Pendekar Pedang Kayu Harum

Pendekar Pedang Kayu Harum
Pkh 14 part 1


__ADS_3

PADA hari ke tiga, sesudah kesabarannya hampir habis, sesudah kepalanya mulai pening karena kegagalan dan tenaganya habis karena mencokel-cokel serta mendorong-dorong setiap bagian dinding dan batu, tiba-tiba dia tertarik dengan bunyi nyaring pada saat dia mengetuk-ngetuk dinding hitam di bagian belakang dengan pedangnya.


Bunyi nyaring ini menjadi tanda bahwa batu yang menjadi dinding itu kosong tidak berisi, atau di balik dinding itu merupakan ruangan kosong! Jantungnya berdebar dan mulailah dia meneliti. Bagian ini gelap karena dindingnya adalah batu -batu berwarna hitam.


Keng Hong menggunakan pedangnya menusuk-nusuk dan tiba-tiba pedang itu menusuk sebuah lubang sampai amblas ke gagangnya! Keng Hong menahan seruannya, kemudian cepat memutar-mutar pedang Siang-bhok-kiam itu ke kanan kiri.


Tiba-tiba terdengarlah bunyi gemuruh di belakang dinding batu itu. Keng Hong mencabut pedangnya dan bunyi gemuruh itu disusul dengan suara bergerit, kemudian dinding itu bergerak dan tampaklah sebuah lubang lima kaki persegi besarnya di dinding batu hitam itu!


"Terima kasih, Siang-bhok-kiam, lagi-lagi engkaulah yang telah menolongku!" Keng Hong mencium Pedang Kayu Harum itu kemudian dia merangkak-rangkak memasuki lubang ini. Siapa tahu kalau di sebelah sana ada jalan yang akan membawanya kepada kebebasan, pikirnya.


Begitu dia menembus dinding batu hitam yang tebalnya ada dua meter itu, dia melihat sebuah kamar lain di balik dinding dan hatinya kecewa. Bukan jalan keluar, kamar ini pun merupakan jalan buntu!

__ADS_1


Akan tetapi, kekecewaannya segera lenyap, tertutup oleh keheranan dan kengerian ketika melihat sebuah kerangka manusia yang masih utuh sedang ‘nongkrong’ duduk di sebuah kursi gading! Tengkorak dari rangka itu agak menunduk dan kelihatannya seperti sedang mentertawakannya!


Keng Hong bergidik dan menggoyang-goyang kepalanya. Mimpikah dia? Ataukah karena tiga hari bekerja terus tanpa makan membuat dia tidak dapat lagi menggunakan mata dan pikirannya secara normal? Akan tetapi, betapa pun dia menggoyang kepalanya, ketika dia kembali memandang, rangka itu tetap berada di sana, duduk di atas kursi gading dan di sebelah rangka itu terdapat sebuah meja gading pula.


Kaki meja itu terbuat dari pada gading terukir, permukaannya dari batu putih halus dan di atas meja itu terletak sebuah kitab yang sudah kuning saking tuanya. Sejenak Keng Hong terpesona. Walau pun rangka itu hanyalah sekumpulan tulang manusia, akan tetapi sikap duduknya masih membayangkan sikap tegak dan wibawa, seperti sikap seorang raja atau seorang yang sudah biasa disembah-sembah orang.


Anehnya, bagi Keng Hong timbul perasaan seolah-olah rangka itu merupakan tuan rumah atau pemilik ruangan-ruangan di dalam batu pedang ini, dan dia sendiri sebagai tamu tak diundang. Dia merasa bersalah, dan tanpa disadarinya pula, Keng Hong menekuk kedua lututnya dan berbisik, "Locianpwe, mohon maaf atas kelancanganku..."


Ia berlutut sambil menunduk dan begitu dia menunduk, tampak ukiran huruf-huruf kecil di atas batu lantai di depan lututnya. Huruf-huruf itu terukir amat kecilnya sehingga tak akan dapat dilihatnya kalau dia tidak berlutut sambil menundukkan muka. Jantungnya berdebar apa lagi ketika dia mengenal ukiran huruf-huruf ini serupa benar dengan ukiran-ukiran di gagang pedang Siang-bhok-kiam! Jelas bahwa ukiran huruf-huruf di atas lantai itu dan di gagang pedang dibuat oleh satu orang, yaitu gurunya, Sin-jiu Kiam-ong!


Keng Hong menduga-duga. Tidak akan keliru kalau dia menduga bahwa rangka ini adalah rangka dari Thai Kek Couwsu, yaitu pendiri Kun-lun-pai yang dikabarkan dahulu bertapa di Kiam-kok-san dan lenyap bersama raganya sehingga batu pedang dianggap sebagai tempat keramat oleh Kun-lun-pai. Kiranya kakek yang dikabarkan sakti bagaikan dewa itu berada di sebelah dalam batu pedang dan meninggal dunia di tempat yang tersembunyi ini! Dan rangkanya diketemukan suhu-nya, Sin-jiu Kiam-ong!

__ADS_1


Ia pun makin menghormat rangka itu dan cepat menyembah delapan kali sambil berkata, "Teecu Cia Keng Hong mohon maaf atas kelancangan teecu pada Couwsu yang mulia."


Kemudian perhatiannya tertarik kepada kitab di atas meja. Tadinya dia ragu-ragu, karena merasa tidak berhak untuk menyentuh kitab itu. Akan tetapi kemudian dia berpikir bahwa gurunya yang amat suka akan ilmu dan suka pula akan kitab-kitab pusaka, mustahil kalau tidak memeriksa kitab itu. Mungkin itukah sebabnya gurunya menghaturkan terima kasih kepada Thai Kek Couwsu?


Tidak ada seorang ahli silat yang tidak akan tertarik untuk membaca kitab peninggalan seorang sakti! Maka dia pun segera bangkit dan menghampiri meja itu, dengan hati-hati sekali mengambil kitab dari atas meja. Tiba-tiba terdengar suara berkerotokan dan rangka itu runtuh dari atas kursi mengeluarkan suara hiruk-pikuk!


Keng Hong cepat meloncat ke samping, wajahnya pucat saking kagetnya. Akan tetapi dia segera mengerti bahwa apa bila ada sedikit pergerakan saja maka tulang-tulang itu tentu runtuh, sebab memang tidak ada penyambungnya lagi. Bila rangka itu masih dapat duduk sekian lamanya, hal ini adalah karena cara ‘duduk’ tulang-tulang yang merupakan rangka itu sangat tepat, sesuai dengan cara duduk bersemedhi yang dinamakan ‘keseimbangan’. Ia menjadi makin kagum lalu meletakkan kitab di atas meja untuk bisa menyempurnakan sisa-sisa raga Thai Kek Couwsu dengan cara membakar tulang-tulangnya itu.


Tulang-tulang itu sudah sedemikan keringnya sehingga mudah sekali dimakan api, maka sebentar saja raga pendiri Kun-lun-pai itu sudah menjadi abu. Keng Hong mengumpulkan abu ini dan menaburkannya ke dalam jurang di ujung lorong yang dihuni burung-burung walet. Abu tipis beterbangan tertiup angin, memenuhi udara seakan menjadi satu dengan alam di sekelilingnya!


Keng Hong segera kembali lagi ke kamar rangka itu dan begitu mengambil kitab di atas meja, kini tampaklah huruf-huruf terukir pada permukaan meja seperti digurat-gurat benda tajam. Huruf-huruf ini berbeda dengan gaya tulisan Sin-jiu Kiam-ong, maka dia menduga bahwa ini tentulah tulisan Thai Kek Couwsu. Dengan hormat ia pun membaca huruf-huruf terukir itu.

__ADS_1


‘Thai-kek Sin-kun ditinggalkan untuk dia yang berjodoh memasuki tempat ini dan diharap dia suka menjadi ketua Kun-lun-pai.’


Keng Hong mengerutkan keningnya dan belum berani membuka kitab yang pada kulit luarnya tertulis namanya: THAI KEK SIN KUN. Ahhh, kini dia pun mengerti akan maksud huruf-huruf di lantai, yang ditulis oleh Sin-jiu Kiam-ong.


__ADS_2