Pendekar Pedang Kayu Harum

Pendekar Pedang Kayu Harum
pkh 01 part 7


__ADS_3

Merah wajah wanita itu dan kini ia mendamprat, "Tua bangka berhati cabul!"


Akan tetapi suaminya cepat-cepat menyambung, "Sin-jiu Kiam-ong, dahulu kami memiliki perusahaan pengawal barang kiriman. Apakah engkau lupa kepada Hek-houw Piauwkiok (Perusahaan Pengawal Macan Hitam)?"


"Aha, sekarang aku ingat! Bukankah engkau adalah orang she Tan yang menjadi kepala piauwkiok itu? Dan isterimu yang dulu amat galak dan amat pandai menggunakan am-gi (senjata rahasia)? Hemm, aku pernah merampas beberapa benda perhiasan indah yang kau kawal, perhiasan kiriman milik menteri keuangan kerajaan, bukan? Malah puterinya, ahh, masih ingat benar aku akan puteri menteri yang amat cantik manis itu, ia berkenan menemaniku di dalam hutan sampai dua hari dua malam! Aha, pengalaman yang takkan terlupakan olehku! Puteri yang cantik manis, dan dia memberikan tusuk konde dan tanda mata kepadaku. Tusuk konde dan perhiasan-perhiasan yang kurampas itu masih berada dalam kumpulan simpananku. Ehh…, Tan-piauwsu, kini engkau dan isterimu datang mau apakah?"


"Sin-jiu Kiam-ong, pada waktu muda engkau sudah melakukan segala macam kejahatan. Merampok barang milik pembesar tinggi, malah menodai puterinya, mencelakakan kami yang mengawal barang dan puteri. Masih hendak tanya mengapa kami datang? Rasakan pembalasan kami!" Piauwsu (pengawal barang) tua ini menutup ucapannya dengan satu gerakan tangan yang langsung diikuti oleh isterinya.


Cepat sekali gerakan tangan mereka dan tampaklah benda-benda kecil menyambar ke depan dan tahu-tahu suami-isteri itu menyerang Sin-jiu Kiam-ong dengan senjata-senjata rahasia mereka.


Piauwsu itu menggunakan dua macam senjata rahasia, yaitu piauw (pisau sambit) dan Toat-beng-cui (Bor Pencabut Nyawa), ada pun isterinya mempergunakan Ngo-tok-ciam (Jarum Lima Racun) yang jauh lebih cepat dan lebih berbahaya dari pada kedua macam am-gi (senjata gelap) suaminya. Belasan buah senjata rahasia itu menyambar ke bagian tubuh yang lemah, bahkan jarum-jarum halus itu langsung mengarah ke jalan-jalan darah yang mematikan!

__ADS_1


Namun kakek tua renta itu sama sekali tidak menjadi gugup, hanya mengangkat kedua tangannya dan sepuluh batang jari tangannya bergerak-gerak bagaikan sepuluh ekor ular hidup, namun kuku-kuku jari tangan itu merupakan perisai yang tidak hanya menangkis semua senjata rahasia, bahkan dengan sentilan aneh dapat mengirim kembali senjata-senjata kecil itu ke arah penyerang-penyerangnya! Terjadilah hujan senjata rahasia dari kedua fihak, yang menyerang dan yang mengembalikan!


"Sahabat-sahabat yang sealiran! Apa bila hari ini kita tidak melenyapkan seorang oknum busuk, mau tunggu sampai kapan lagi? Marilah kita basmi dia bersama-sama!" teriak Tan Kai Sek, piauwsu tua itu sambil terus menyerang dengan senjata rahasianya.


Tujuh orang gagah yang lain setuju dengan ajakan ini. Mereka semua menaruh dendam kepada Sin-jiu Kiam-ong dan sudah jelas tadi bahwa kalau mereka hanya mengandalkan kepandaian masing-masing, tidak akan mungkin mereka dapat mengalahkan kakek sakti itu. Sambil menyatakan setuju mereka semua mencabut senjata dan menerjang maju!


Akan tetapi mendadak tampak bayangan kakek itu berkelebat ke atas dan ketika mereka memandang, kakek sakti itu bersama Siang-bhok-kiam sudah lenyap pula. Kiranya kakek itu meloncat ke atas dan dengan amat cepatnya merayap naik ke atas batu pedang dan telah lenyap ke dalam awan atau halimun tebal yang menutup bagian atas batu pedang. Dari atas terdengar suaranya tertawa tergelak, seolah-olah suara ini datangnya dari langit karena tidak tampak orangnya yang tertutup oleh halimun tebal.


Sembilan orang itu saling pandang dan tak seorang pun berani naik. Bagi mereka yang berilmu tinggi, kiranya tidaklah amat sukar untuk mendaki batu pedang itu ke atas, akan tetapi batu pedang itu tidak dapat didaki oleh mereka bersama-sama, harus seorang demi seorang. Dan kalau mereka mendaki ke atas seorang demi seorang, sama saja dengan menyerahkan nyawa kepada kakek itu!


Kembali terdengar suara ketawa dari atas. "Ha-ha-ha! Jangan kira aku amat pelit untuk menyerahkan nyawa di dalam tubuh tua ini atau menyerahkan Siang-bhok-kiam. Kuminta waktu sebulan lamanya untuk menikmati tempat ini. Setelah sebulan, kalau kalian masih menghendaki jiwaku, datanglah ke kaki gunung sebelah selatan, di dalam hutan mawar, di sana aku menanti kalian bersama Siang-bhok-kiam!"

__ADS_1


Setelah terdengar suara ini, keadaan menjadi sunyi. Mereka menanti-nanti namun tidak ada suara lagi. Karena merasa tidak akan ada gunanya menanti, apa lagi mencoba untuk mengejar kakek sakti itu ke atas puncak batu pedang yang ujungnya lenyap tersembunyi di balik kabut tebal, akhirnya sembilan orang gagah itu pergi meninggalkan Kiam-kok-san dan di dalam hati berjanji untuk mencari hutan mawar yang dimaksudkan si kakek sakti sebulan kemudian.


...********************...


Pada masa itu, kerajaan Beng (1368-1644) mengalami perpecahan dan perang saudara. Dinasti Beng didirikan oleh Ciu Goan Ciang yang berhasil mengusir pemerintah penjajah Goan (Mongol) dan kemudian menjadi Kaisar pertama Dinasti Beng dengan julukan Kaisar Thai Cu (1368-1398).


Peking (ibu kota utara) yang tadinya merupakan kota raja Kerajaan Mongol, oleh Kaisar Kerajaan Beng ini tidak dijadikan pusat kerajaan. Sebagai ibu kota dipilihnya Nanking (ibu kota selatan) yang letaknya di lembah Sungai Yang-ce-kiang, di daerah yang lebih subur tanahnya.


Akan tetapi kota Peking yang merupakan daerah pergolakan dan pangkalan penting untuk mempertahankan ancaman serangan balasan bangsa Mongol di utara yang sudah diusir dari pedalaman, tetap dipertahankan dan di bekas kota raja Mongol ini diperkuat dengan bala tentara besar dan dipimpin oleh putera Kaisar Thai Cu sendiri, yaitu Yung Lo yang terkenal gagah perkasa dan pandai berperang.


Perpecahan dalam kerajaan Beng yang baru ini terjadi setelah kaisar pertama meninggal. Kaisar Thai Cu meninggal dalam tahun 1398 dan karena putera sulung kaisar ini sudah meninggal dunia, maka sebelum meninggal Kaisar Thai Cu sudah menunjuk keturunan dari putera sulungnya, jadi cucunya yang amat dikasihinya, untuk menggantikannya dan naik tahta pada tahun berikutnya. Cucu yang menjadi kaisar ke dua dari kerajaan Beng ini bernama Hui Ti. Dan peristiwa inilah yang menimbulkan perang saudara.

__ADS_1


__ADS_2