Pendekar Pedang Kayu Harum

Pendekar Pedang Kayu Harum
pkh 03 part 8


__ADS_3

Kiranya totokan Kiang Tojin yang dilakukan dari jarak jauh tadi tidak lama membuatnya gagu. Hal ini saja sudah membuktikan bahwa wanita itu bukanlah orang sembarangan pula, melainkan sudah memiliki ilmu kepandaian yang cukup tinggi.


"Sudah cukup kiranya, Keng Hong. Kami menerima pedang Siang-bhok-kiam dan akan menyimpannya baik-baik. Engkau boleh pergi dengan hati lapang dan ingatlah, engkau tidak boleh datang ke wilayah kami ini tanpa perkenan kami. Apa bila ada keperluan yang memaksamu datang ke wilayah ini, engkau harus datang lebih dahulu ke Kun-lun-pai dan menghadap suhu untuk minta ijin."


Keng Hong mengangguk-angguk. Di dalam hatinya dia menjawab bahwa dia takkan sudi datang ke situ lagi dan tidak akan mengganggu Kun-lun-pai selamanya. Akan tetapi dia melirik ke arah wanita itu dan berkata,


"Maaf, Totiang. Sebelum saya pergi, ada sebuah permintaan saya, harap Totiang sudi mengabulkannya."


"Permintaan apa? Sekiranya patut dan bisa pinto lakukan tentu permintaanmu akan pinto kabulkan."


"Saya mohon kepada Totiang sekalian sudilah kiranya membebaskan wanita itu!"


Terdengar seruan-seruan kaget dari mulut para tosu, dan hanya Kiang Tojin yang tampak tenang, sedangkan Thian Seng Cinjin tidak peduli, masih berdiri seperti orang termenung dengan kedua mata dipejamkan.


"Keng Hong ada hubungan apakah engkau dengan wanita itu maka kau minta supaya dia dibebaskan?"


"Tanpa alasan apa-apa, Totiang, hanya dilandasi perasaan yang sama seperti perasaan mendiang suhu ketika menolong Kun-lun-pai yang diserbu oleh kaum sesat!"


"Apa? Apa maksudmu?" Kiang Tojin memandang heran.


"Totiang, menurut cerita suhu, suhu menolong Kun-lun-pai juga hanya dilandasi perasaan kasihan melihat pihak yang ditindas dan diancam. Suhu tidak mempunyai hubungan apa pun dengan Kun-lun-pai, akan tetapi suhu tetap menolongnya. Saya pun tidak mempunyai hubungan dengan wanita ini, akan tetapi melihat dia terancam bahaya di sini, perasaan saya yang mendorong saya untuk menolongnya."


"Ahh, akan tetapi hal itu jauh sekali bedanya, Keng Hong. Dulu gurumu membantu kami melawan golongan hitam, kaum sesat dan orang jahat. Sebaliknya, kau harus tahu bahwa wanita itu bukan orang baik-baik, bahkan kedatangannya memiliki niat buruk terhadapmu, untuk merampas Siang-bhok-kiam..."


"Bohong! Tosu tua bangka bau! Bohong...!" wanita itu memaki.

__ADS_1


Keng Hong menggeleng-geleng kepalanya. "Agaknya Totiang tak dapat mengenal watak suhu. Saya yakin bahwa suhu bukan mendasarkan pertolongannya atas baik dan buruk, karena menurut wejangan suhu, bagi suhu dan saya, baik dan buruk itu tidak ada, yang ada hanyalah pendapat orang yang selalu tidak adil karena menurutkan kepentingan diri pribadi."


"Ehh, apa maksudmu?"


"Pandangan baik dan buruk oleh pendapat manusia adalah miring dan berat sebelah, Totiang, dipengaruhi oleh nafsu pribadi demi kepentingan diri sendiri. Apa bila seseorang melihat orang lain yang menguntungkan dia, juga bersikap menyenangkan hatinya, maka serta-merta dia akan menganggap orang itu baik! Sebaliknya kalau dia melihat orang lain merugikannya, memusuhinya dan tak menyenangkan hatinya, maka tanpa ragu-ragu lagi akan menganggap orang itu jahat! Karena itu, saya seperti suhu tidak percaya dengan pandangan orang tentang baik dan jahat dan saya menolong wanita ini hanya terdorong oleh perasaan ingin menolong, kasihan melihat dia terancam bencana di sini. Bagaimana, Totiang? Permintaan Kun-lun-pai untuk meninggalkan pedang telah saya penuhi, apakah Kun-lun-pai demikian pelit untuk menolak permintaanku yang tidak sama sekali terdorong keinginan menguntungkan diri sendiri ini?" Dengan kalimat terakhir ini terkandung ejekan bahwa Kun-lun-pai minta pedangnya dengan dasar ingin untung sendiri!


Kiang Tojin tercengang. "Pendapat keliru..., wawasan yang menyeleweng..."


Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara Thian Seng Cinjin yang halus, "Bocah ini kelak lebih menggegerkan dari pada Sin-jiu Kiam-ong. Bebaskanlah wanita itu dan lekas suruh anak ini pergi, lebih cepat lebih baik!"


Kiang Tojin memberi tanda dan dua orang tosu segera menghampiri wanita itu hendak melepaskan ikatannya. Akan tetapi sekali bergerak, wanita itu ternyata telah meloloskan tangan kakinya dari ikatan tanpa mematahkan ikatan itu. Dia meloncat dan memandang ke arah Keng Hong dengan senyum mengejek.


"Bocah tolol! Cih, tolol dan goblok, dasar anak dusun!" Setelah berkata demikian, wanita itu membanting-banting kaki kanannya lalu berkelebat cepat pergi meninggalkan tempat itu.


Keng Hong tidak peduli. Ia lantas berlutut menghaturkan terima kasih kepada para tokoh Kun-lun-pai, kemudian berdiri dan pergi meninggalkan pegunungan Kun-lun-pai dengan wajah berseri.


...********************...


"Heii, tolol! berhenti dulu!"


Keng Hong menghentikan langkahnya. Dia telah jauh meninggalkan Kun-lun-san dan kini berada di sebuah hutan yang tidak lagi menjadi daerah Kun-lun-san. Tanpa menoleh dia sudah mengenal suara itu, suara yang nyaring merdu dan galak, suara wanita cantik jelita yang telah dibebaskan oleh para tosu Kun-lun-pai.


"Kau mau apakah?" tanyanya sambil berdiri tegak tanpa menoleh.


"Waduh sombongnya! Orang tolol masih bisa bersikap sombong ya?"

__ADS_1


"Aku tidak merasa sombong, walau pun mungkin kau benar bahwa aku tolol," jawabnya sabar sambil tersenyum. Gembira! Harus menghadapi segala sesuatu dengan gembira, betapa pun menyakitkan hati dan pahitnya maki-makian itu.


"Walah-walah, malah senyum-senyum! Kau bicara tanpa melihat aku, bukankah itu sikap sombong, sikap orang berkepala angin, memandang orang lain seperti rumput saja? Jika tidak sombong, lihatlah ke sini. Benci aku melihat orang diajak bicara kok menengok pun tidak!"


Keng Hong tertawa. Betapa pun galaknya, ucapan orang itu dia anggap jenaka dan lucu, juga segar dan menyenangkan hatinya. Ia kemudian membalikkan tubuhnya dan melihat penegurnya itu duduk di atas rumput hijau di bawah sebatang pohon sambil makan paha besar seekor ayam hutan. Daging paha itu masih mengepul panas, juga api unggun untuk membakar daging itu masih menyala.


"Nah, aku sudah memandangmu sekarang. Kau mau bicara apakah?"


"Wah, memang sombong dan angkuh! Apakah karena engkau telah minta tosu-tosu bau itu membebaskan aku lalu engkau boleh bersikap angkuh seperti ini?"


"Ehh..., adik yang baik..."


"Cih! Aku bukan adikmu!"


"Cici yang baik..."


"Siapa sudi menjadi kakak perempuanmu?"


Keng Hong merasa bohwat (kehabisan akal). "Habis, harus kusebut apa?"


"Panggil aku nona!"


"Wah, nona...?"


"Habis, aku masih gadis, kalau tidak disebut nona, masa engkau hendak menyebut aku nyonya besar?" Gadis itu merengut, bibirnya yang merah itu berlepotan minyak gajih dari paha ayam, mukanya coreng moreng terkena hangus, kelihatan makin cantik dan lucu sehingga kembali Keng Hong tertawa.

__ADS_1


"Baiklah, Nona. Engkau memaki aku sombong dan angkuh berkali-kali, karena aku tidak mau menengok. Setelah aku menengok, kau masih memaki aku angkuh. Habis aku kau suruh bagaimana supaya tidak kau maki angkuh?"


"Aku mau berbicara denganmu, duduklah di sini dan jangan berdiri pringas-pringis seperti monyet mencium ikan asin!"


__ADS_2