
Bentuk wajahnya bulat telur, dengan kulit muka yang halus putih kemerahan tanpa bedak dan gincu. Rambutnya hitam sekali dan sangat halus seperti benang sutera, gemuk subur menghias dahi dan kedua pipi, menyembulkan dua buah telinga yang hanya kelihatan sedikit dan terhias dua buah anting-anting bermata merah. Alis itu sangat hitam dan kecil memanjang seperti dilukis saja padahal tak ada bekas-bekas goresan pensil dan agaknya alis ini beserta bulu mata yang panjang melengkung itulah yang menambah keindahan matanya. Hidungnya kecil mancung dengan ujungnya agak menantang ke atas, diapit oleh sepasang pipi yang kemerahan dan halus seperti buah tomat meranum.
Ketika pandang mata Keng Hong menurun lagi, pandang matanya seolah-olah menempel dan melekat pada sepasang bibir itu. Sukar dikatakan mana yang lebih indah antara mata dan bibir itu. Bentuknya laksana gendewa dipentang, dan warnanya merah membasah, segar dan membuat Keng Hong tanpa disadarinya sendiri menelan ludah seperti seorang kehausan melihat buah yang segar.
Kemudian sinar mata Keng Hong makin liar memandang lebih ke bawah dan apa yang dilihatnya benar-benar membuat dia terpesona. Gadis ini sangat cantik jelita, sikapnya agung dan pendiam, dan bentuk tubuhnya... sukar dilukiskan dengan kata-kata sungguh pun pakaian sutera putih itu membungkusnya. Pendeknya, kalau Cui Im merupakan gadis yang luar biasa cantiknya dan yang tidak pernah sebelumnya dia temukan atau impikan, kini gadis baju putih ini merupakan seorang gadis yang tak pernah dia sangka terdapat di dalam dunia!
"Hidung belang, sudah puaskah engkau meneliti dan menaksir diriku?"
Pertanyaan ini halus dan merdu terdengar oleh telinga, namun bagaikan pisau berkarat menggores jantung! Keng Hong belum tentu akan menjadi semerah itu kedua pipinya apa bila dia menerima tamparan keras.
"Ehhh... ohhh... aku..." Dia menggagap, berusaha mengelak dari pandangan mata yang begitu halus namun tajam menembus dada.
"Aku tahu, engkau hidung belang seperti gurumu, akan tetapi perlu kau ketahui bahwa aku bukanlah seorang wanita murahan seperti dia itu." Dengan dagunya yang meruncing halus, gadis itu menuding ke arah depan, ke arah Cui Im yang mengemudikan kereta.
Keng Hong menghela napas panjang dan tidak terasa lagi dia mengangkat kedua tangan yang terbelenggu itu untuk mengosok-gosok hidungnya yang dua kali dikatakan belang! Ketika kedua tangannya mengosok-gosok hidung ini, seolah-olah baru tampak olehnya bahwa pergelangan kedua tangannya dibelenggu, terikat oleh sehelai tali sutera hitam yang amat kuat. Ia menaksir-naksir berapa kekuatan belenggu ini.
"Jangan mencoba-coba untuk mematahkan belenggu," gadis itu seakan dapat membaca pikirannya. "Selain kau tak akan berhasil, juga aku akan menyeretmu di belakang kereta kalau kau banyak tingkah."
Wah-wah, kiranya si jelita ini malah lebih galak dari pada Cui Im, pikir Keng Hong. Dia kembali menatap wajah itu dan melihat betapa gadis itu tenang laksana air telaga, dan matanya merenung jauh ke depan. Dia dianggap seperti lalat saja, atau bahkan tidak ada.
Keng Hong penasaran. Dia bukanlah seorang yang tidak mengenal budi. Gadis ini sudah menyelamatkan nyawanya, tidak mungkin dia yang sudah diselamatkan nyawanya diam saja seperti seorang yang tidak mengenal budi.
"Nona..." Akan tetapi dia tidak melanjutkan karena gadis itu sama sekali tidak bergerak, sama sekali tidak memperhatikan tanda-tanda bahwa dia mendengar panggilannya.
__ADS_1
Keng Hong bergidik. Gadis ini bagaikan arca saja. Arca dari batu pualam yang halus dan dingin. Akan tetapi melihat bibirnya yang begitu merah membasah, melihat kemerahan pada rongga mulutnya ketika tadi bicara, kilatan giginya yang kecil rata dan putih, semua ini membayangkan darah muda yang panas. Setelah gadis itu kini berdiam diri, sikapnya benar-benar luar biasa dinginnya, sedingin salju di utara!
"Nona...!" Ia tidak putus asa dan memanggil lagi lebih keras. Namun gadis itu tetap diam, jangankan bergerak melirik pun tidak.
"Bledak... dak... dorrr...!" kereta melalui jalan yang berbatu, rodanya menumbuk batu-batu yang besar sehingga kereta itu terguncang hebat, bahkan hampir roboh miring.
"Heiiiii... ehhh...!" Keng Hong mengatur keseimbangan tubuhnya dan kaget sekali.
Akan tetapi kereta berjalan terus dan amatlah kagumnya menyaksikan betapa gadis baju putih di depannya itu masih tetap seperti tadi, tidak bergerak, tidak berguncang, juga tidak kaget. Wah seperti orang mati saja!
Keng Hong tertegun sendiri. Jangan-jangan dia sudah mati! Matanya terbuka akan tetapi manik mata itu sama sekali tidak bergerak, napasnya pun seolah-olah berhenti.
"Nona...!"
"Plakkk!" Kedua tangannya ditampar dan nona itu membuka mulut, "Kau mau apa? Ingin diseret di belakang keretakah?"
Keng Hong kaget setengah mati sampai pantatnya terloncat dari tempat duduknya.
"Walah...! Kau bikin kaget aku saja, Nona. Hampir saja aku mati karena kaget! Kusangka kau... kau tidak bernapas lagi..."
"Begini goblokkah murid Sin-jiu Kiam-ong sehingga tidak tahu orang sedang melakukan latihan Pi-khi Hoan-hiat (Menutup Hawa Mengatur Jalan Darah)?"
"Ohhh...!" Keng Hong hanya dapat mengeluarkan suara ah-eh-oh saja karena semakin lama dia merasa semakin kagum dan heran.
__ADS_1
Dia pernah mendengar dari suhu-nya akan ilmu Pi-khi Hoan-hiat ini, semacam ilmu untuk selalu mengadakan pengendalian terhadap jalan darah dan berhubungan dengan tenaga sinkang. Akan tetapi ilmu yang hanya dapat dilakukan oleh orang yang telah tinggi tingkat kepandaiannya. Dan nona cilik ini telah melatih ilmu itu di dalam kereta yang berguncang-guncang!
Meski pun semenjak tadi hanya mengeluarkan suara ah-eh-oh, akan tetapi suara ini jelas membayangkan kekaguman. Hal ini agaknya terasa oleh gadis itu yang sebagai seorang manusia normal, terutama wanita, tentu saja amat senang hatinya mendapat pujian.
"Kau mau apa sih, panggil-panggil orang terus?"
"Nona, aku Cia Keng Hong bukanlah orang yang tak mengenal budi. Aku telah berhutang nyawa kepadamu..."
"Aku tidak pernah menghutangkan nyawa!"
"Ehh, aku... aku telah Nona selamatkan dari pedang Cui Im..."
"Hmm, hubunganmu dengan suci sudah begitu jauh ya sehingga kau menyebut namanya begitu saja?"
Wajah Keng Hong menjadi merah sekali. Nona ini boleh jadi pendiam, akan tetapi seperti biasanya orang pendiam, sekali mengeluarkan kata-kata selalu akan menusuk jantung!
"Kumaksudkan... nona Bhe Cui Im... aku sudah kau tolong dan selain pernyataan terima kasihku, aku pun selamanya tidak akan melupakan budi pertolongan itu. Tetapi, sesudah menyelamatkan nyawaku yang tak berharga ini, mengapa Nona malah menawan aku?"
"Heii, awas Sumoi! Dia itu laki-laki yang pandai sekali merayu, melebihi gurunya. Jangan-jangan kau nanti dirobohkan rayuannya yang manis seperti madu. Hi-hik-hik!" dari depan Cui Im berkata dengan suara mengejek.
Gadis baju putih itu mengeluarkan suara mendengus dari hidungnya. "Huh! Sejak kapan aku dapat dirobohkan rayuan orang? Aku tidak seperti engkau yang begitu mudah dapat dipikat oleh rayuan bocah ini, Suci!"
"Heh-heh-heh, bocah ya? Dia itu bocah? Hi-hi-hik, tunggu saja kau, Sumoi, kalau sudah berada dalam pelukan dan belaiannya, nanti..."
__ADS_1
"Suci, diam!" Gadis itu membentak, alisnya yang hitam panjang itu melengkung indah.