
Pandang matanya berkunang dan kepalanya terasa pening sehingga Keng Hong terpaksa harus memejamkan matanya. Bila ia membuka matanya, ia menjadi silau dan berkunang lagi. Terpaksa ia pejamkan terus matanya, dan hanya mendengarkan dengan telinganya. Yang terdengar hanya lengking dan suara bercuitan, dia tidak tahu bagaimana jalannya pertandingan itu, siapa yang menang dan siapa yang kalah.
Jangankan bagi mata Keng Hong yang belum terlatih, bahkan sembilan orang sakti yang telah tinggi tingkat kepandaiannya itu pun menjadi silau dan pening. Makin lama gerakan Sin-jiu Kiam-ong dan ketiga orang lawannya, terutama sekali gerakan Raja Dewa Lengan Delapan, semakin cepat sehingga sukar diikuti pandangan mata lagi.
Sinar pedang Siang-bhok-kiam yang hijau itu mendadak menjadi lebar sekali pada waktu terdengar Sin-jiu Kiam-ong membentak, kemudian nampaklah sinar hijau mencuat ke tiga jurusan seperti bercabang, disusul pekik kesakitan tiga orang iblis itu. Tetapi tampak jelas oleh kesembilan orang itu betapa ujung pedang Siang-bhok-kiam sudah berhasil melukai dada ketiga orang iblis, dan sebaliknya, pipi kanan Sin-jiu Kiam-ong terkena guratan kuku tangan Ang-bin Kwi-bo dan punggungnya terkena gebukan salah sebuah tengkorak yang terbang membalik dan seolah-olah mencium punggung kakek itu.
Sin-jiu Kiam-ong terhuyung ke belakang, akan tetapi tiga orang lawannya juga mencelat sampai tiga tombak jauhnya. Mereka kini berdiri saling pandang, tak bergerak. Tiga orang iblis itu terengah-engah, pandang mata mereka beringas, mulut menyeringai.
Tiga orang iblis ini diam-diam merasa girang sekali. Sin-jiu Kiam-ong sudah terkena luka beracun. Racun-racun pada kuku Ang-bin Kwi-bo amat hebatnya, dan racun di tengkorak Pak-san Kwi-ong juga tak kalah ampuhnya.
Apa bila mereka bertanding lagi, amatlah sukar mengalahkan kakek itu yang benar-benar patut berjuluk Raja Pedang oleh karena permainan pedangnya memang hebat di samping pedang itu sendiri amat ampuh. Akan tetapi kalau mereka mengadu sinkang, pengerahan tenaga sakti akan membuat racun itu menjalar secara hebat dan akan membunuh Sin-jiu Kiam-ong! Dada mereka terkena tusukan ujung pedang Siang-bhok-kiam, namun karena tubuh mereka kebal dan luka itu tidak terlalu dalam, juga tak mengandung racun, mereka tidak khawatir untuk mengerahkan seluruh sinkang di tubuh mereka.
__ADS_1
"Sin-jiu Kiam-ong, bersiaplah untuk mampus!" bentak Pak-san Kwi-ong.
Ia telah menekuk kedua lututnya, berdiri setengah jongkok, kemudian setelah melibatkan senjata rantai di pinggangnya raksasa hitam ini mendorongkan kedua lengannya sambil mengerahkan tenaga sinkang. Itulah pukulan jarak jauh yang mengandalkan Iweekang yang sudah sempurna, dikendalikan oleh sinkang (hawa sakti) untuk memukul lawan dari jarak jauh.
Pada waktu yang bersamaan, Ang-bin Kwi-bo yang tadi memutar-mutar kedua lengannya sehingga terdengar suara berkerotokan dan kedua lengannya menggigil, kini mendorong lengan kanan ke depan sedangkan lengan kirinya diangkat lurus ke atas dengan telapak tangan menghadap ke atas.
Pat-jiu Sian-ong telah menancapkan hudtim-nya di pinggang, kemudian kedua tangannya bergerak-gerak mendorong ke depan. Berbeda dengan dua kawannya yang mendorong sambil mengerahkan sinkang tanpa menggerakkan lengan, kakek kate ini terus-menerus menggerak-gerakkan kedua lengan dengan telapak tangan menghadap ke arah Sin-jiu Kiam-ong dan melakukan gerakan-gerakan memukul dengan telapak tangan.
“Wut-wuut-wuutt…!” Terdengar bunyi dari kedua telapak tangan itu.
Karena itu sambil tersenyum dia pun lalu duduk bersila dan begitu tiga orang lawan itu menggerakkan lengan, dia pun langsung mendorong ke depan dengan kedua lengannya, menghadapi lawan. Segera terasa olehnya tenaga gabungan lawan menyerang dirinya. Dia mengerahkan sinkang, disalurkan ke dalam kedua lengannya, berkumpul pada kedua telapak tangannya dan ketika dia mendorong, serangkum tenaga dahsyat menerjang ke depan dan menahan angin pukulan tiga orang lawannya.
__ADS_1
Apa bila sembilan orang tokoh kang-ouw itu memandang dengan hati penuh ketegangan, maka Keng Hong memandang dengan melongo dan hati penuh keheranan. Apakah yang mereka lakukan, pikirnya. Sungguh lucu. Mengapa mereka itu diam tidak bergerak seperti patung dengan lengan diluruskan ke arah lawan dan hanya kakek kate itu saja yang terus menggerak-gerakkan kedua lengan, mendorong-dorong angin kosong? Apakah mereka itu sedang bermain-main? Ataukah mereka sudah sedemikian tuanya sehingga menjadi pikun atau kehabisan tenaga setelah pertandingan yang serba cepat tadi?
“Trik-trik-trik…!” Tiba-tiba terdengar suara terus-menerus, makin lama makin nyaring.
Kiranya suara itu keluar dari kuku-kuku jari tangan Ang-bin Kwi-bo yang sengaja sambil mendorong menyentil-nyentil antara kuku-kukunya sendiri sehingga mengeluarkan bunyi seperti itu.
Beberapa detik kemudian suara itu disusul oleh suara menggereng keras yang keluar dari kerongkongan mulut Pat-san Kwi-ong yang terbuka. Suara gerengan yang rendah, tetapi tiada hentinya, sambung-menyambung dan mengandung getaran hebat.
Segera dua suara ini disusul pula dengan suara duk-creng-duk-creng seperti tambur dan gembreng. Kiranya suara ini keluar dari sebuah tambur kecil yang pinggirannya dipasangi kelenengan. Pat-jiu Sian-ong memegang tambur ini dengan tangan kirinya sedang tangan kanan masih terus didorong-dorongkan ke arah Sin-jiu Kiam-ong. Oleh kakek pendek ini tambur itu dipukul-pukulkan pada paha dan lututnya, sekali dipukulkan pada kulit tambur kemudian pada tepi lingkaran sehingga menimbulkan suara duk-creng-duk-creng nyaring sekali.
Sembilan orang itu mendadak duduk bersila dan memejamkan mata. Keng-Hong menjadi heran sekali dan lebih kagetlah dia ketika tiba-tiba kedua kakinya gemetar dan dia pun jatuh terduduk. Jantungnya berdebar aneh dan telinganya seperti ditusuk-tusuk rasanya.
__ADS_1
Ia melihat betapa Sin-jiu Kiam-ong menjadi pucat wajahnya, tubuhnya menggigil, dahinya penuh keringat dan tubuh kakek yang bersila itu pun mulai gemetar, kedua lengan yang dilonjorkan ke depan bergoyang-goyang! Dia tidak mengerti dan sama sekali tidak tahu bahwa suara-suara yang dikeluarkan oleh ketiga orang manusia iblis itu merupakan suara mukjijat yang mengandung tenaga getaran amat hebat dan dapat melumpuhkan bahkan membinasakan lawan!
Untung bahwa Keng Hong belum pernah mempelajari Iweekang, karena kalau dia sudah mempelajarinya dan mengerti akan pengaruh suara ini, tentu dia pun telah roboh binasa.