Pendekar Pedang Kayu Harum

Pendekar Pedang Kayu Harum
pkh 08 part 2


__ADS_3

"Nanti dulu, Thiang Seng Cinjin!" Tiba-tiba saja Pak-san Kwi-ong berkata dengan suaranya yang keras. "Andai kata aku maju dan berhasil dan merampas pedang Siang-bhok-kiam, apakah pedang itu menjadi milikku?"


"Begitulah yang sudah diputuskan Suhu," jawab Kiang Tojin.


"Dan yang lain-lain tidak boleh merampas dari tanganku?"


"Selama Locianpwe berada di sini, kami akan menjamin bahwa tak akan ada orang yang mengganggu tanpa berhadapan dengan kami. Tentu saja mereka berhak pula mencoba merampasnya dari tangan Locianpwe tanpa menggunakan kekerasan. Sudah diputuskan oleh suhu bahwa tidak boleh dipergunakan kekerasan di wilayah Kun-lun-pai. Tentu saja di luar wilayah Kun-lun-pai, bukan menjadi kewajiban kami lagi untuk mencampuri urusan siapa pun juga."


"Ha-ha-ha, cukup adil! Nah, biar kucoba tenagamu, Thian Seng Cinjin!"


Sambil tertawa-tawa Pak-san Kwi-ong melangkah maju, kemudian memasang kuda-kuda di depan kakek yang menjadi ketua Kun-lun-pai itu. Dua orang datuk hitam yang lain tidak sekasar tokoh hitam ini. Mereka, seperti Ang-bin Kwi-bo dan Pat-jiu Sian-ong, lebih cerdik dan lebih hati-hati.


Mereka itu tidak dapat mengukur sampai di mana tingkat kepandaian dan sampai di mana kekuatan sinkang ketua Kun-lun-pai ini. Sebaliknya, mereka sudah tahu sampai di mana kekuatan Pak-san Kwi-ong yang kalau dibandingkan dengan mereka setingkat. Karena itu mereka itu merasa lebih ‘sip’ untuk menanti. Mereka baru akan mencoba kalau Pak-san Kwi-ong gagal, atau baru akan berusaha merampas pedang itu dari tangan datuk hitam utara itu andai kata pedang dapat dirampas oleh Pak-san Kwi-ong.


Semua orang memandang dengan penuh ketegangan ke arah dua orang kakek yang kini sudah siap mengadu tenaga untuk memperebutkan pedang kayu itu. Sejenak mereka hanya berdiri saling tatap dengan pandang mata penuh mengeluarkan getaran karena penuh dengan tenaga sinkang. Kemudian, perlahan-lahan Pak-san Kwi-ong mengangkat tangan kanan dan menggenggam tubuh pedang kayu yang gagangnya dipegang oleh Thian Seng Cinjin, sedangkan tangan kirinya ditumpangkan ke atas sebuah di antara dua tengkorak yang tergantung di pinggangnya.


Dua orang kakek itu kelihatannya hanya diam saja seperti arca, akan tetapi sebenarnya mereka sudah mulai mengerahkan tenaga sinkang yang disalurkan melalui lengan kanan terus ke pedang kayu, saling dorong, dan saling membetot pedang. Dua tenaga sinkang raksasa yang tidak nampak saling bertemu dengan hebatnya, kedua lengan tergetar dan pedang kayu itu tergetar lebih hebat lagi, sampai bergoyang-goyang mengeluarkan suara berkeretekan, kemudian...

__ADS_1


"Prokkkk...!" pedang itu hancur menjadi berkeping-keping!


Terdengar seruan-seruan kaget dari semua yang menonton pertandingan itu, malah muka Thian Seng Cinjin sendiri menjadi pucat. Pak-san Kwi-ong yang biasanya tertawa-tawa itu kini terbelalak memandangi bagian pedang yang atas, yang kini telah pecah-pecah, telah menjadi kepingan kayu-kayu tak berguna di tangannya.


Kiang Tojin, Ang-bin Kwi-bo dan Pat-jiu Sian-ong masing-masing sudah melangkah maju dan mengambil beberapa kepingan kayu yang berhamburan di atas tanah, lalu mereka meneliti kepingan-kepingan kayu itu, menciumnya.


"Ahhhhh...!"


"Kayu biasa...!"


"Tidak harum bagian dalamnya!"


"Bukan Siang-bhok-kiam...!" Seruan Kiang Tojin yang terakhir inilah yang membuat semua orang tercengang dan saling pandang. Thian Seng Cinjin sendiri melongo, memandang gagang pedang di tangannya dan baru ternyata olehnya bahwa gagang pedang itu kasar buatannya.


"Bu... bukan... Siang-bhok-kiam...?" tanyanya gagap.


Kiang Tojin berlutut di depan suhu-nya. "Benar, suhu. Teecu telah kena diakali Cia Keng Hong! Pedang itu tadi sama sekali buka Siang-bhok-kiam!"

__ADS_1


"Bagaimana kau bisa merasa begitu yakin bahwa pedang itu bukan Siang-bhok-kiam?" tanya Thian Seng Cinjin dan mukanya menjadi merah karena malu.


Masa dia seorang tokoh besar, ketua Kun-lun-pai, sampai bisa diakali oleh seorang bocah yang masih ingusan seperti murid Sin-jiu Kiam-ong itu? Yang lain-lain, termasuk ketiga orang Bu-tek Sam-kwi para datuk golongan hitam itu mendengarkan penuh perhatian.


"Teecu yakin. Pedang ini terbuat dari kayu pohon yang tumbuh di sini, yang memang agak wangi baunya. Pedang ini tidak mungkin Siang-bhok-kiam karena menurut kabar, pedang Siang-bhok-kiam terbuat dari pada kayu yang kerasnya melebihi baja, sedangkan pedang ini terbuat dari kayu biasa. Sekarang mengertilah teecu mengapa bocah itu memberikan pedang ini kepada kita secara demikian mudah!"


"Bocah setan!" Tiba-tiba Lian Ci Tojin memaki. "Aku sudah tahu bahwa dia bukan manusia baik-baik! Ilmunya menyedot sinkang saja sudah menunjukkan bahwa dia seorang calon iblis! Dan Twa-suheng begitu percaya kepadanya! Sungguh memalukan sekali!"


"Lian Ci, diam kau!" Thian Seng Cinjin membentak dengan suara nyaring karena malu dan marah. Di depan orang-orang luar yang begitu banyak, dia tidak senang sekali mendengar muridnya itu menyalahkan saudara sendiri.


Tiba-tiba Pak-san Kwi-ong tertawa bergelak. "Ha-ha-ha-ha! Alangkah lucunya! Para tosu hidung kerbau di Kun-lun-pai sampai kena dikentuti oleh murid Sin-jiu Kiam-ong, seorang bocah yang masih ingusan! Betapa lucunya, tentu hal ini akan menjadi buah percakapan menggembirakan di dunia kang-ouw. Dan tahukah kalian bahwa bocah yang telah menipu kalian itu kini bersenang-senang main gila dengan dua orang gadis cantik murid Lam-hai Sin-ni? Ha-ha-ha, benar-benar bocah itu melebihi gurunya dalam segala hal! Kita semua telah tertipu oleh dia, akan tetapi yang benar-benar makan kotoran yang dilempar anak itu adalah para tosu Kun-lun-pai!"


Wajah Thian Seng Cinjin sebentar merah sebentar pucat. Pukulan batin ini sangat hebat karena selamanya baru sekali inilah Kun-lun-pai mengalami hal yang benar-benar sangat memalukan. Ia pun merasa tak senang kepada Kiang Tojin karena sebenarnya penipuan ini terjadi karena rasa sayang Kiang Tojin terhadap Keng Hong. Andai kata saja tidak begitu mendalam kasih sayang muridnya itu terhadap Keng Hong, tentu tak begitu mudah dia ditipu karena sudah ada kecurigaan.


Karena marah, ketua Kun-lun-pai ini lalu berkata kepada Sian Ti Tojin dan Lian Ci Tojin, justru dipilihnya dua orang di antara muridnya yang tadi menentang Kiang Tojin.


"Sian Ti dan Lian Ci! Sekarang juga pinto perintahkan kepada kalian berdua pergi mencari dan menangkap Cia Keng Hong, kemudian bawa dia ke sini!"

__ADS_1


__ADS_2