Pendekar Pedang Kayu Harum

Pendekar Pedang Kayu Harum
pkh 05 part 9


__ADS_3

Sungguh pun sinkang sepuluh orang ini masih belum menyamai sinkang Kiang Tojin dan beberapa orang sute-nya, namun bagi Keng Hong tetap saja merupakan siksaan yang hebat dan dia sendiri tidak tahu harus berbuat apa untuk melepaskan mereka. Ia maklum bahwa sekali dia mengerahkan tenaga yang mendesak-desak ini untuk mengibas tubuh mereka, akibatnya tentu hebat seperti yang pernah dia lakukan di Kun-lun-san. Tapi pada waktu itu yang dia robohkan hanyalah belasan batang pohon-pohon raksasa.


Sementara itu, setelah kini Cui Im dan Biauw Eng hanya dikeroyok enam orang lawan, mereka sebentar saja dapat merobohkan semua lawan itu. Cui Im merobohkan dua orang dengan pedangnya, ada pun Biauw Eng membuat empat orang lainnya terguling.


Sekarang dua orang gadis itu berdiri melongo memandang Keng Hong yang digelut oleh sepuluh orang! Memang amat aneh pemandangan ini. Keng Hong berdiri dengan tubuh menggigil di tengah-tengah, sedangkan sepuluh orang itu menggeluti tubuhnya, banyak yang diam tanpa bergerak, ada pula yang masih mencoba untuk membetot-betot, namun semuanya tak berhasil sehingga terdengarlah keluhan dan rintihan putus asa keluar dari mulut sepuluh orang itu.


"Itulah, Sumoi. ilmunya yang mukjijat, menyedot sinkang orang seperti yang kuceritakan kepadamu... heiii! Sekarang aku tahu kenapa sebagian besar sinkang-ku lenyap! Kiranya malam itu... dia... dia telah menyedot hawa sakti tubuhku, kurang ajar!" Cui Im memaki.


"Heran benar. Benarkah dia bisa memiliki Thi-khi I-beng? Menurut ibu, di dunia ini tidak ada lagi yang mengerti ilmu itu. Ibu sendiri hanya mengerti sedikit. Bocah ini hebat, Suci. Jika didiamkan saja, sepuluh orang ini tentu akan mati semua dan ibu tidak akan senang apa bila kita menanam bibit permusuhan dengan partai-partai persilatan besar. Hayo kita lepaskan mereka."


"Mana mungkin, sumoi? Jangan-jangan kau akan ikut tersedot! Hiiihhh... ilmu setan yang mengerikan!"


"Aku mengetahui caranya, suci."


"Kau? Kalau begitu subo telah mengajarmu ilmu ini? Ahh, mengapa aku tidak diberi tahu sama sekali?" Cui Im bertanya dengan cara mencela, penuh iri.

__ADS_1


"Hanya mengerti cara membebaskannya, sama sekali aku pun tidak tahu akan ilmu ini. Kalau kau menguasainya, alangkah banyaknya orang-orang yang kau sedot habis!"


Biauw Eng segera memunggut cambuk kuda dari atas tanah di dekat kereta yang sudah hancur.


"Kau pergunakan cambuk ini. Jangan sekali-kali pergunakan tanganmu untuk menyentuh mereka. Kalau kau sudah menotok pergelangan tangan Keng Hong, kau gunakan ujung cambuk untuk membetot tangan-tangan yang menempel di tubuhnya. Mengerti?"


Cui Im mengangguk dan mereka cepat menghampiri sebelas orang yang bergelut tanpa bergerak sambil berdiri itu. Biauw Eng kemudian memutar sabuk sutera putihnya ke atas hingga terdengar suara berdetak-detak, lalu kedua ujung sabuk itu menyambar ke depan, tepat menotok pergelangan kedua tangan Keng Hong.


Dan pada saat itu, selagi Keng Hong merasa seolah-olah kedua lengannya lumpuh dan saluran hawa sakti yang membanjir ke tubuhnya terhenti, Cui Im sudah menggerakkan cambuknya melibat tangan-tangan yang menempel pada tubuh Keng Hong lalu membetot sekuatnya.


Keng Hong yang sudah terlepas dari pada kebanjiran hawa sinkang, berdiri dengan tubuh bergoyang-goyang seperti orang mabuk. Dia memang persis seperti orang mabuk arak, bahkan ketika dia berjalan menghampiri Cui Im dan Biauw Eng, dia berjalan dengan dua kaki diseret, seolah-olah kedua kakinya menjadi kaku dan kejang. Kedua lengannya juga tergantung kaku di kanan kiri, matanya yang memandang dua orang gadis itu dikejap-kejapkan karena dalam pandang matanya yang berkunang-kunang, dua orang gadis itu kini berubah menjadi empat!


Keng Hong mengusahakan diri untuk tersenyum dan mengucapkan terima kasih, namun senyumnya berubah menjadi menyeringai menakutkan, dan pandangan matanya menjadi liar sehingga Cui Im dan Biauw Eng yang amat lihai itu pun sampai mudur-mundur akibat ketakutan!


"Heh-heh-heh, terima kasih... terima kasih kepada Ji-wi Siocia (Nona Berdua) yang telah membebaskan diriku dari... hemmm... lintah-lintah itu...!"

__ADS_1


Biauw Eng memandang tajam sambil berkata halus, "Keng Hong, kau simpanlah kembali ilmumu menyedot sinkang itu."


Keng Hong menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak bisa... tidak bisa..., disimpan bagai mana? Tubuhku terlalu penuh... dadaku terasa sakit, kepalaku mau meledak..., tenaga ini, mendorong-dorongku... ahhh...!"


Keng Hong memegangi kepalanya dan memejamkan kedua matanya. Ingin dia memukul, menendang, ingin dia merobohkan apa saja, dan keinginan ini timbul secara serentak, mendesak kepadanya menjadi seorang liar yang memuaskan nafsu untuk merobohkan dan membunuh apa saja.


Enam belas orang yang telah terluka semua itu, akan tetapi tidak ada yang tewas karena kedua orang gadis itu memang tidak bermaksud membunuh mereka agar supaya jangan mendatangkan bibit permusuhan, kini juga memandang ke arah Keng Hong dengan mata terbelalak dan mulut ternganga.


Keadaan pemuda itu memang menyeramkan. Tidak saja mukanya menjadi merah seperti udang direbus, dan matanya jelalatan seperti mata setan, akan tetapi bahkan rambut di kepalanya bagai berdiri satu-satu. Tanpa disadari dan dimengerti oleh Keng Hong sendiri, setelah sekarang tidak ada sinkang orang lain yang membanjiri tubuhnya, otomatis daya sedotnya lenyap dan kini sebaliknya berubah menjadi daya serang yang amat luar biasa.


Memang sebetulnya ketika Sin-jiu Kiam-ong mengoper sinkang-nya kepada Keng Hong, kakek ini tak sempat lagi untuk memberi pelajaran tentang cara menguasai sinkang yang kelebihan di dalam tubuh muridnya. Karena paksaan ini, terjadilah salah susunan salah kerja sehingga sinkang yang membanjiri ke dalam tubuh pemuda itu menjadi liar, ibarat ia ditampung tanpa ada pintu untuk memasukkan dan mengeluarkan, datangnya membanjir secara liar.


Jika saja Keng Hong telah dapat mengusai dirinya sendiri, tentu dia akan dapat mengatur hingga hawa yang masuk dapat disesuaikan dengan tempatnya, dan dapat pula mengatur bagaimana untuk membuka pintu dan menyalurkan sinkang dalam penggunaan hawa itu sesuai dengan keperluannya.


Kini, sesudah secara liar hawa sinkang membanjiri masuk, keadaannya menjadi terbalik. Pintu masuk tertutup dan pintu keluar sukar dibuka apa bila tidak dipaksa dengan pukulan dan tendangan, tidak dipaksa untuk bertanding! Maka hawa itu pun mendesak-desak dan membuat tubuhnya seperti sebuah balon karet yang terlalu penuh diisi hawa, siap untuk meletus setiap saat...

__ADS_1


__ADS_2