Pendekar Pedang Kayu Harum

Pendekar Pedang Kayu Harum
pkh 01 part 8


__ADS_3

Pangeran Yung Lo atau lebih tepat disebut Raja Muda Yung Lo yang menguasai daerah pertahanan di Peking, tidak mau menerima pengangkatan keponakannya menjadi kaisar pengganti ayahnya. Dia merasa lebih berhak dan lebih berjasa. Oleh karena itu, Yung Lo membawa bala tentara dan menyerbu ke selatan, ke Nanking. Terjadilah perang saudara.


Perang saudara selalu mengerikan, di mana terjadi bunuh-membunuh di antara saudara sendiri, antara bangsa sendiri. Rakyat pun terpecah-pecah dan saling hantam. Semua ini terjadi hanya karena ulah tingkah atasan yang memperebutkan kedudukan. Untuk dapat mencapai cita-cita pribadi, rakyat dijadikan umpan, kedok, perisai dan senjata. Padahal ketika cita-cita sudah tercapai kemudian pribadinya dimabuk kemuliaan, kemewahan dan kesenangan, biasanya rakyat dilupakan begitu saja!


Di bagian mana pun di dunia ini, tiap kali terjadi perang, rakyat jelatalah yang menderita paling hebat. Di dalam masa yang keruh ini bermunculan orang-orang yang menggunakan kesempatan melampiaskan nafsu-nafsu jahatnya. Perampokan-perampokan, penculikan dan fitnah yang diakhiri pelaksanaan hukum rimba bermunculan di mana-mana.


Sudah lazim bahwa di dalam setiap menghadapi sebuah peristiwa, bermacam-macamlah pendapat orang. Karena setiap buah kepala orang mengandung pendapat yang berlainan, bahkan celakanya berlawanan, maka inilah yang menjadi sebab timbulnya pertentangan dan akhirnya mengakibatkan perpecahan dan keributan.


Juga di dunia persilatan terjadi pula perpecahan sebagai akibat dari pada pendapat yang berlawanan terhadap perang saudara yang timbul di kerajaan Beng yang masih baru itu. Ada yang pro utara (Raja Muda Yung Lo), tapi ada pula yang pro selatan (Kaisar Hui To). Maka di antara mereka terjadilah perang sendiri.


Akan tetapi banyak pula golongan atau tokoh persilatan yang mengundurkan diri dan tak mau mencampuri segala pertentangan dan peperangan itu. Di antara mereka ini adalah Kun-lun-pai yang dipimpin oleh tosu-tosu yang insyaf akan buruknya pertentangan dan peperangan antara saudara sebangsa.


Thian Seng Cinjin, yaitu tosu tua berusia seratus tahun yang pada saat ini menjadi ketua Kun-lun-pai, sudah mengeluarkan larangan keras kepada semua anak murid Kun-lun-pai untuk melibatkan diri dalam perang saudara itu. Bahkan ketua ini telah memanggil semua tokoh-tokoh Kun-lun-pai untuk diajak berkumpul di puncak Kun-lun yang menjadi pusat dari perkumpulan ini dan bersama-sama melakukan semedhi sebagai latihan dan sebagai keprihatinan, dan di samping ini, sang ketua memperdalam pengetahuan mereka tentang pelajaran dalam Agama To (Taoism).


"Murid-murid Kun-lun-pai yang baik," begitu antara lain Thian Seng Cinjin berkata sambil memandang murid-muridnya yang duduk bersila di sekeliling depannya. "Dalam keadaan seperti sekarang ini, camkanlah baik-baik pelajaran ke lima puluh tujuh." Kemudian kakek ini bersenandung membaca isi pelajaran yang mengandung makna dalam sekali.


"Dengan keadilan, negara dapat diatur.


Dengan siasat, peperangan dapat dilakukan.


Namun hanya dengan mengekang diri (tak bertindak),

__ADS_1


dunia dapat dimenangkan!


Bagaimana kami tahu yang sedemikian itu?


Karena ini:


Makin banyak larangan, orang makin menderita.


Makin banyak digunakan senjata, makin banyak timbul kekacauan.


Makin banyak hukum diundangkan, makin banyak pelanggaran terjadi.


Makin banyak kepintaran, makin banyak perbuatan yang aneh-aneh.


Kami mengekang diri (tak bertindak), rakyat berubah ke arah kebaikan.


Kami suka akan ketenangan, rakyat tenteram dan damai.


Kami tidak bertindak, rakyat hidup makmur.


Kami tidak berkehendak, rakyat pun bersahaja dan jujur.”

__ADS_1


Selanjutnya, dengan suara penuh kesabaran Thian Seng Cinjin juga memberi wejangan kepada murid-murid Kun-lun-pai, menegaskan bahwa sebagai penganut ajaran Tao dan murid Kun-lun-pai yang gagah perkasa dan bijaksana mereka harus menyerahkan segala peristiwa kepada kekuasaan alam berdasarkan kewajaran. Hanya akan bergerak untuk menghadapi serta menanggulangi keadaan sebagai akibat. Tak sekali-kali menjadi sebab timbulnya sesuatu ketegangan. Hal ini hanya mudah dicapai dengan sikap diam dan tidak mencampuri urusan yang tidak menyangkut diri pribadi.


Karena pendirian inilah maka Thian Seng Cinjin melarang murid-muridnya terlibat dalam perang saudara, karena sekali mereka turun tangan, mereka akan semakin mengeruhkan suasana dan memperbesar penyembelihan antara saudara sebangsa.


Semua wejangan dan percakapan yang terjadi di ruang belajar yang luas itu didengarkan penuh perhatian oleh seorang anak laki-laki yang sedang bekerja membersihkan jendela-jendela dan pintu-pintu dengan kain kuning. Anak laki-laki ini berusia kurang lebih dua belas tahun, berwajah tampan dan berpakaian sederhana, dari kain kasar. Yang menarik pada anak ini adalah sepasang matanya, karena pandang matanya amat tajam, dengan biji mata yang terang jarang bergerak, membayangkan pikiran yang dalam, pandangan yang luas dan penuh pengertian.


Bocah yang menjadi kacung (pelayan) di kuil besar Kun-lun-pai ini bernama Cia Keng Hong, dan sudah dua tahun dia berada di kuil itu. Dia adalah seorang anak yatim piatu, karena keluarganya, ayah-bundanya dan saudara-saudaranya, semua telah tewas ketika perang saudara mulai pecah.


Mendiang ayahnya adalah seorang thungcu (lurah) di dusun Kwi-bun dan keluarga Cia ini terbasmi habis ketika gerombolan perampok yang muncul pada waktu perang saudara ini menyerbu dan merampok serta membasmi seluruh penduduk Kwi-bun. Oleh karena lurah dusun ini melakukan perlawanan, maka semua keluarganya terbasmi habis.


Keng Hong yang pada saat itu kebetulan ikut menggembalakan kerbau bersama seorang pelayan di luar dusun, selamat dan terbebas dari pada bencana maut. Dalam keributan ini muncullah Kiang Tojin, tosu yang menjadi murid kepala Thian Seng Cinjin.


Tosu ini sedang melakukan perjalanan merantau dalam melaksanakan tugasnya sebagai seorang pendekar sekailigus penyebar Agama To. Melihat perbuatan keji para perampok di dusun Kwi-bun, dia cepat menggunakan kepandaiannya menolong penduduk kemudian berhasil mengusir para perampok.


Kiang Tojin yang amat tertarik melihat Keng Hong, lalu mengajak anak itu ke Kun-lun-san dan di situ Keng Hong bekerja sebagai seorang kacung. Sebetulnya, Keng Hong hendak dijadikan murid Kun-lun-pai, akan tetapi bocah ini tidak mau menjadi tokong (calon tosu). Pada waktu itu, murid Kun-lun-pai harus seorang calon yang memegang keras peraturan, yaitu setiap orang murid Kun-lun-pai haruslah seorang calon tosu.


Karena penolakannya ini, Keng Hong yang sudah tidak mempunyai keluarga itu bekerja sebagai seorang kacung. Dia rajin sekali, semua pekerjaan dia pegang, apa saja yang diperlukan, tanpa diperintah segera dia kerjakan. Mengisi tempat air, membersihkan kuil, menyapu lantai dan kebun, merawat bunga, bahkan menggembala kerbau milik kuil yang dipergunakan untuk meluku sawah, semua dia kerjakan dengan tekun dan rajin.


Di malam hari, karena para tosu yang sayang kepadanya mengijinkannya, dia memasuki kamar perpustakaan dan membaca kitab-kitab. Semenjak kecil, di rumah ayahnya dulu, Keng Hong telah belajar ilmu kesusasteraan sesuai dengan kehendak ayahnya yang ingin melihat dia kelak menjadi seorang terpelajar agar dapat memperoleh kedudukan tinggi.


Kitab-kitab tentang filsafat kebatinan, pelajaran-pelajaran Tao, juga kitab-kitab pelajaran dasar ilmu silat Kun-lun, semua dia baca. Tentu saja karena tidak ada gurunya, dia hanya bisa membaca tanpa dapat menangkap jelas inti sarinya.

__ADS_1


Kerajinannya dan sifatnya yang pendiam membuat para tosu suka kepadanya. Bahkan Thian Seng Cinjin sendiri yang melihat sifat-sifat baik anak ini, memujinya dan diam-diam merasa kecewa mengapa anak yang berbakat baik ini tidak suka menjadi calon tosu.


Di lain fihak, Keng Hong paling segan dan takut melihat Thian Seng Cinjin. Dia melihat sesuatu yang aneh dan penuh wibawa pada diri tosu tua ini, baik gerak-geriknya, dari suaranya dan terutama sekali dari pandang matanya yang tenang penuh kesabaran dan seolah-olah dapat menjenguk isi hatinya itu.


__ADS_2