Pendekar Pedang Kayu Harum

Pendekar Pedang Kayu Harum
pkh 04 part 1


__ADS_3

KENG HONG terbelalak, lebih merasa heran dari pada terkejut dan jengah, melihat betapa bagian atas baju itu terbuka memperlihatkan pakaian dalam yang berwarna merah muda dan sebagian dada yang mencuat. Gadis itu merogoh ke balik baju yang menutup dada lalu mengeluarkan sebuah bungkusan merah. Pada waktu dibuka, ternyata bungkusan itu berisi belasan butir pil merah.


Ia mengambil dua butir dan segera menelannya. Ia lalu mengembalikan bungkusan itu ke balik bajunya, kemudian seakan terlupa, gadis itu tidak mengancingkan kembali bagian atas bajunya terbuka itu. Keng Hong terpaksa menundukkan muka agar matanya jangan melihat tonjolan dada yang berkulit putih halus itu.


"Keng Hong, lihatlah kepadaku!"


Terpaksa pemuda itu mengangkat mukanya memandang, berupaya mengusir ketegangan dan kebingungan hatinya. Gadis jelita ini jelas berusaha hendak meracun dirinya. Apakah maksudnya? Kenapa hendak membunuhnya? Ia tahu bahwa racun itu dapat membunuh seorang lawan yang betapa pun kuatnya.


"Lihat baik-baik, Keng Hong. Tidak indahkah rambutku? Tidak cantikkah wajahku? Cantik sekali, bukan?" Gadis itu tersenyum-senyum dan mengerlingkan matanya, bergaya sambil menggerak-gerakkan mukanya supaya dapat terpandang oleh pemuda itu dari depan, kiri dan kanan.


"Hemm, begitulah...," jawab Keng Hong yang masih mencari-cari sebab perbuatan gadis itu. Dia kini dapat menduga bahwa pil merah tadi merupakan obat pemunah racun karena si gadis tadi pun minum air beracun.


"Lihatlah baik-baik dan pandanglah…, apakah kulitku tidak halus dan putih bersih, Keng Hong?" Suaranya kini sangat halus merdu, penuh nada merayu dan tangannya sengaja menyingkap baju atasnya agar belahan dada itu tampak makin nyata.


Keng Hong menelan ludah. Jantungnya berdebar kencang dan dia cepat-cepat menekan dengan kekuatan batinnya. Belum pernah selama hidupnya dia mengalami hal seperti ini, dalam mimpi pun belum!


Gadis yang bernama Bhe Cui Im itu kini bangkit berdiri, gerakannya lemah gemulai, leher, pinggang dan lututnya melenggak-lenggok mengingatkan Keng Hong akan gerakan tubuh seekor ular.

__ADS_1


"Pandanglah baik-baik, orang muda remaja! Tak indahkah bentuk tubuhku? Lihat dadaku, pinggangku, pinggulku..."


"Hemm, agaknya begitulah...!" hanya demikian Keng Hong dapat berkata karena tiba-tiba kerongkongannya seperti menjadi kering kembali, seperti orang kehausan.


"Aku masih muda, cantik jelita, bertubuh menggiurkan! Aku seorang gadis yang sangat menarik hati, bukan?"


"Hemm…, begitulah!"


Tiba-tiba saja Cui Im menghentikan gayanya dan dengan kasar dia duduk di depan Keng Hong. Senyum manis dan kerling mata tajam kini telah lenyap dan gadis itu mengerutkan keningnya dengan bayangan hati kesal.


"Begitulah! Begitulah! Begitulah! Apakah tidak bisa berkata lain, hai orang dungu? Sin-jiu Kiam-ong kabarnya adalah pria tukang merayu wanita nomor satu di dunia, ahli merayu dan mencumbu wanita. Apakah gurumu yang... terkutuk itu tak mengajarkan kepandaian merayu wanita kepadamu, heh, bocah tolol?"


"Kau sudah mau mampus, tahukah? Kau calon bangkai makanan cacing! Hendak kulihat ke mana perginya wajahmu yang tampan itu jika nanti sudah digerogoti cacing. Kau tahu bahwa kau sudah minum racun? Di dalam air tadi, tolol, terdapat racun yang mematikan. Racun bunga Siang-tok-hwa (Bunga Racun Wangi) yang kini sudah memasuki perutmu dan segera akan menghancurkan ususmu, membuat isi perutmu menjadi busuk. Tahukah engkau? Dan obat pemunahnya hanya berada padaku, obat pemunah pil merah seperti yang kutelan tadi. Kalau kau tidak kutolong, nyawamu pasti akan melayang dalam waktu dua puluh empat jam! Nyawamu berada di tanganku sekarang, mengerti?"


Keng Hong mengangguk-angguk. Mengertilah dia sekarang, teringatlah dia bahwa racun yang tak asing baginya itu adalah Siang-tok-hwa. Tentu saja dia mengenalnya baik-baik, dan tadi dia terlupa karena terpesona oleh sikap dan gaya gadis luar biasa ini.


"Cui Im, apakah kehendakmu? Apakah maksudnya semua ini? Kenapa kau meracuniku?"

__ADS_1


"Karena tolol engkau menjadi menyebalkan. Segala apa tidak mengerti. Otakmu tumpul benar dan perlu dicuci! Tentu saja nyawamu kucengkeram untuk ditukar dengan rahasia barang pusaka gurumu yang... terkutuk!"


"Diam dan jangan memaki mendiang suhu atau... aku tidak akan sudi melayanimu bicara lagi!"


Terbelalak mata gadis itu mendengar bentakan yang tak disangka-sangkanya akan dapat dikeluarkan oleh mulut pemuda tolol itu. Akan tetapi hanya sebentar karena dia mengira bahwa hal itu timbul karena kebaktian bocah ini terhadap mendiang gurunya.


"Engkau sudah menyerahkan Siang-bhok-kiam kepada tosu-tosu bau Kun-lun-pai. Akan tetapi pedang itu tidak ada artinya bagiku. Belum tentu dapat menangkan pedangku ini!" Gadis itu meraba pinggangnya dan...


"Swingggg...!"


Tangannya sudah memegang sebatang pedang yang mengeluarkan sinar kemerahan. Kiranya pedang itu amat tipis, terbuat dari pada baja lemas sehingga dapat dipergunakan sebagai sabuk! Kini gadis itu menodongkan ujung pedangnya ke depan dada Keng Hong.


"Aku tak butuh Siang-bhok-kiam! Yang kubutuhkan adalah semua kitab-kitab pusaka dan barang-barang mustika peninggalan suhu-mu. Engkau turun dari Kiam-kok-san dengan hanya membawa pedang, berarti bahwa pusaka-pusaka warisan itu masih belum kau bawa turun. Kau antar aku ke sana, berikan semua itu kepadaku, tunjukkan rahasianya, dan mungkin nyawamu akan kubebaskan, dan selain itu... hemmm, kalau kau tidak terlalu tolol, kita dapat menjadi sahabat baik!"


Keng Hong bukan seorang bodoh sungguh pun kelihatannya dia ketolol-tololan. Dia telah diracun, akan tetapi racun yang ada obat pemunahnya pada gadis itu. Berarti bahwa dia tak akan dibunuh. Gadis ini menghendaki barang-barang pusaka gurunya, tentu saja tak akan membunuhnya, melainkan hendak memaksanya dengan jalan meracuninya.


Benar-benar seorang gadis yang berhati kejam! Mengapa ada seorang gadis cantik jelita seperti ini berhati sekejam itu? Dia merasa sangat penasaran dan perasaan inilah yang mendorongnya hendak menyaksikan lebih lanjut sampai di mana kekejaman gadis ini dan apa yang akan dilakukan atas dirinya.

__ADS_1


"Aku tidak pernah menerima warisan pusaka-pusaka yang kau maksudkan, dan aku pun tidak tahu rahasianya."


"Kau masih berani menyangkal dan menolak permintaanku? Kau murid tunggalnya, tidak mungkin kau tidak mewarisi pusaka-pusaka itu, apa lagi Siang-bhok-kiam telah diberikan kepadamu. Ingat, nyawamu berada di tanganku, tahu? Andai kata engkau memberontak, engkau pun tidak akan mampu menandingi pedangku. Andai kata kau mempergunakan ilmu mukjijatmu dan berhasil melarikan diri, dalam waktu sehari semalam ususmu sudah hancur berantakan dan nyawamu pun takkan tertolong. Jangan bodoh, Keng Hong. Lebih baik engkau menuruti permintaanku agar engkau tetap hidup dan menikmati kesenangan bersama aku."


__ADS_2