
Gadis itu kembali menekan perutnya karena geli, akan tetapi mulutnya bertanya, "Banci? Apakah itu? Manusia atau binatang?"
Keng Hong menggelengkan kepalanya. Semua kata-kata yang keluar dari mulutnya tadi hanyalah tiruan saja dari ucapan suhu-nya dan dia sendiri pun tidak tahu apa itu yang disebut banci. Maka dia pun hanya mencontoh jawaban suhu-nya pada saat dia bertanya tentang banci. "Banci itu bisa manusia bisa binatang, akan tetapi yang pasti dia itu bukan pria dan bukan pula wanita, atau boleh juga disebut bahwa dia itu dapat menjadi pria mau pun wanita!"
"Eh..., aku menjadi bingung. Bagaimana sih jelasnya?"
"Jelasnya... aku sendiri pun tidak tahu karena selama hidupku belum pernah aku bertemu dengan seorang banci!"
"Engkau belum menjawab pertanyaanku, Hong-ko, apakah engkau suka kepadaku?"
"Sudah kukatakan tadi, mana ada kumbang tidak suka akan kembang?"
__ADS_1
"Engkau bukan kumbang!"
"Hanya kiasan, Bi-moi, kuumpamakan diriku adalah seekor kumbang dan engkau adalah setangkai kembang. Kumbang takkan pernah jemu untuk berdendang memuji kecantikan kembang, tak akan jemu-jemu membelai dan menciumnya..."
Wajah Ciang Bi menjadi makin merah, kepalanya menunduk, jantung berdebar keras dan jari-jari tangannya menggigil. Keng Hong yang melihat jari tangannya menggigil itu, jari-jari tangan yang kecil dan bentuknya meruncing, dengan kuku-kuku jari yang halus bersih terpelihara, tanpa disadarinya sudah menggeser duduknya mendekat, kemudian dengan hati-hati dia memegang tangan itu.
"Tanganmu gemetar, Moi-moi... dan agak dingin. Mengapa?"
"Hong-ko... kalau engkau menjadi kumbangnya... aku suka menjadi kembangnya..." Suara Ciang Bi juga gemetar, napasnya agak terengah karena hatinya berguncang.
Keng Hong tersenyum girang, lalu dengan tangan kirinya dia meraba dagu yang halus itu, mengangkat muka cantik itu sehingga mereka berpandangan dan dia bertanya,
__ADS_1
"Bi-moi cintakah engkau kepadaku?" Pertanyaan yang langsung seperti tusukan sebatang pedang yang meruncing.
Dulu suhu-nya setiap kali menceritakan segala pengalamannya pada waktu muda selalu diselingi nasehat-nasehat tentang wanita. Nasehat yang dia masih ingat dan sekarang dia praktekkan terhadap Ciang Bi adalah begini: ‘Jangan sekali-kali memaksa wanita untuk melayani cintamu dan jangan pula sekali-kali jatuh cinta karena sekali jatuh, engkau akan terikat dan kesengsaraan akan timbul. Lebih baik bertanya terus terang apakah wanita itu mencintaimu dan jangan menolak cinta kasih wanita, bila engkau tertarik kepadanya tentu aja!’
Nasehat inilah yang teringat oleh Keng Hong pada waktu secara tiba-tiba dia mengajukan pertanyaan yang langsung itu kepada Ciang Bi. Tentu saja gadis itu menjadi malu sekali untuk menjawab. Akan tetapi karena hati Ciang Bi sudah terpikat, baik oleh ketampanan wajah, kelihaian, mau pun budi bahasa pemuda itu, dia makin menunduk dan menjawab lirih seperti bisikan, "Dengan seluruh jiwa ragaku, Koko..."
Tangan mereka pun makin erat saling meremas dan terdengar Keng Hong berkata, juga secara blak-blakan, "Juga masih mencintaku walau pun kelak aku tidak mungkin menjadi suamimu?"
Ciang Bi mengangkat mukanya, memandang tajam. Wajahnya menjadi pucat, akan tetapi kemudian menjadi merah kembali dan dia menjawab, "Apa kau kira sikapku ini merupakan perangkap untuk menjebak seorang calon suami?"
Keng Hong tertawa, menarik lengan gadis itu yang dengan lemas menurut saja sehingga rebah dalam pelukan pemuda yang amat dikaguminya itu...
__ADS_1