
Keng Hong menjadi marah mendengar bahwa Kiang Tojin, tokoh utama di Kun-lun-pai sesudah Thian Seng Cinjin, dihukum di Kun-lun-pai. Mendengar jawaban-jawaban singkat ini, dia segera menggerakkan tangannya dan dicengkeramnya pundak tosu itu. "Jangan main-main. Hayo lekas ceritakan siapa gurumu itu!"
"Aduhhh...! Ampun..., guru pinto adalah Sian Ti Tojin…"
"Aahhhh..!" Keng Hong teringat kepada dua orang tosu itu, Sian Ti Tojin dan Lian Ci Tojin. "Hayo cepat ceritakan apa yang telah terjadi! Ceritakan seluruhnya kalau kau tidak ingin semua tulangmu kupatahkan!" Keng Hong mengancam.
"Ahh, Keng Hong... ehh, Taihiap. Kasihanilah pinto, tidak ingatkah engkau betapa dahulu aku baik sekali kepadamu?"
Keng Hong tidak ingat lagi kepada tosu ini karena tosu Kun-lun-pai amat banyak, akan tetapi harus dia akui bahwa dahulu ketika dia menjadi kacung di Kun-lun-pai, semua tosu bersikap baik kepadanya.
"Aku tidak akan mengganggumu asal saja kau suka bercerita sejujurnya tentang apa yang telah terjadi setelah Thian Seng Cinjin meninggal dunia dan apa pula yang menyebabkan Kiang Tojin sampai dihukum."
Sambil menahan rasa nyeri pada tubuhnya, tosu itu lalu bercerita, "Sesudah kakek guru meninggal dunia setahun yang lalu, terjadilah perebutan kedudukan ketua di antara tujuh orang muridnya. Terutama sekali yang berebut adalah Kiang Tojin di satu pihak dan suhu Sian Ti Tojin bersama susiok Lian Ci Tojin di lain pihak. Empat orang paman guru yang lain berpihak kepada suhu, karena menurut anggapan semua murid-murid Kun-lun-pai, Kiang-supek terlampau keras dan bengis terhadap anak murid Kun-lun-pai!"
"Hemmm, kurasa Kiang Tojin berada di pihak yang benar karena beliau adalah murid tertua, bahkan tadinya mewakili Thian Seng Cinjin. Aku yakin pula Kiang Tojin tidak akan kalah, biar pun menghadapi enam orang sute-nya."
__ADS_1
"Memang tadinya tidak kalah. Perebutan kedudukan itu menjadi pertandingan dan tidak seorang pun di antara suhu dan para susiok dapat mengalahkan Kiang-supek yang amat lihai, akan tetapi…"
"Akan tetapi apa? Hayo lanjutkan!"
"Selagi suhu dan para sute-nya terdesak oleh Kiang-supek, tiba-tiba muncullah Ang-kiam Bu-tek..."
"Apa? Bagaimana? Teruskan..!" Kali ini Keng Hong benar-benar amat terkejut mendengar munculnya Cui Im di Kun-lun-pai.
"Wanita cantik jelita itu sungguh-sungguh hebat! Hebat bukan main! Tidak hanya hebat kecantikannya, hebat bentuk tubuhnya, akan tetapi hebat pula ilmu pedangnya sehingga Kiang-supek langsung terluka begitu dia turun tangan membantu suhu serta para susiok. Kiang-supek terluka hingga terpaksa menyerah, lalu dihukum dan suhu diangkat menjadi ketua Kun-lun-pai, sedangkan Lian Ci susiok amat beruntung, selain menjadi wakil ketua juga agaknya dapat bersahabat baik sekali dengan wanita yang seperti bidadari itu."
"Ketika itu dia memaki-maki Kiang-supek, mengatakan bahwa beberapa tahun yang lalu Kiang-supek pernah menangkapnya dan hal itu dianggap penghinaan. Maka dia datang membalas dendam dan merobohkan Kiang-supek. Dia hebat sekali dan..."
Akan tetapi tubuh Keng Hong sudah berkelebat lenyap dari depan tosu itu yang menjadi melongo saking kagum dan herannya, lupa akan rasa nyeri tubuhnya. Akan tetapi setelah keheranannya mereda, kaki tangannya yang patah tulangnya itu senut-senut, rasa nyeri menyusup tulang sumsum sehingga dia merintih-rintih lalu merangkak karena tidak dapat berjalan.
Keng Hong yang menjadi amat marah mendengar betapa Kiang Tojin dirobohkan Cui Im yang membantu tosu-tosu sesat semacam Lian Ci Tojin dan Sian Ti Tojin, berlari cepat sekali mendaki puncak menuju ke dinding Kun-lun-pai yang sudah dekat dari tempat itu. Dia harus menolong Kiang Tojin, apa pun yang terjadi, sebagai pembalasan atas segala kebaikan Kiang Tojin kepadanya. Karena ginkang yang dimiliki Keng Hong sekarang telah mencapai tingkat tinggi sekali, maka tidak lama kemudian dia telah tiba di pintu gerbang dinding tebal Kun-lun-pai yang terjaga oleh beberapa orang tosu.
__ADS_1
Munculnya Keng Hong menggegerkan para tosu yang segera dapat mengenali pemuda berpakaian putih ini. Cepat mereka bersiap untuk menyerang sedangkan seorang penjaga cepat-cepat berlari masuk untuk menyampaikan pelaporan mengenai munculnya pemuda yang sudah dikabarkan mati itu.
"Totiang sekalian, aku datang bukan untuk memusuhi pihak Kun-lun-pai, aku hanya ingin bertemu dan bicara dengan Sian Ti Tojin dan Lian Ci Tojin!" Keng Hong berkata dengan suara nyaring.
"Kamu tunggu di luar! Tidak boleh kamu masuk mengotorkan dan mencemarkan lantai Kun-lun-pai dengan kakimu yang kotor!" bentak seorang tosu.
Keng Hong memandang ke arah kedua kakinya yang tak bersepatu dan memang kotor, lalu dia menjawab, "Kaki kotor mudah saja dibersihkan dengan air, Totiang. Akan tetapi batin yang kotor sukar dicuci bersih! Apa lagi kalau orang itu tidak merasa betapa kotor batinnya!"
"Wah, masih saja amat sombong bocah ini!" teriak para tosu yang tetap melarang Keng Hong melewati pintu gerbang. Mereka telah berbaris menghadang di pintu dengan senjata mereka ditodongkan, siap untuk menyerang apa bila Keng Hong memaksa.
Diam-diam pemuda itu mengeluh. Betapa banyaknya perubahan pada partai Kun-lun-pai yang tadinya merupakan partai besar itu, menjadi tempat bertapa para tosu yang kasar dan galak ini. Kelakuan tosu yang tadi dia patahkan tulang kakinya lebih pantas menjadi kelakuan dan sikap anak buah perampok! Hanya dalam waktu lima tahun saja, alangkah banyaknya perubahan terjadi di Kun-lun-pai.
Keng Hong menjadi makin penasaran dan dia lalu berkata dengan suara tegas, "Totiang sekalian, Keng Hong bukanlah orang yang tidak mengenal budi. Aku telah berhutang budi dan di antara semua tosu di Kun-lun-pai, terutama sekali aku berhutang budi pada Kiang Tojin. Kuharap Totiang sekalian suka melaporkan kepada Sian Ti Tojin dan Lian Ci Tojin karena aku hendak bicara dengan mereka berdua. Aku tak ingin menggunakan kekerasan terhadap Kun-lun-pai, akan tetapi bila Totiang sekalian mencegah aku dengan kekerasan, apa boleh buat, aku akan memaksa masuk!"
Dengan pandang matanya yang tajam Keng Hong dapat melihat bahwa yang bersikap keras dan memandang kepadanya dengan sinar mata menentang hanya beberapa orang saja, sedangkan yang lain-lain ketika dia menyebut nama Kiang Tojin telah menundukkan pandang mata mereka seolah-olah mereka menyimpan atau menyembunyikan perasaan hati mereka.
__ADS_1
Akan tetapi, Keng Hong sudah awas dan maklum bahwa sebagian besar para tosu yang menjadi anak murid Kun-lun-pai ini masih setia kepada Kiang Tojin.