
Keng Hong mengangkat sepasang alisnya yang hitam tebal. Selamanya baru sekali ini ia bicara dengan gadis, apa lagi gadis yang begini lincah. Ia tertarik sekali, akan tetapi juga merasa canggung. Kemudian teringat dia akan watak suhu-nya, maka dia lalu tersenyum lebar dan melangkah menghampiri gadis itu, lalu menjatuhkan diri duduk di atas rumput di hadapan gadis itu.
Dalam beberapa detik, pandang matanya yang tajam sudah meneliti gadis yang duduk makan paha ayam panggang di hadapannya itu. Wajah yang berkulit halus kemerahan, cantik jelita dengan bentuk wajah bulat telur. Rambut hitam gemuk yang kacau dan tak tersisir, menutup sebagian pipi kirinya karena kepala itu agak dimiringkan ke kanan. Alis yang panjang kecil dan hitam. Sepasang mata yang jeli, lebar dan jernih sekali, dengan kerling yang sangat tajam, mata yang aneh karena dia seperti dapat melihat bayangan gembira, berani, menantang dan merenung di dalamnya.
Hidung kecil mancung di atas sepasang bibir yang dianggapnya merupakan bibir terindah yang pernah dilihatnya. Penuh dan berkulit halus seakan-akan sepasang bibir itu mudah pecah, berwarna kemerahan dan basah berminyak. Dagunya kecil agak meruncing, jelas menambah kemanisan.
Pakaiannya terbuat dari sutera halus dan mewah, tapi potongannya amat ketat sehingga membayangkan dada yang penuh menonjol, pinggang kecil dan pinggul yang lebar. Kulit yang mengintai dari balik leher baju, dari lengan, tampak halus dan putih sekali.
Beginikah wanita cantik yang suka disebut-sebut suhu-nya dan diumpamakan setangkai bunga yang harum? Dia kini dapat merasakan persamaannya. Memang laksana bunga sehingga membuat hati ini kepingin menyentuh, kepingin mencium, kepingin memandang dan menikmati keindahannya.
"Mungkin aku seperti monyet, akan tetapi saat ini sama sekali aku tak mencium bau ikan asin, melainkan mencium bau sedap gurih daging panggang!"
"Kau kepingin?" Gadis itu menghentikan gigitannya. Mulutnya yang penuh dengan daging itu mengunyah perlahan, matanya mengerling Keng Hong.
Pemuda remaja ini memandang mulut yang sedang mengunyah itu. Tanpa terasa lagi dia menelan ludah dan perutnya mendadak berkeruyuk. Dia lalu mengangguk sambil kembali menelan ludah.
"Kalau kepingin, ambillah. Kau tunggu apa lagi? Jangan malu-malu kucing, kalau kepingin mengapa tidak ambil dan makan sejak tadi?"
"Ahh, tapi daging itu punyamu..."
"Siapa bilang punyaku? Ayam itu berkeliaran di hutan, entah punya siapa!"
"Tapi kau yang menangkap dan memanggangnya..."
"Sudahlah, cerewet benar sih engkau ini! Ambil saja dan ganyang, habis perkara. Bicara saja mana bisa kenyang?"
Meski ditegur, Keng Hong menjadi geli dan tertawa. Gadis ini benar-benar menimbulkan rasa gembira di hatinya. Cocok benar dengan watak suhu-nya. Bagaimana jika suhu-nya yang bertemu dengan gadis seperti ini?
__ADS_1
Dia segera menyambar daging ayam panggang, merobek bagian dada lalu mulai makan daging itu. Benar lezat sekali, gurih dan manis, lagi hangat dan perutnya memang amat lapar.
Setelah habis semua makanan, gadis itu lalu mengeluarkan seguci air dingin dan minum dengan cara menggelogoknya dari mulut guci. Air minum memasuki mulut yang kecil itu, ada yang tumpah membasahi pipi dan tercecer memasuki celah-celah bajunya di leher. Setelah itu, dia menurunkan guci dan menyerahkannya kepada Keng Hong.
Pemuda yang mulai mengenal watak polos dan terbuka gadis itu, menerima guci, akan tetapi dia merasa ragu-ragu juga untuk menggelogok air itu begitu saja. Bibir guci itu masih berlepotan minyak gajih, tentu ketika bibir guci tadi bertemu dengan bibir si gadis.
"Mana cawannya? Kupinjam sebentar untuk minum!"
"Tidak punya cawan!"
"Habis bagaimana minumnya?"
"Tuang saja, seperti aku "
"Tapi... tapi... bekasmu..."
"Kau... kau menghina aku, ya? Tolol kurang ajar!"
Keng Hong juga membelalakkan matanya, bukan karena marah melainkan karena heran. Ia betul-betul merasa tolol berhadapan dengan nona ini. "Menghina...? Aku... aku tidak... ehh, apa sih maksudmu?"
"Kau jijik ya minum secara menggelogok seperti aku? Kau tidak sudi ya karena bibir guci itu berbekas mulutku? Kau kira aku ini penderita sakit paru-paru atau batuk kering? Kau jijik?"
"Wah-wah-wah, harap jangan salah paham dan mengamuk tidak karuan. Bukan... bukan begitu, hanya... aku tadi khawatir kau tidak suka..."
"Tidak suka apanya? Kau benar-benar laki-laki cerewet. Sudah tolol, cerewet lagi! Sialan bertemu laki-laki sepertimu!"
Keng Hong tidak mempedulikannya lagi. Celaka, pikirnya. Kalau wanita ini dilayani, bisa habis dia dimaki-maki. Ia lalu tidak mau mendengarkan lebih jauh melainkan menuang air ke dalam mulutnya, tidak peduli bibirnya bertemu dengan bekas bibir wanita itu. Air yang jernih dan sejuk.
__ADS_1
"Terima Kasih," katanya sambil mengembalikan guci air.
"Kenapa sedikit amat minumnya? Apakah kau takut kalau minuman ini kucampuri racun?" Sambil berkata demikian, gadis itu kembali minum dengan cara menempelkan bibirnya pada bibir guci tanpa memilih-milih lagi.
Heran sekali hati Keng Hong, mengapa menyaksikan bibir wanita itu menjepit bibir guci yang tadi diminumnya, hatinya berdebar dan mukanya terasa panas. Namun dia merasa mendongkol juga mendengar ucapan itu. Betul-betul wanita yang wataknya mau menang sendiri saja. Masa apa yang dia kerjakan selalu disalahkan? Tidak mau minum salah, sekarang sudah minum masih di sangka yang bukan-bukan. Ia menjadi gemas dan andai kata wanita ini adik perempuannya, tentu sudah dia jewer telinganya!
"Aku tidak takut kau beri racun," jawabnya jengkel, dan dia lalu membuang muka sambil melanjutkan, "Sebetulnya, kau menghentikan perjalananku ada urusan apakah?"
Sampai lama gadis itu tak berkata-kata, melainkan memandang wajah Keng Hong penuh perhatian. Pemuda itu tahu akan hal ini sebab dia mengerling dari sudut matanya. Melihat gadis itu terus memperhatikannya, kembali dia mengalihkan pandang matanya.
Kemudian terdengar gadis itu bertanya, "Namamu siapa tadi? Dan berapa usiamu?"
"Cia Keng Hong... Kalau tidak salah usiaku tujuh belas tahun."
"Hemmm..., dan engkau murid Sin-jiu Kiam-ong? Heran benar aku..."
"Mengapa heran?"
"Seorang tokoh sakti seperti Sin-jiu Kiam-ong mengapa mempunyai seorang murid tolol seperti engkau?"
Makin panas rasa perut Keng Hong. Terlalu benar perempuan ini, pikirnya. "Kalau sudah tahu aku tolol, kenapa engkau menghentikan aku?"
Sampai lama wanita itu tidak berkata-kata, kemudian terdengar dia tertawa merdu, tawa cekikikan. "Ehh, kau marah?"
Hemmm, benar-benar tukang menggelitik hati orang, pikir Keng Hong. Gemas dia. Kalau tidak ingat bahwa dia itu seorang wanita tentu sudah ditamparnya. Dia tidak menjawab, hanya menggelengkan kepalanya.
"Ahh, kau marah. Bilang saja kau marah. Ingin aku melihat bagaimana kalau kau marah!"
__ADS_1