Pendekar Pedang Kayu Harum

Pendekar Pedang Kayu Harum
pkh 04 part 4


__ADS_3

"Engkau siapa sih? Aku dengar tadi mereka menyebutmu Ang-kiam Tok-sian-li. Julukan yang bagus sekaligus juga mengerikan! Ang-kiam (Pedang Merah) dan Sian-li (Bidadari) memang bagus, akan tetapi terselip kata-kata Tok (Racun), sayang sekali. Dan buktinya engkau memang tukang meracuni orang! Mengapa seorang gadis muda jelita semacam engkau begini ganas, sungguh sukar dimengerti."


Cui Im tertawa lagi dan memegang lengan pemuda itu dengan sikap mesra.


"Kau bilang aku jelita? Benarkah?"


"Kalau aku tidak bilang kau jelita, berarti aku membohongi diri sendiri. Engkau memang jelita, Cui Im."


Gadis itu semakin girang hatinya. "Aduh, kalau kau selalu bersikap manis kepadaku, aku menjadi tak tega membunuhmu, Keng Hong. Kau tampan sekali, dan banyak gadis akan kehilangan hatinya kelak kalau berhadapan denganmu."


Jantung Keng Hong berdebar, dia selamanya belum pernah berdekatan dengan wanita muda dan cantik, belum pernah dipuji dan di rayu. Cepat dia menekan perasaannya dan mengalihkan percakapan.


"Kiu-bwe Toanio dan Sin-to Gi-hiap merupakan dua orang locianpwe yang berilmu tinggi, akan tetapi terhadapmu seperti orang jeri, dan selalu menyebut-nyebut gurumu. Siapa sih gurumu yang agaknya amat mereka takuti itu, Cui Im?"


"Guruku ialah orang yang terpandai di kolong langit ini! Agaknya hanya Sin-jiu Kiam-ong saja yang bisa menandinginya, akan tetapi setelah Kiam-ong meninggal, guruku menjadi jago nomor satu di dunia! Dia adalah orang pertama dari keempat Bu-tek Su-kwi (Empat Iblis Tanpa Tanding) yang menguasai daerah selatan dan berjuluk Lam-hai Sin-ni (Dewi Laut Selatan). Tapi... ah, Keng Hong, marilah bawa aku ke tempat rahasia penyimpanan kitab-kitab rahasia suhu-mu, kita mempelajari bersama dan... kita berdua akan menjadi sepasang jago nomor satu di dunia. Guruku sendiri takan mampu melawan kita. Marilah, kekasih...!" Cui Im merangkul leher Keng Hong.


Tercium keharuman yang sangat sedap dari muka dan rambut gadis itu, membuat Keng Hong menjadi makin berdebar jantungnya dan terpaksa dia memejamkan matanya.


"Bagaimana, Keng Hong? Engkau kuberi obat pemunah, ya? Kemudian... kemudian kita bersenang-senang malam ini dan besok kita pergi ke Kun-lun-san, ke Kiam-kok-san dan mengambil semua pusaka peninggalan suhu-mu... ya?"

__ADS_1


Keng Hong sudah memejamkan mata dan sudah pula mengumpulkan seluruh panca indra untuk menekan batinnya yang bagaikan air tenang yang mulai diguncang oleh nafsu. Dia menggelengkan kepala dan berbisik, "Aku tidak tahu di mana tempatnya itu."


Cui Im melepaskan rangkulannya dan seketika lenyap pula kemesraannya. Ia mendengus kemudian menjauhkan diri, duduk merenung di depan api unggun. Keng Hong membuka matanya dan memandang punggung gadis itu yang menggunakan sepuluh jari tangannya menekuk-nekuk batang rumput, berkali-kali menarik napas panjang dan nampak jengkel sekali.


Keng Hong terheran mengapa ada seorang gadis secantik itu, sehalus itu, berhati kejam dan jahat, mengejar kepandaian secara membuta. Dia merasa sayang sekali. Kalau dia terbayang akan belaian dan bujuk rayu tadi, kakinya menggigil. Apa yang akan diperbuat gurunya, andai kata Sin-jiu Kiam-ong yang menjadi dia? Dia tidak takut akan racun yang memasuki perutnya tadi. Selama dia berguru kepada Sin-jiu Kiam-ong, gurunya itu setiap hari memberinya minum segala macam racun, sedikit demi sedikit!


"Kaki tangan seorang lawan dapat kau hadapi dengan kaki tangan pula, muridku," begitu gurunya memberi keterangan, "akan tetapi lawan yang licik suka mempergunakan racun yang dicampur dalam makanan atau minuman. Banyak terdapat racun yang jahat sekali dan yang tidak berbau apa-apa, tidak terasa apa-apa. Namun dengan kebiasaan minum sedikit racun setiap hari, lidahmu akan menjadi biasa dan dapat mengenal setiap racun yang dicampur makanan atau minuman. Juga, dengan cara sedikit demi sedikit, semakin lama makin bertambah takarannya, dengan memasukan racun-racun itu ke perut, engkau akan menjadi kebal terhadap segala macam racun."


Demikianlah, ketika dia minum air yang dicampur racun, dia segera mengenal racun itu, akan tetapi dengan mengandalkan kekebalan perutnya dia tidak khawatir dan minum terus sampai habis. Dengan sinkang yang disalurkan ke perutnya, dia tadi telah mengumpulkan racun di perutnya dan dalam perjalanan tadi ketika dia dipanggul Cui Im, diam-diam dia telah memuntahkan kembali racun itu sehingga kini perutnya bersih dari pada racun.


Kembali Keng Hong memperhatikan Cui Im. Kini gadis itu agak miring duduknya hingga wajah yang cantik itu tampak dari samping. Wajah yang disinari dengan api merah, sedikit tertutup juntaian rambut hitam, benar-benar sangat mempesonakan.


Ketika tiba-tiba gadis itu menoleh ke arahnya, seolah-olah terasa pandang matanya yang penuh harap, Keng Hong cepat meramkan matanya. Dia memang lelah dan mengantuk, maka sekarang dia mengambil ketetapan hati untuk meram terus dan tidur, tidak mau lagi mempedulikan gadis itu.


Pemuda itu membuka matanya dan memandang gadis yang bersimpuh di depannya.


"Enak saja kau tidur!"


"Habis mau apa lagi? Mengapa kau mengganggu orang tidur?"

__ADS_1


Gadis itu makin gemas. Orang ini sudah terkena racun, sudah menghadapi kematian, tapi masih enak-enak saja. Meski pun seorang di antara tokoh-tokoh besar di dunia kang-ouw macam mereka yang disebut locianpwe, kiranya akan menjadi gelisah dan akan berdaya sebisa mungkin untuk menyelamatkan nyawanya. Akan tetapi pemuda ini enak-enak saja tidur.


Selain heran dan penasaran, juga dia menjadi kagum dan makin tertarik karena sukarlah mencari seorang pemuda setenang ini. Ataukah memang karena tololnya?


Memang dia tidak menghendaki kematian Keng Hong, karena kematian pemuda ini tidak saja akan membuyarkan cita-citanya untuk mendapatkan kitab-kitab simpanan Kiam-ong, juga gurunya pasti akan menjadi marah sekali padanya. Apa yang ia harus lakukan untuk dapat membujuk pemuda ini?


"Keng Hong, apakah kau tidak merasa sakit?"


Keng Hong menggeleng kepala.


"Perutmu tidak mulas? Racun itu tentu telah mulai bekerja."


Kembali pemuda itu hanya menggeleng.


"Kau memang orang yang aneh. Karena umurmu tinggal malam ini saja, biarlah kuhadiahi engkau dengan arak wangi yang kubawa. Jarang ada orang yang kuberi arak ini, kalau bukan orang yang kusenangi."


"Hemm…, engkau senang kepadaku?"


Cui Im memandang dan melempar kerling memikat, senyumnya kini manis sekali. "Ahhh, betapa bodohnya engkau Keng Hong. Tentu aku senang kepadamu, aku cinta kepadamu, masih butakah matamu? Aku tidak ingin melihat engkau mati besok."

__ADS_1


"Engkau ingin memaksa aku mencari pusaka suhu, bukan tidak ingin melihat aku mati."


"Betul juga, akan tetapi aku cinta padamu. Kau seorang pemuda yang jantan, tabah dan luar biasa. Mari, kuhadiahi engkau arak wangi."


__ADS_2