Pendekar Pedang Kayu Harum

Pendekar Pedang Kayu Harum
pkh 03 part 1


__ADS_3

SUDAH sering kali dia diperbolehkan mempergunakan Siang-bhok-kiam untuk berlatih ilmu pedang Siang-bhok Kiam-sut yang sengaja diciptakan gurunya untuk dia, akan tetapi tak pernah dia melihat sesuatu yang aneh pada pedang itu, kecuali huruf-huruf kecil yang terukir di dekat gagang pedang yang isinya merupakan ujar-ujar kuno.


"Apakah suhu menyuruh teecu untuk mempelajari kitab-kitab itu?" tanya Keng Hong untuk menyembunyikan ketegangan hatinya.


"Barang yang mudah didapat tidak akan dihargai, yang sukar didapat barulah berharga, Hong-ji. Kitab-kitab dan benda-benda yang terkumpul di dalam tempat rahasiaku itu juga baru akan berharga bagimu kalau kau mendapatkannya dengan sukar. Akan tetapi tidak hanya kesukaran menjadi syarat, namun terutama sekali jodoh! Apa bila engkau memang berjodoh dengan peninggalanku itu, tentu kelak akan bisa kau dapatkan. Boleh kau cari sendiri melalui Siang-bhok-kiam ini. Nah, kini kau terimalah Siang-bhok-kiam, pedang ini kuberikan kepadamu, muridku..."


Keng Hong terkejut dan memandang wajah gurunya dengan mata terbelalak. Dia belum menerima pedang yang diangsurkan kepadanya, malah bertanya meragu, "Akan tetapi... Suhu pernah bilang bahwa Siang-bhok-kiam seperti nyawa bagi suhu... bagaimana dapat diberikan kapada teecu...?"


"Ha-ha-ha, pedang ini milik siapa dan nyawa ini milik siapa? Kau terimalah sebagai tanda patuh kepada guru."


Keng Hong tidak berani membantah, kemudian menerima pedang Siang-bhok-kiam yang telanjang itu.


"Keng Hong, meski pusaka warisanku harus kau cari dengan dasar jodoh dan kesukaran, akan tetapi ada sesuatu yang dapat kuberikan kepadamu kecuali Siang-bhok-kiam, dan mudah-mudahan pemberianku ini akan dapat menjadi perisai bagimu menghadapi semua lawan tangguh. Selipkan Siang-bhok-kiam di pinggang dan mendekatlah."


Keng Hong segera menyelipkan pedang kayu di ikat pinggangnya, kemudian menggeser duduknya mendekati suhu-nya. Sin-jiu Kiam-ong mengangkat kedua tangannya, yang kiri dia taruh di atas ubun-ubun kepala Keng Hong, dan yang kanan diletakkan di punggung pemuda itu, baru kemudian dia berkata lirih,

__ADS_1


"Pusatkan segala dan buka semua, Keng Hong, pergunakan sinkang-mu untuk membuka semua jalan darah, jangan pernah menentang sedikit pun juga, dan bantu dengan daya penyedot…"


"Suhu... suhu hendak..."


Keng Hong gelisah sebab dia sudah beberapa kali menerima bantuan hawa sinkang yang disalurkan oleh suhu-nya ke dalam tubuhnya, dan yang selalu mengakibatkan kelemahan tubuh suhu-nya sehingga akhirnya dia memohon agar suhu-nya tidak mengulangi hal itu. Kini suhu-nya hendak melakukannya lagi!


"Apakah dalam saat terakhir ini muridku hendak membantah perintah gurunya?"


Suara ini halus, namun penuh wibawa dan sekaligus memusnahkan niat hati Keng Hong hendak menentang. Dia terpaksa lalu bersila dan memusatkan perhatiannya, membuka semua jalan darah dan mengosongkan hawa di pusarnya untuk menerima saluran hawa sinkang dari gurunya.


Sebentar saja sudah terasa oleh Keng Hong betapa hawa yang sangat kuat menerobos masuk melalui kepala serta punggungnya, hawa yang sebentar hangat, lalu panas dan perlahan-lahan berubah dingin lalu panas kembali. Terasa pula olehnya betapa dari dirinya sendiri timbul semacam tenaga menyedot yang membuat aliran hawa sinkang itu makin lancar menerobos, berputaran di dalam pusarnya lantas buyar dan menyusup-nyusup ke seluruh bagian tubuhnya.


Entah berapa lamanya guru dan murid ini duduk tak bergerak. Keng Hong sendiri tidak tahu karena dia telah memusatkan seluruh perhatiannya ke dalam tubuh. Dia seolah-olah berada dalam keadaan mimpi atau pingsan. Baru dia sadar ketika merasa betapa hawa yang terasa seolah-olah air mancur memasuki tubuhnya melalui kepala dan punggung itu telah berhenti, dan betapa ubun-ubun dan punggungnya terasa dingin.


Keng Hong membuka mata, melihat suhu-nya masih bersila sambil memejamkan mata, bibirnya tersenyum membayangkan kepuasan. Akan tetapi ada sesuatu yang membuat Keng Hong cepat memegang kedua lengan suhu-nya yang tadinya masih terletak di atas ubun-ubun dan punggungnya.

__ADS_1


Sepasang tangan suhu-nya terkulai lemas dan dingin. Suhu-nya telah menghembuskan napas terakhir, entah sudah berapa lamanya.


"Suhu...!!" Keng Hong meloncat bangun.


Melihat tubuh yang bersila itu kini kehilangan sandaran dan akan roboh, cepat-cepat dia menyangganya dan merebahkannya di atas permukaan batu. Sekali lagi dia memeriksa detak jantung dan napas. Tak terasa lagi! Suhu-nya sudah meninggal dunia karena dia! Karena ‘mengoper’ sinkang sampai kehabisan segala-galanya.


Tiba-tiba Keng Hong meraung, meloncat berdiri dengan muka merah sambil memandang kedua tangannya. Dia merasa seolah-olah dialah yang membunuh suhu-nya! Kenapa dia tadi begitu bodoh dan mau saja padahal ini akan membahayakan kesehatan suhu-nya?


Rasa duka, menyesal dan marah kepada diri sendiri membuat wajah pemuda itu menjadi merah dan beringas. Tiba-tiba dia memekik lagi dan tubuhnya mendadak melesat ke arah permukaan puncak batu pedang yang menonjol setinggi orang, tangannya menghantam.


"Pyarrrrr....!" Batu gunung yang keras itu hancur berantakan menjadi kepingan-kepingan kecil yang beterbangan ke sana sini!


Keng Hong berdiri dan ternganga heran. Memang dia sudah memiliki kekuatan sinkang yang tidak lemah, tapi kalau dia memukul batu, biasanya tentu hanya akan memecahkan bagian ujung saja. Akan tetapi sekali ini, dari tangannya keluar kekuatan yang sedemikian hebatnya sehingga batu yang menonjol setinggi orang itu hancur sama sekali sedangkan tangannya tidak merasakan nyeri sedikit pun juga!


Rasa girang, tercengang, kaget dan duka bercampur menjadi satu, membuat dia terharu sekali. Sinkang yang tadi telah disalurkan ke tubuhnya oleh gurunya ternyata membuat dia memiliki tenaga yang hebat, bahkan loncatannya juga sepuluh kali lebih cepat dari pada biasa.

__ADS_1


Ginkang dan lweekang di tubuhnya sekaligus mendapat kemajuan yang amat luar biasa. Ia kembali melesat ke dekat suhu-nya kemudian menangis sambil memeluk mayat Sin-jiu Kiam-ong. Sesuai dengan pesan Sin-jiu Kiam-ong yang pernah dinyatakan kepadanya, Keng Hong mengangkat jenasah gurunya itu dan meletakkannya ke dalam gubuk kecil tempat gurunya beristirahat.


Kemudian, setelah menangisi mayat itu dan bersembahyang tanpa upacara karena tiada alat, memohon kepada Thian agar supaya dosa-dosa gurunya diperingan hukumannya dan arwah gurunya mendapatkan tempat yang baik, Keng Hong lalu membakar gubuk itu. Dengan hati penuh keharuan dia menjaga dan memandang api yang berkobar membakar gubuk berikut jenasah Sin-jiu Kiam-ong.


__ADS_2