
Dia lalu menyembunyikan pedang Siang-bhok-kiam tulen di balik tumpukan batu-batu karang dan membawa turun pedang palsu.
Tepat seperti yang telah diduganya, begitu turun gunung pedangnya lantas menimbulkan keributan sehingga terpaksa dia menyerahkan pedang palsu itu kepada Kiang Tojin! Kini, pedang tulen masih berada di puncak Kiam-kok-san.
Setelah mengalami banyak hal yang amat tak enak, bertemu dengan orang-orang pandai yang memusuhinya, dia tahu bahwa dia harus kembali ke sana, harus menggembleng diri seperti yang dipesankan suhu-nya. Dia harus dapat menemukan kitab-kitab peninggalan suhu-nya, memperdalam ilmunya agar dia dapat menjaga diri kalau berhadapan dengan tokoh-tokoh dunia kang-auw, baik para datuk hitam mau pun para datuk putih!
Seminggu setelah dia meninggalkan dusun di mana terdapat kuburan Ciang Bi, dia telah tiba di kaki Pegunungan Bayangkara yang menyambung dengan Pegunungan Kun-lun, setelah dia berhasil melewati Pegunungan Min-san. Akan tetapi untuk sampai di tempat markas Kun-lun-pai, masih amat jauh dan sedikitnya dia harus melakukan perjalanan naik turun gunung selama setengah bulan.
Selagi Keng Hong enak-enakan berjalan mendaki sebuah lereng, tiba-tiba saja terdengar bentakan keras dan muncullah puluhan orang yang menghadang jalan, bahkan segera mengurungnya. Keng Hong terkejut bukan main karena orang-orang yang mengurungnya ini jumlahnya tidak kurang dari lima puluh orang dan semuanya memegang senjata tajam! Apa bila dilihat keadaan mereka, pasti bukan perampok, karena selain mereka terdiri dari bermacam-macam orang yang berpakaian cukup baik, juga di antara mereka terdapat pula wanita-wanita yang cantik dan gagah.
"Berhenti dulu, orang muda!" Yang membentak adalah seorang kakek berjenggot panjang, tangan kiri bertolak pinggang dan tangan kanan meraba gagang golok yang terselip pada pinggangnya. Gagang golok ini indah sekali, terbuat dari emas yang diukir seperti kepala naga. Kakek yang berjenggot panjang dan berusia kurang lebih lima puluh tahun ini masih kelihatan gagah dan kuat sehingga Keng Hong merasa kagum dan cepat menjura.
"Locianpwe siapakah dan ada kepentingan apa menghadang perjalanan saya?"
Kakek itu mengelus jenggotnya dan tercengang, juga bangga dan girang. Tak diduganya bahwa pemuda yang menurut laporan anak buahnya yang telah membunuh muridnya itu begini sopan dan halus, dan menyebutnya ‘Locianpwe’! Sikap Keng Hong ini saja sudah melenyapkan sebagian dari kemarahannya.
Akan tetapi mengingat akan kematian muridnya dan banyak anak buah muridnya, dia lalu berkata lagi dengan suara nyaring, "Aku adalah Kiam-to (Si Golok Emas) Lai Ban, wakil ketua Tiat-ciang-pang dan mereka semua ini adalah anak buah Tiat-ciang-pang!"
__ADS_1
Keng Hong memandang penuh perhatian. Seingatnya ia belum pernah berurusan dengan orang-orang dari Tiat-ciang-pang (Perkumpulan Tangan Besi), hanya pernah mendengar bahwa perkumpulan ini adalah sebuah perguruan silat yang lumayan besar dan kabarnya membantu atau memihak kepada pemerintahan utara.
"Maaf, menurut ingatan saya yang bodoh, belum pernah saya berurusan dengan pihak Locianpwe, maka entah kesalahan apa yang telah saya lakukan di luar kesadaran saya terhadap Tiat-ciang-pang, mohon Locianpwe suka memberi penjelasan."
Lai Ban semakin suka kepada pemuda ini. Dia lalu menoleh ke belakang dan bertanya dengan suara keras.
"Heiii, benar inikah bocah yang kalian maksudkan itu?"
Tiga orang muncul, laki-laki tinggi besar yang segera menuding ke arah Keng Hong dan berkata, "Benar, Ji-pangcu (Ketua Ke Dua), dia inilah bocah setan yang telah membunuh Kiang-twako dan mengaku bernama Cia Keng Hong!"
Teringatlah Keng Hong sekarang bahwa tiga orang ini terdapat di antara anak-anak buah penjahat yang mengeroyok Ciang Bi. Ketika dia membela gadis itu di depan kuil dalam hutan, dia merobohkan kepala penjahat yang wajahnya seperti Kwan Kong tokoh jaman Sam-kok yang bersenjata golok, kemudian setelah dia merobohkan beberapa orang lagi, diam-diam dibantu pula oleh Biauw Eng dengan senjata rahasianya, sisa gerombolan itu melarikan diri. Agaknya tiga orang ini lalu melapor, dan sungguh di luar dugaannya bahwa kepala penjahat yang brewok dan bersenjata golok besar itu adalah salah seorang anak murid Tiat-ciang-pang.
"Orang muda, benarkah engkau bernama Cia Keng Hong?"
"Tidak keliru, Locianpwe. Nama saya adalah Cia Keng Hong!"
"Benarkah engkau telah membunuh muridku Pun Kiong di depan kuil tua di dalam hutan dekat dusun Ciang-cung?"
__ADS_1
Keng Hong menggeleng kepala. "Saya tidak tahu siapa yang menjadi murid Locianpwe, akan tetapi memang benar saya telah membunuh beberapa orang anggota penjahat yang hendak berlaku keji dan mengganggu dua orang enci dan adik..." Keng Hong berhenti dan lehernya terasa seperti tercekik karena dia teringat kepada Ciang Bi, nona cantik jelita yang tewas secara mengerikan di tangan Song-bun Siu-li Biauw Eng itu.
Kakek itu menggerakkan alisnya dan matanya mulai menyinarkan kemarahan. "Hemmm, kalau begitu benar engkau yang membunuh muridku dan anak buahnya. Bocah lancang, mengapa engkau membunuh mereka? Berani engkau menghina Tiat-ciang-pang dengan membunuh seorang anak muridnya?"
"Maaf, Locianpwe. Saya tidak tahu bahwa dia itu murid Locianpwe atau anak murid dari Tiat-ciang-pang. Saya hanya tahu bahwa mereka itu sangat jahat dan hendak menghina seorang gadis baik-baik..."
"Aahhh! Engkau seperti orang baik-baik, bukan orang jahat. Akan tetapi mengapa engkau selancang itu? Apakah engkau anak murid Hoa-san-pai?"
"Bukan, Locianpwe."
"Kalau bukan, mengapa membela orang-orang Hoa-san-pai?"
Keng Hong merasa terdesak. Kakek ini benar pandai berdebat sehingga dia tersudut oleh pertanyaan-pertanyaan itu. "Saya... saya hanya melihat seorang gadis dan adiknya... eh, diganggu orang-orang jahat..."
"Cia Keng Hong! Bagaimana kau bisa membedakan bahwa gadis dan adiknya itu adalah orang-orang baik dan anak buah muridku orang-orang jahat?" Kakek itu membentak lagi, membuat Keng Hong tertegun karena memang tentu saja dia tidak dapat membedakan, dia hanya membantu Ciang Bi dan Lai Sek berdasarkan rasa kasihan melihat seorang gadis dikeroyok banyak laki-laki tinggi besar.
"Tentu karena gadis itu cantik dan kami laki-laki mana mampu melawan kecantikannya?" teriak salah seorang di antara mereka yang dahulu mengeroyok Keng Hong dan ucapan ini disambut dengan suara ketawa.
__ADS_1
"Cia Keng Hong, agaknya engkau seorang pemuda hijau yang baru saja muncul di dunia kang-ouw. Akan tetapi menurut pelaporan anak buah muridku, engkau lihai sekali. Dari golongan atau partai manakah engkau? Siapa gurumu?"