Pendekar Pedang Kayu Harum

Pendekar Pedang Kayu Harum
pkh 12 part 5


__ADS_3

Thian Seng Cinjin hanya membalas penghormatan semua tamu kemudian mempersilakan mereka duduk dengan isyarat tangan yang digerakkan perlahan menuju ke arah bangku-bangku yang tersedia di situ.


"Suhu, setelah Cia Keng Hong lepas dari tangan Ngo-sute dan Ji-sute (Adik seperguruan ke lima dan ke dua) teecu dapat menangkap dia di wilayah Kun-lun-pai, sedang dikeroyok oleh para sahabat yang datang dari berbagai partai persilatan dan dunia kang-ouw yang menghendaki agar dilakukan pengadilan atas dirinya. Teecu menyerahkan kepada Suhu dan mohon keputusan." Demikian antara lain Kiang Tojin melapor.


Thian Seng Cinjin menghela napas. "Siancai... siancai! Kekacauan yang ditimbulkan oleh perbuatan mendiang Sin-jiu Kiam-ong dengan sepak terjangnya yang sesuka hati sendiri, kini dilanjutkan oleh muridnya. Muridku, pinto menyerahkan kepadamu untuk mewakiliku dan memulai persidangan pengadilan ini."


Kiang Tojin mengangguk, kemudian bersama enam orang sute-nya lalu bangkit berdiri di belakang suhu mereka. Kiang Tojin lantas berkata kepada semua tamu. "Cu-wi sekalian, sebelum kami mempersilakan cu-wi menjatuhkan tuduhan terhadap Cia Keng Hong, lebih dahulu kami akan menjatuhkan tuduhan kami, harap cu-wi menjadi saksi."


Kiang Tojin memandang sekeliling, menatap satu demi satu pada semua yang hadir, baru kemudian terdengar lagi suaranya.


"Cia Keng Hong! Kurang lebih satu tahun yang lalu engkau sudah menyerahkan Siang-bhok-kiam, tetapi yang kau serahkan itu adalah pedang palsu. Benarkah bahwa engkau telah menyerahkan pedang Siang-bhok-kiam palsu kepada kami?"

__ADS_1


Sejenak keadaan sunyi, kemudian Keng Hong yang masih berlutut sambil menundukkan mukanya lalu berkata, suaranya lantang dan tegas.


"Saya mengaku, memang pedang Siang-bhok-kiam yang saya serahkan kepada Totiang dahulu adalah pedang kayu palsu buatan saya sendiri."


"Jadi engkau mengaku bahwa engkau sudah menipu Kun-lun-pai dan sengaja melakukan penghinaan agar Kun-lun-pai menjadi buah tertawaan orang sedunia?"


"Sama sekali tidak!" Keng Hong mengangkat muka dan memandang Kiang Tojin dengan pandang mata tajam dan penuh ketabahan. "Saya tidak bermaksud menyerahkan pedang palsu. Semenjak turun dari Kiam-kok-san, saya sudah membawa pedang palsu itu karena maklum bahwa banyak orang menghendaki pedang itu. Pedang Siang-bhok-kiam adalah milik suhu yang telah diwariskan kepada saya, mengapa orang lain hendak memintanya? Mengapa pula Kun-lun-pai hendak memintanya, bahkan hendak merampasnya dengan paksa? Adalah kesalahan Kun-lun-pai sendiri yang juga ikut-ikut menginginkan pedang itu sehingga karena terpaksa saya menyerahkan pedang yang saya bawa, pedang palsu buatan saya sendiri yang disangka Siang-bhok-kiam. Saya tidak merasa bersalah dalam penyerahan pedang itu, juga tidak merasa sengaja hendak menipu, hal itu terjadi karena kesalahan! Kun-lun-pai sendiri yang ingin memiliki benda kepunyaan orang lain!"


"Anak ini benar! Bukan salahnya, karena memang pedang itu tidak seharusnya dirampas Kun-lun-pai! Pedang itu adalah hak kami bersama, kami orang-orang yang sudah dibuat sakit hati oleh Sin-jiu Kiam-ong dan yang berhak untuk mendapatkan bagian dari pusaka peninggalannya. Pedang itu harus diserahkan kepada kami agar dapat kami pakai untuk mencari pusaka itu kemudian kita bagi-bagi bersama. Ini baru adil namanya."


"Omitohud, ucapan Toanio itu tepat sekali. Pinceng juga harus mendapatkan kembali dua buah kitab pusaka Siauw-lim-pai yang dulu dicuri oleh Sin-jiu Kiam-ong, maka pedang itu harus diberikan kepada kami. Dalam hal itu, anak ini tidak bersalah terhadap Kun-lun-pai!" kata pula Thian Ti Hwesio tokoh Siauw-lim-pai.

__ADS_1


"Tepat sekali… tepat sekali..!" sambung Sin-to Gi-hiap.


Keng Hong mendengarkan semuanya itu dengan hati geli. Dari sikap para tokoh ini jelas sekali terlihat betapa setiap manusia, betapa pun tinggi kepandaian serta kedudukannya, masih selalu diperhamba oleh nafsu mendahulukan kepentingan diri sendiri. Karena nafsu inilah maka setiap persoalan yang dianggap menguntungkan dirinya, langsung dianggap benar dan tepat. Tetapi jika sebaliknya dan persoalan itu dianggap merugikan, tentu akan ditentang!


Kiang Tojin juga maklum akan hal itu, dan diam-diam dia pun girang bahwa Keng Hong dapat menjawab dengan tepat seperti yang diharapkannya sehingga dapat memperingan ‘dosanya’ terhadap Kun-lun-pai. Akan tetapi di samping perasaan sayang kepada Keng Hong, sebagai orang ke dua Kun-lun-pai sekaligus juga calon pengganti suhu-nya kelak sebagai ketua Kun-lun-pai, tentu saja Kiang Tojin lebih mementingkan kebesaran nama Kun-lun-pai, maka dia lalu berkata,


"Cu-wi sekalian sudah mendengar pengakuan Cia Keng Hong dan dengan pengakuannya itu, kami pihak Kun-lun-pai bisa menerimanya sekalian kami dapat mengampuni dosanya karena setelah diteliti memang pemuda ini tidak bermaksud menipu, namun memalsukan pedang Siang-bhok-kiam dengan maksud supaya yang asli tidak sampai terampas orang lain. Dengan pengakuannya itu, sekaligus nama besar kami telah tercuci dari noda-noda. Pertama, jelas bahwa kami tidak menyembunyikan Siang-bhok-kiam asli seperti disangka banyak orang. Ke dua, Kun-lun-pai jelas bukanlah partai yang tamak akan pusaka orang lain sehingga sampai sekian lamanya kami tidak memeriksa pedang itu palsu atau bukan karena memang kami tidak mempunyai maksud mencari pusaka peninggalan Sin-jiu Kiam-ong. Hanya karena diperebutan oleh tokoh-tokoh kang-ouw, maka pedang itu rusak dan ketahuan bahwa benda itu palsu. Ada pun tentang anggapan bahwa Kun-lun-pai tidak berhak atas pedang itu adalah salah! Pedang itu selama ini selalu berada di wilayah Kun-lun-pai, yaitu Kiam-kok-san, dan segala benda yang berada di wilayah Kun-lun-pai adalah hak kekuasaan kami untuk menentukan apakah boleh dibawa keluar atau tidak."


Lian Ci Tojin dan Sian Ti Tojin, terutama sekali Sian Ci Tojin, yang menginginkan pusaka-pusaka itu untuk dipelajari, merasa tidak setuju dengan ucapan Kiang Tojin ini, akan tetapi karena melihat betapa suhu mereka, Thian Seng Cinjin yang lebih mengutamakan nama baik Kun-lun-pai, mengangguk-ngangguk setuju atas ucapan Kiang Tojin, mereka hanya saling pandang dan mengerutkan kening, tidak berani membantah.


"Cia Keng Hong, karena jelas bahwa engkau belum membawa keluar Siang-bhok-kiam dari wilayah Kun-lun-san, dan mendengar pembelaan diri yang tepat, maka kami dapat mengampunimu dengan syarat bahwa kau harus menyerahkan pedang Siang-bhok-kiam yang asli kepada kami..."

__ADS_1


"Wahhh...!" Terdengar seruan tidak setuju dari para tamu.


__ADS_2