
"Baiklah, Locianpwe. Akan tetapi karena Locianpwe yang menantang, harap Locianpwe yang lebih dulu menjawab pertanyaan-pertanyaan saya yang sulit-sulit. Kalau Locianpwe tidak dapat menjawab berarti Locianpwe kalah satu angka. Nanti kita saling perhitungkan, siapa yang mendapat angka terbanyak dia menang."
"Akur! Dapat menjawab mendapat satu angka, tak dapat menjawab dipotong satu angka. Majukan pertanyaanmu, bocah yang menyenangkan hati!"
"Pertanyaan pertama. Apakah bedanya antara ketiga pelajaran yang Locianpwe sebutkan tadi, yaitu mengenai kalimat-kalimat yang saya sebutkan. Untuk jelasnya, apa bedanya antara tiga kalimat ini. Kebijaksanaan tertinggi seperti air! Tulus dan sungguh mengabdi kebajikan! Tukang saluran mengalirkan airnya ke mana dia suka!"
"Heh-heh-heh, pertanyaan kanak-kanak. Amat mudahnya, lebih baik kau tanyakan yang lain dan yang lebih sulit. Baiklah kujawab. Ketiganya tak ada perbedaannya dan ketiganya mengandung nasehat agar manusia meniru sifat air yang sangat bijaksana. Mengapa air disebut bijaksana dalam ayat-ayat suci itu? Pertama, karena air selalu bergerak secara wajar, tidak memaksa sesuatu tidak menentang sesuatu, menurut sifat alam, keluar dari sumbernya kemudian mengalir menuju ke tempat rendah, menyerahkan diri untuk segala macam benda yang membutuhkannya dan memanfaatkannya, tanpa pamrih, dan selalu menempatkan diri di tempat yang paling rendah. Itulah inti pelajaran itu dan ketiganya menggunakan sifat air sebagai contoh."
"Tepat sekali, Locianpwe dan biarlah untuk jawaban ini Locianpwe mendapatkan angka satu. Sekarang pertanyaan kedua. Ada hubungan apakah antara ketiga ayat itu?"
Kakek itu mengernyitkan alisnya. Pertanyaan ini sulit sekali karena tidak mengandung maksud pemecahan filsafat, lebih condong kepada pertanyaan teka-teki. Akan tetapi dia tidak mau kalah karena kalau dia tidak dapat menjawab berarti dia kehilangan nilai satu angka!
__ADS_1
Memang Keng Hong sengaja mengajukan pertanyaan ini untuk memecahkan rahasia Siang-bhok-kiam. Ia maklum bahwa tiga kalimat di pedang itu diambil dari tiga bagian ayat To-tik-keng, Tiong-yong dan Dharmapada, dan jika di dalam kalimat-kalimat itu terdapat rahasia yang sifatnya filsafat, maka sudah tentu akan dapat dipecahkan oleh kakek bongkok yang ternyata seorang ahli dalam segala macam agama. Kalau kakek bongkok ini tidak mampu memecahkannya, apa lagi dia yang dahulu hanya menghafal saja segala kitab itu, belum dapat menyelami maknanya yang sangat dalam. Kalau tidak mempunyai maksud tersembunyi yang dalam, juga akan dapat dia pelajari dari jawaban kakek itu.
"Hubungannya hanya penggunaan air sebagai contoh nasehat. Tiada hubungan apa-apa lagi kecuali persamaan yang menyebut air itu. Kalau dipaksakan hubungannya, tiada lain hanya air dan memang oleh air, seluruh dunia ini dipersatukan dan jika mengingat akan air, tidak ada lagi yang terpisah-pisah, segala sesuatu di dunia ini sambung-menyambung dan sesungguhnya hanya satu, seperti air samudera, walau pun terdiri dari titik-titik air, namun tak dapat dibedakan karena merupakan kesatuan yang tiada bedanya."
Keng Hong mengangguk-angguk, akan tetapi sesungguhnya di dalam hatinya dia menjadi bingung. Agaknya, ketika menuliskan kalimat-kalimat itu, gurunya maksudkan AIR! Akan tetapi, apa artinya air yang hendak ditunjukkan gurunya itu? Air di puncak Kiam-kok-san? Apa maksudnya? Air selalu mengalir ke tempat rendah!
Dan di puncak itu ada sebuah kolam kecil yang menampung semua air yang jatuh dari langit, baik air hujan mau pun air dari embun dan dari kolam ini, air mengalir ke bawah seperti sebuah sungai kecil, hanya dua kaki lebarnya, terus ke bawah melalui celah-celah batu karang.
"Bagus sekali jawabanmu, Locianpwe. Biarlah aku kalah dua nilai. Sekarang pertanyaan ketiga. Kalau ada orang menuliskan tiga buah kalimat tadi bersambung, dengan niat untuk memberitahukan sesuatu yang rahasia, yaitu hendak menunjukkan suatu tempat rahasia, apakah maksudnya?"
Keng Hong tersenyum lebar, "Masih belum, Locianpwe. Kalau kelak sudah gila, tentulah akan kuberi tahu kepada Locianpwe. Sekarang aku belum gila!"
__ADS_1
"Kita berdebat mengenai filsafat, akan tetapi kau selalu mengajukan pertanyaan seperti anak-anak penggembala kerbau bermain teka-teki! Aku tidak sudi menjawab kalau kau hendak mempermainkan aku orang tua!"
"Ahh, sungguh mati saya tidak mempermainkan Locianpwe. Pertanyaan saya ini amatlah penting bagi saya. Percayalah, Locianpwe, hanya satu pertanyaan itu lagi saja. Setelah itu, saya akan bertanya kepada Locianpwe mengenai filsafat yang amat tinggi dan yang belum tentu bisa dijawab oleh dewa sekali pun, yaitu tentang mati dan hidup dan isinya!"
"Bagus! Nah, pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang seharusnya kudengar! Ayo lekas ajukan pertanyaan-pertanyaan tentang mati atau hidup itu."
"Nanti dulu Locianpwe. Saya minta Locianpwe menjawab lebih dulu pertanyaan saya tadi. Apakah kira-kira yang dimaksudkan oleh orang yang merangkai ketiga kalimat itu untuk menunjukkan sebuah tempat rahasia?"
Kakek itu meraba-raba dagunya, kemudian menggaruk-garuk botaknya. "Hemmm, kau keras kepala. Akan tetapi agaknya orang yang meninggalkan tanda seperti itu adalah seorang yang suka bergurau, seorang yang merasa kesepian sehingga melihat air pun kemudian timbul pikiran yang bukan-bukan untuk mempermainkan orang lain. Tentu dia maksudkan air yang mengalir. Mungkin tempat yang dia rahasiakan itu dapat dicari kalau menurutkan air yang mengalir ke bawah. Dan karena di dalam kalimat itu tidak terdapat angka-angka, maka mungkin sekali angka-angka sebagai ukuran tempat itu diambil dari nomor-nomor ayat dan bagian dari ketiga ayat suci itu. Kebijaksanaan tertinggi seperti air, terdapat dalam To-tik-keng bagian ke delapan. Tulus dan sungguh mengabdi kebajikan adalah sifat-sifat kuncu seperti dinasehatkan dalam kitab Tiong-yong bagian tiga puluh satu ayat dua, ada pun yang terakhir tukang saluran mengalirkan airnya ke mana dia suka terdapat di dalam kitab Dhammapada pasal enam ayat delapan puluh. Bila mana diambil angka-angka dalam ketiga ujar-ujar itu, maka terdapatlah angka delapan, tiga puluh satu, dua, enam, dan delapan puluh. Kalau dijumlahkan akan menjadi seratus dua puluh tujuh. Mungkin itulah rahasianya, tempatnya mengikuti aliran air, dan jumlah ukurannya seratus dua puluh tujuh!"
Keng Hong hampir berjingkrak-jingkrak dan menari-nari lagi. Itulah agaknya! Tak ada lain tafsiran dan perhitungan lagi. Itu tentu yang dimaksudkan mendiang suhu-nya. Rahasia Siang-bhok-kiam! Rahasia tempat penyimpanan pusaka! Rahasia tiga baris kalimat pada Pedang Kayu Harum itu.
__ADS_1
"Terima kasih, Locianpwe. Sungguh budi Locianpwe amat besar terhadap saya!" Setelah berkata demikian, Keng Hong membalikkan tubuhnya hendak pergi meninggalkan tempat itu.
"Ehh, ehh, nanti dulu, orang muda! Seeokor kerbau diikat hidungnya, akan tetapi seorang manusia yang diikat mulutnya yang sudah berjanji! Engkau tadi berjanji akan mengajukan pertanyaan tentang mati atau hidup. Hayo penuhi janjimu lebih dulu, kemudian aku yang akan balas mengajukan pertanyaan-pertanyaan."