
"Plakkk!"
Dua tangan bertemu dan akibatnya membuat Ang-bin Kwi-bo menggereng marah sebab tangannya sudah tertempel dan walau pun tenaga sedotnya tidak sehebat tenaga sedot yang keluar dari tubuh Keng Hong tadi, akan tetapi kini mulai terasa betapa sinkang-nya tersedot oleh nenek itu.
Ang-bin Kwi-bo mengerti bahaya. Jika dia tertempel dan tersedot oleh Keng Hong masih mudah baginya untuk membebaskan diri, akan tetapi nenek ini amat lihai sehingga hanya dengan sebelah tangan saja akan sukarlah baginya menyelamatkan diri.
Cepat Ang-bin Kwi-bo melepaskan tubuh Keng Hong yang dikepit dengan lengan kirinya, kemudian dia memutar tubuh dan mempergunakan tangan kirinya yang dibuka jari-jarinya mencengkeram ke arah dada lawan. Bukan hanya tangan kirinya yang mencengkeram, juga kepalanya telah bergerak dan seperti ular-ular hitam yang banyak sekali, rambutnya lantas meluncur ke depan.
Nenek tinggi kurus itu tetap tenang menghadapi serangan yang ganas dan amat banyak ini, menggunakan tangan kanannya untuk diputar membentuk lingkaran yang melindungi tubuh. Putaran tangannya ini mendatangkan hawa berputar di depan tubuhnya sehingga serangan rambut-rambut kepala Ang-bin Kwi-bo dapat digagalkan semua karena rambut-rambut itu menjadi buyar pada saat bertemu dengan hawa putaran tangan ini, sedangkan cengkeraman itu sendiri dapat disampok oleh tangan kanan si nenek sakti.
Akan tetapi, karena sebagian tenaganya dikerahkan untuk menghadapi serangan yang sangat ganas itu, tenaga sedotnya menjadi berkurang dan sekali renggut Ang-bin Kwi-bo berhasil membebaskan diri lalu meloncat mundur dengan muka beringas.
Sementara itu, Keng Hong sudah berhasil membebaskan diri dari totokan dan Cui Im sudah cepat-cepat menghampirinya. Akan tetapi pemuda ini tak mempedulikan sikap Cui Im yang memikat, sebab pada saat itu perhatiannya ditujukan kepada nenek yang sedang berhadapan dengan Ang-bin Kwi-bo.
"Lam-hai Sin-ni! Baru saja aku telah mengampuni puterimu dan tentu dia sekarang sudah menjadi mayat kalau tidak melihat hubungan segolongan. Akan tetapi sekarang engkau datang-datang langsung menyerangku, sungguh engkau tidak mengenal persahabatan!" Teriak Ang-bin Kwi-bo dengan nada marah.
__ADS_1
"Dia bohong, Subo!" Cui Im berteriak. "Bila tidak ada Keng Hong murid Sin-jiu Kiam-ong ini yang membantu, teecu dan sumoi tentu sudah dibunuhnya! Dia telah menghina teecu berdua, juga telah menghina nama subo!"
Nenek tinggi kurus yang ternyata adalah tokoh yang paling lihai dari Bu-tek Su-kwi dan bejuluk Lam-hai Sin-ni hanya memandang kepada Ang-bin Kwi-bo, kemudian berkata,
"Ang-bin Kwi-bo, engkau di timur, Pak-san Kwi-ong di utara, Pat-jiu Sian-ong di barat dan aku di selatan, masing-masing tidak saling mengganggu selama puluhan tahun. Sungguh pun kini timbul urusan memperebutkan pusaka peninggalan Sin-jiu Kiam-ong, seharusnya dilakukan secara terang-terangan dan mengandalkan kepandaian, tak semestinya engkau mengganggu anak-anak kecil. Apa bila engkau hendak memamerkan Ban-tok Sin-ciang, majulah. Aku lawanmu!"
Melihat sikap yang dingin ini, Ang-bin Kwi-bo menjadi gentar. Memang ia telah mengenal siapa adanya datuk hitam dari selatan ini, yang sejak dahulu amat terkenal kesaktiannya dan ia tidak mempunyai harapan untuk menang.
Apa lagi dia melihat betapa di situ juga masih terdapat Ang-kiam Tok-sian-li Cui Im, dan Song-bun Siu-li Biauw Eng yang kalau membantu lawan tentu membuat dia lebih berat menghadapinya. Belum lagi pemuda aneh itu yang memiliki ilmu mukjijat dan tentu saja akan membantu kedua orang gadis cantik itu.
Ang-bin Kwi-bo bukan seorang bodoh. Dia adalah seorang tokoh besar yang telah matang pengalamannya. melihat keadaan tidak menguntungkan ini, ia lalu ketawa mengejek.
Lam-hai-Sin-ni bersikap dingin sekali dan kini mengertilah Keng Hong mengapa Biauw Eng yang cantik manis itu mempunyai sikap dingin seperti es. Kiranya ibunya pun seperti manusia es, sehingga nona itu mewarisi sikap ibunya.
Pakaiannya serba putih seperti orang berkabung, sikapnya dingin, wajahnya tidak pernah menyinarkan perasaan hati. Benar-benar ibu dan anak ini mengerikan, lebih mengerikan dari pada wajah Ang-bin Kwi-bo yang buruk dan wataknya yang kasar.
__ADS_1
Kini Lam-hai Sin-ni membalikkan tubuhnya perlahan menghadapi Keng Hong. Kalau tadi ketika menghadapi pandang mata penuh kekejaman dari Ang-bin Kwi-bo pemuda ini tidak merasa gentar, kini berhadapan dengan pandang mata itu, dia merasa bulu tengkuknya meremang. Pandang mata nenek ini seolah-olah terasa olehnya merayap laksana seekor laba-laba di seluruh badan, dingin dan meggelikan.
"Engkau murid Sin-jiu Kiam-ong?" Suara Lam-hai Sin-ni halus, tetapi mengandung tenaga yang mendorong dan memaksa orang harus menjawab sejujurnya karena pandang mata yang dingin itu penuh ancaman.
"Benar, Locianpwe," Keng Hong menjawab singkat sambil menentang padang mata yang dingin itu.
Dengan sikap yang tetap dingin, gerakan tangan lemah lembut, dan suara halus, nenek itu menggerakkan tangan kanannya seperti orang minta sesuatu, "Berikan kepadaku pedang Siang-bhok-kiam."
Keng Hong mengerutkan alisnya. Semua orang minta pedang itu dengan cara dan sikap mereka masing-masing, ada yang kasar, ada yang buas, dan ada pula yang halus seperti sikap nenek ini, akan tetapi baru sekarang ini Keng Hong merasa seram. Sikap nenek ini benar-benar mendatangkan rasa dingin di tengkuknya.
"Siang-bhok-kiam tidak ada pada saya, Locianpwe."
"Hemmm, di mana...?"
"Pedang itu dirampas oleh para tosu Kun-lun-pai."
__ADS_1
"Bohong!" Tiba-tiba nenek itu menggerakkan tangan kanan yang terulur tadi, telunjuknya menuding ke arah Keng Hong dan terdengarlah bunyi bercuitan ketika serangkum tenaga yang luar biasa menuju ke arah dada Keng Hong bagai sebatang pedang yang menusuk.
Keng Hong terkejut sekali, cepat mengibas dengan tangannya sambil membanting tubuh ke kanan terus bergulingan. Tangannya tadi dapat menangkis hawa pukulan yang amat kuat seperti pedang akan tetapi tubuhnya terguling-guling dan akhirnya ia dapat meloncat bangun dengan keringat dingin membasahi lehernya.