaan keamanan untuk rakyat menjadi kosong sehingga terjadilah perampokan-perampokan, pembakaran dusun-dusun, penculikan dan pemerkosaan yang semena-mena.
__ADS_1
Tidak jarang pula terjadi pasukan-pasukan yang selalu hidup berhadapan dengan maut, yang oleh perang digembleng supaya menjadi manusia-manusia haus darah yang selalu menderita karena tekanan-tekanan batin, karena tekanan-tekanan lahir, berubah menjadi manusia-manusia yang lebih ganas dibandingkan para penjahat. Dengan dalih ‘berpihak kepada musuh’ banyaklah rakyat jelata menjadi korban keganasan mereka, hanya karena mereka itu silau oleh harta dan silau oleh kecantikan wanita!
Keadaan yang kacau-balau di sepanjang jalan yang dilalui Keng Hong inilah sebenarnya yang bahkan menolong Keng Hong, membuat para tokoh kang-ouw termasuk dua orang tosu Kun-lun-pai kehilangan jejaknya.
Setahun lebih Keng Hong merantau, tujuannya adalah kembali ke Kun-lun-san karena dia telah mengambil keputusan untuk memperdalam ilmunya setelah merasakan pengalaman pahit yang dia derita. Ia harus segera memiliki ilmu kepandaian yang tinggi kalau dia tidak menghendaki gangguan-gangguan di masa depan. Akan tetapi, kekacauan yang terjadi di mana-mana membuat dia tersasar. Ada kalanya dia harus mengambil jalan memutar, ada kalanya harus kembali lagi kalau terhalang oleh perang yang dahsyat.
Pada suatu pagi dia memasuki dusun Ciang-cung yang terletak di kaki gunung Min-san, di lembah sungai Cia-liang. Oleh karena sungai Cia-liang ini mengalirkan airnya ke sungai Yang-ce-kiang yang merupakan jalan perhubungan yang terbaik dan tercepat menuju ke pedalaman, maka dusun Ciang-cung ini cukup ramai. Tanpa diketahuinya secara tepat, Keng Hong sudah makin dekat dengan Kun-lun-san yang berada di sebelah barat Gunung Min-san.
Semakin ke barat, semakin berkuranglah perang, karena bala tentara kedua pihak hanya memperebutkan daerah-daerah antara Peking dan Nanking. Biar pun demikian, wilayah barat ini tidak dapat dikatakan tenteram sama sekali, dan akibat perang saudara melanda juga daerah yang jauh dari pusat tempat perang itu sendiri. Di sini timbul kekacauan-kekacauan dan para penjahat merajalela, berpesta-pora seolah-olah segerombolan tikus yang berada di rumah kosong, ditinggal pergi oleh kucing-kucing yang mereka takuti.
Ketika Keng Hong memasuki dusun Ciang-cung di pagi hari itu, segera dia melihat akibat kekacauan yang melanda di mana-mana. Sepagi itu sudah ada orang berkelahi. Memang Keng Hong akhir-akhir ini sering kali melihat orang bertempur.
Seperti biasanya, dia hendak mengambil jalan lain agar tak terlibat dalam perkelahian itu. Terlalu banyak orang berkelahi bunuh-membunuh yang ditemuinya di mana-mana hingga dia menjadi muak dan bosan.
__ADS_1