Pendekar Pedang Kayu Harum

Pendekar Pedang Kayu Harum
pkh 15 part 6


__ADS_3

Siauw Lek mengikuti pandang mata wanita itu, menoleh ke arah laki-laki di atas ranjang lalu tersenyum. "Ahh, engkau takut kepada suamimu? Tidak usah takut, dia takkan dapat berbuat sesuatu kecuali menonton!"


"Tidak... lebih baik kau bunuh saja aku...!" Mendadak wanita itu menangis terisak-isak sambil mendekap tubuh anaknya. "Aku tidak bisa... aku tidak mau...!"


Sinar bengis dan marah membayangi wajah Siauw Lek. Haruskah dia mengalami dua kali kegagalan dalam semalam? Apakah dia kini sudah terlalu tua dan kurang pandai merayu sehingga dalam satu malam ada dua orang wanita yang menolak cintanya?


"Hemmm, haruskah kubunuh suamimu terlebih dahulu? Lihat, sekali tusuk suamimu akan mampus. Apakah engkau masih berani mengatakan tidak mau?"


Untuk menakut-nakuti, Siauw Lek sudah mencabut pedang hitamnya dan menodongkan pedang itu pada leher suami wanita itu yang segera terbelalak penuh kengerian. Wanita itu memandang dengan muka pucat, hatinya bimbang. Manakah yang harus dia pilih? Melihat suaminya dibunuh ataukah membiarkan dirinya diperkosa di depan pandang mata suaminya?


Ah, lebih baik mati, mati bersama suaminya. Ia tersedu menangis dan berkata. "Bunuhlah kami berdua... bunuhlah suamiku dan aku... aku tidak dapat menuruti kehendakmu... Aku tidak mau...!"


Kini wajah Siauw Lek menjadi merah. Kalau menurutkan nafsu kemarahan hatinya, ingin dia mengelebatkan pedangnya membunuh wanita itu, suaminya dan anaknya.


Akan tetapi dia tak mau gagal untuk kedua kalinya malam ini, dan wanita yang baru tiga empat bulan melahirkan dan masih menyusui anaknya, telah menyentuh perasaan hatinya yang keruh oleh nafsu birahi.


Tiba-tiba saja Siauw Lek tertawa dan ketika tangannya bergerak, tahu-tahu dia sudah merampas bayi yang berada di dalam pelukan ibunya tadi. Anak itu menjerit, akan tetapi kalah oleh jeritan ibunya yang amat kaget melihat anaknya dirampas.


"Anakku... kembalikan anakku!"


"Hemm, kau ingin anakmu hidup? Nah, pilihlah. Engkau layani cintaku dengan baik-baik dan manis atau... melihat perut anakmu kubelek dengan ujung pedang ini!"

__ADS_1


"Ouuuhhh... jangan... jangan...!" Wanita itu menjatuhkan diri berlutut dan merangkul kedua kaki Siauw Lek sambil meratap-ratap minta agar anaknya jangan dibunuh.


"Manis, engkau ingin agar anakmu hidup dan tidak kubunuh?" Siauw Lek bertanya penuh nada kemenangan dalam suaranya, sambil menunduk dan memandang wajah ayu yang sedang menengadah penuh permohonan itu.


"Ya... ya..., mohon kau ampuni kami, jangan bunuh anakku..."


"Hemm, mudah saja, aku takkan membunuh anakmu akan tetapi engkau harus menuruti segala kehendakku!" Sambil berkata demikian, Siauw Lek mengangkat tinggi-tinggi tubuh bayi itu dan membuat gerakan seakan hendak membantingnya ke lantai.


Wanita itu tersedak, menelan ludah seperti ada sesuatu mengganjal di kerongkongannya, dan akhirnya mengangguk-angguk dengan mata terbelalak memandang anaknya.


"Ya... ya... ya, apa saja perintahmu... Akan tetapi lepaskan anakku..."


Dan bagaikan tak sadar diri wanita itu bangkit berdiri, seakan-akan tidak merasa betapa tangan yang menariknya bangkit itu menggerayang serta meraba-raba tubuhnya, bahkan pada waktu tangan itu merangkul lehernya dan mulutnya yang masih setengah terisak itu dicium oleh bibir Siauw Lek dengan penuh nafsu, ia seperti tidak merasakannya, matanya masih terbelalak melirik ke arah anaknya yang diangkat tinggi oleh tangan kiri Siauw Lek. Baru setelah matanya mendapat kepastian bahwa anaknya tidak diapa-apakan, dia sadar betapa tubuhnya diremas-remas dan mulutnya dicium penuh nafsu sehingga dia tersedu dan meronta sedikit.


"Hemmm, kau melawan? Engkau tidak mau...?"


"…Tidak... ohhh, bukan... Aku... Aku tidak melawan..." Wanita itu menggagap, kepalanya pening, matanya berkunang dan kedua kakinya menggigil karena sesudah kepanikannya menghadapi ancaman terhadap anaknya lenyap, sekarang ia ngeri menghadapi hal yang mengancam dirinya sendiri.


"Bagus, engkau manis sekali. Nah, kini kau tanggalkan pakaianmu semuanya!" Siauw Lek memerintah, merasa girang sekali menyaksikan betapa korbannya menggigil dan bingung oleh rasa takut dan malu.


Wanita itu benar-benar bingung, kedua tangannya bukan menanggalkan pakaian, bahkan kini ia baru teringat betapa bajunya tadi dibukanya separuh ketika menyusui anaknya, dan kedua tangannya malah menutupkan baju ini. Mukanya sebentar pucat sebentar merah, pandang matanya jelalatan dan hanya lewat saja di muka suaminya, agaknya dia tidak berani bertemu pandang dengan suaminya.

__ADS_1


"Ehh, engkau ragu-ragu lagi? Hendak membangkang perintahku?! Hemmm, kalau begitu, lebih baik kubunuh saja anakmu ini..."


"Tidak! Oh, jangan...!" Cepat sekali karena digerakkan oleh rasa ngeri dan khawatir akan keselamatan anaknya wanita itu merenggut lepas baju atasnya hingga ia berdiri setengah telanjang. "Jangan bunuh anakku..."


Siauw Lek tersenyum, mengangguk-angguk puas. "Kalau kau menuruti semua hasratku, kalau kau suka melayani cinta kasihku kepadamu, tentu aku takkan menganggu anakmu, Manis. Hayo, kesinilah...!" Siauw Lek melangkah ke dekat ranjang.


Akan tetapi wanita itu tidak menggerakkan kakinya. Dengan muka pucat ia berkata lemah, "Tidak, harap... kasihani aku.., jangan di sini..."


Siauw Lek menggerakkan alisnya menoleh ke arah suami wanita itu yang rebah miring dengan mata melotot penuh kemarahan dan kebencian, lalu tersenyum. Sebenarnya, dia akan mendapatkan rangsangan lebih besar lagi, mendapat kepuasan lebih penuh bila dia dapat memiliki wanita itu di depan suaminya, di depan mata suaminya yang melotot itu. Alangkah akan senang dan lucunya!


Akan tetapi, kalau dia memaksa, tentu hal ini akan menjadi penghalang besar bagi si wanita untuk melayaninya dengan leluasa, dan kalau terjadi demikian dia pun tentu tidak akan merasa puas. Sambil tertawa dia lalu menghampiri wanita itu dengan bayi masih menangis dan diangkat tinggi-tinggi.


"Kalau begitu di mana?"


"Di kamar depan..." Wanita itu berkata sambil menundukkan muka, tak berani sama sekali melirik ke arah suaminya.


"Baiklah, Manis. Hayo kau tunjukkan di mana kamarnya," Siauw Lek berkata.


Tanpa menoleh ke arah suaminya, wanita itu segera membalikkan tubuh dan melangkah keluar dari kamar dengan kaki gemetar dan lesu. Siauw Lek menggerakkan tangan dan sebatang paku hitam menyambar, kemudian menancap di antara sepasang mata yang terbelalak melotot memandangnya itu, membuat suami itu tewas dalam detik itu pun juga tanpa dapat mengeluh sedikit pun juga. Peristiwa ini terjadi cepat dan sedikit pun tidak mengeluarkan suara hingga wanita itu pun tidak tahu sama sekali bahwa suaminya telah dibunuh orang.


Kamar depan itu pun sederhana sekali, dan hanya terisi sebuah dipan dan juga sebuah meja, di terangi lilin yang dinyalakan oleh wanita itu terlihat dengan tangan yang gemetar.

__ADS_1


__ADS_2