Pendekar Pedang Kayu Harum

Pendekar Pedang Kayu Harum
pkh 13 part 2


__ADS_3

Cui Im lalu berlutut dan bersumpah bahwa dia akan tunduk akan segala kata-kata Keng Hong. Sesudah itu Keng Hong menarik tangannya dan cepat berlari mengambil pedang Siang-bhok-kiam tulen yang dia sembunyikan di balik batu karang yang berlubang.


"Wah, ini adalah Siang-bhok-kiam tulen! Baunya saja sudah begini wangi…!"


"Sudah, diamlah dan jangan mengganggu, jangan pula bicara. Lihat saja dan ikuti aku!" Keng Hong membentak karena dia maklum bahwa dia tidak mempunyai banyak waktu. Ia membawa pedang itu ke tempat penampungan air di mana air itu mengalir turun menjadi kali kecil, air yang merupakan sumber kecil akan tetapi tidak pernah kering.


Ia menggunakan pedang itu untuk mengukur, sambil mengukur dia terus mengikuti aliran air yang menuju ke bawah melalui celah-celah batu karang, terus turun ke dinding bagian belakang yang luar biasa curamnya.


"Aku takut turun...!" Cui Im berbisik.


Boleh jadi Cui Im adalah seorang gadis yang mempunyai kepandaian, akan tetapi melihat dinding karang yang luar biasa curamnya, sampai tidak tampak dasarnya akibat terhalang halimun, benar-benar membuat dia menggigil.


"Panjangkah ikat pinggangmu?"


"Panjang. Mengapa?"


"Berikan ujungnya, kau ikatkan pada lenganku dan ujung di situ ikatkan pada lenganmu. Dengan demikian andai kata engkau jatuh ke bawah, aku masih bisa menahanmu. Cepat! Apakah kau tidak taat?"

__ADS_1


Cui Im teringat akan sumpahnya dan dia segera mengangguk, lalu memberikan ujung ikat pinggangnya. Sesudah keduanya mengikat lengan dengan ujung ikat pinggang merah itu, Keng Hong melanjutkan pekerjaannya mengukur jalan air dengan menggunakan pedang Siang-bhok-kiam sambil menghitung. Seratus dua puluh tujuh!


Dia masih ingat akan pemecahan Siauw-bin Kuncu atas deretan sajak yang terukir pada gagang pedang. Sesudah mengukur sampai seratus dua puluh tujuh, yang berarti dia sudah turun dari puncak melalui belakang batu pedang itu sejauh kurang lebih dua ratus kaki, air itu lenyap masuk ke dalam celah batu dan agaknya mengalir ke sebelah dalam batu pedang. Akan tetapi di situ terdapat sebuah padas batu yang agak rata dan lubang ini jelas bukan lubang biasa, melainkan buatan.


Keng Hong berdebar memandang lubang yang bentuknya panjang sempit seperti lubang sarung pedang. Dia memang cerdik, maka tanpa ragu-ragu lagi dia cepat memasukkan Siang-bhok-kiam pada lubang itu dan ternyata pas sekali. Siang-bhok-kiam masuk hingga ke gagangnya dan Keng Hong lalu memutar-mutarnya ke kiri kanan.


Terdengar suara gemuruh di sebelah dalam batu pedang seolah-olah terjadi gempa bumi.


"Ihhhhh, aku takut..!" Cui Im merangkulnya.


Gadis ini dengan susah payah juga mengikuti Keng Hong. Sesungguhnya, dengan tingkat kepandaian dan ginkang-nya, Cui Im akan mampu menuruni batu karang terjal itu. Akan tetapi karena melihat tempat securam itu, jantungnya bergetar sehingga timbul rasa takut.


Tiba-tiba terdengar bunyi batu pecah dan... terbukalah sebuah goa di depan Keng Hong, di sebelah kiri dari ‘lubang kunci’ tadi. Keng Hong cepat mencabut Siang-bhok-kiam, lalu berbisik,


"Suhu hebat sekali!" Suaranya memuji penuh kekaguman. "Mari ikut masuk!"


Kedua orang itu kemudian merangkak masuk karena goa itu hanya satu meter tingginya, merupakan terowongan yang dingin gelap. Akan tetapi Keng Hong percaya penuh dengan kepandaian suhu-nya, dan dia terus merangkak masuk. Beberapa kali dia dipegang dan didorong dari belakang oleh Cui Im yang masih merasa ngeri.

__ADS_1


Kurang lebih seratus meter jauhnya mereka merangkak, tiba-tiba terowongan itu menjadi terang dan lebar sekali. Mereka bangkit berdiri dan tertegun! Kiranya ruang itu merupakan sebuah ‘kamar’ batu yang berdinding licin dan penuh ukiran-ukiran huruf yang indah!


"Nanti dulu, aku lupa menutupkan kembali pintu terowongan!"


Tiba-tiba Keng Hong teringat bahwa para pengejarnya adalah orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Sungguh pun tidak mungkin mereka akan dapat mengukur tempat penyimpanan pusaka dari puncak Kiam-kok-san tanpa bantuan pedang Siang-bhok-kiam, namun siapa tahu kalau-kalau orang-orang sakti itu mencari di setiap tebingnya dan jika mereka lewat di depan itu pasti mereka akan memasukinya. Kalau pintu terowongan yang merupakan dinding batu biasa itu tertutup, tanpa memiliki ‘kuncinya’ yang berupa pedang Siang-bhok-kiam, tak mungkin pula mereka dapat masuk atau menyangka bahwa lubang kecil itu adalah kunci rahasia untuk menuju ke tempat penyimpanan pusaka.


Tanpa menanti jawaban gadis itu yang masih terpesona memandangi keadaan ruangan tadi, Keng Hong merangkak lagi keluar terowongan sambil membawa Siang-bhok-kiam. Setelah tiba di mulut terowongan, dia melihat dan meneliti.


Ternyata bahwa mulut terowongan itu terbuka dengan cara bergesernya sebuah batu besar ke kiri yang tentu digerakkan oleh alat rahasia. Kini batu sebesar gajah itu berdiri di dekat pintu terowongan yang menganga seperti mulut seekor ular raksasa.


Keng Hong memeriksa dan akhirnya dia menemukan lubang ‘kunci’ dari sebelah dalam. Tanpa ragu-ragu lagi dia segera menusukkan Siang-bhok-kiam ke dalam lubang ini yang ternyata seperti lubang di luar, pas menerima masuknya Pedang Kayu Harum. Tiga kali Keng Hong memutar ke kanan dan terdengar suara hiruk pikuk ketika batu sebesar gajah itu tiba-tiba bergerak menggelinding dan menutupi mulut terowongan sehingga kelihatan wajar. Dari luar tak akan ada manusia yang menyangka bahwa sebagian batu kasar yang tampak beserta sebuah lubang itu adalah batu ‘daun pintu’ yang amat besar dan dapat bergerak sendiri.


Puaslah hati Keng Hong. Biar pun keadaan kini amat gelap setelah lubang itu tertutup, namun hatinya lega dan dia merangkak kembali ke dalam. Ia tersenyum geli memikirkan Cui Im. Betapa akan takutnya gadis itu dia tinggal sendirian di dalam ruangan tadi.


Akan tetapi ada pula hal yang menggelisahkan hatinya. Tidak bersalahkah dia terhadap gurunya bahwa dia membawa Cui Im masuk ke tempat ini?


Ah, tentu tidak. Dia tidak sengaja membawa Cui Im ke sini. Adalah gadis itu yang tadinya mencari dan menantinya di lereng Kiam-kok-san, lagi pula gadis itu telah menyelamatkan nyawanya.

__ADS_1


Andai kata dia tidak sedang dikejar banyak orang sakti, tentu dia akan mengusir Cui Im dan tidak akan memperkenankan gadis itu ikut.


__ADS_2