
Tidak mungkin dia mencampuri urusan orang-orang lain itu yang semua diakibatkan oleh perang sehingga masing-masing membela pihak pilihannya sendiri.
Tentu Keng Hong sudah meninggalkan dusun itu untuk melanjutkan perjalanannya kalau saja dia tak mendengar bentakan-bentakan nyaring suara wanita. Yang berkelahi ternyata adalah seorang wanita yang dikeroyok banyak laki-laki! Sekali pun dia tidak peduli, namun hal ini menarik perhatian Keng Hong sehingga menggerakkan hatinya untuk menghampiri tempat pertempuran.
Betapa pun juga, kalau melihat seorang wanita dikeroyok belasan orang laki-laki seperti itu, tak mungkin dia tinggal diam saja. Gurunya pasti akan memakinya kalau dapat melihat dia mendiamkan saja seorang wanita dikeroyok oleh belasan orang laki-laki!
Setelah dekat dengan tempat pertempuran itu, dia melihat dua belas orang laki-laki yang sedang mengeroyok seorang gadis berpakaian biru muda. Hatinya menjadi kagum sekali. Bukan hanya kagum akan kegesitan dan keindahan gadis itu bermain pedang melayani pengeroyokan belasan orang lawan yang kasar-kasar, kuat dan bersenjata golok itu, akan tetapi terutama sekali melihat wajah yang cantik jelita, mata yang bersinar-sinar seperti mata burung hong, muka yang putih kemerahan, tubuh yang padat ramping, pendeknya, seorang gadis yang amat cantik!
Yang membuat Keng Hong terheran-heran dan penasaran adalah pada waktu dia melihat bahwa di situ tak ada orang yang berani mendekat, apa lagi melerai perkelahian, bahkan rumah-rumah dan warung-warung terdekat juga telah menutup pintu dengan tergesa-gesa. Tampak olehnya ada empat orang laki-laki tinggi besar yang sudah roboh berlumur darah, juga seorang pemuda remaja terduduk di atas tanah memegang pundaknya yang terluka terkena bacokan.
Ilmu pedang gadis itu lihai, akan tapi menghadapi pengeroyokan dua belas orang laki-laki kasar itu, si gadis menjadi repot juga. Apa lagi karena para pengeroyoknya mengeluarkan kata-kata yang kasar serta kotor, dengan ancaman-ancaman yang menjijikan, membuat gadis itu makin merah mukanya dan makin kacau gerakan pedangnya.
"He, kawan, jangan sampai dia terluka!"
"Jangan membikin cacat wajahnya yang cantik halus!"
"Biarkan dia kehabisan tenaga, tentu akan menyerah sendiri, ha-ha-ha!"
"Wah, kalau tenaganya habis, bagaimana bisa melayani kita?"
"Jangan khawatir, gadis kang-ouw simpanan ini tenaganya kuat, heh-heh-heh!"
__ADS_1
"Robek-robek dan tanggalkan semua pakaiannya, berikan padaku lebih dulu!"
"Aku dulu!"
"Aku dulu!"
"Eh, kawan-kawan. Mengapa ribut-ribut? Biar dia kita tangkap dulu, baru kita mengadakan undian siapa yang akan menikmatinya lebih dulu!"
Muka Keng Hong menjadi merah sekali. Dia hendak turun tangan membantu, akan tetapi dia masih belum tahu apa urusanya, dan apa yang menyebabkan mereka berkelahi. Apa bila dia langsung membantu gadis itu, apakah itu adil namanya? Siapa tahu, justru gadis ini yang berada di pihak salah. Maka dia menanti dan memandang penuh perhatian.
Gadis baju biru itu sudah mulai lelah. Gerakannya semakin lambat dan ketika tiga buah golok secara berbareng menangkis pedangnya dengan pengerahan tenaga kasar, gadis itu menjerit, pedangnya terlempar dan tubuhnya terhuyung ke belakang. Banyak tangan menyambarnya dan...
"Brettt... aihhhh...!!" sebagian bajunya terobek berikut baju dalamnya sehingga tampaklah leher, pundak dan sebagian dada kiri yang berkulit putih halus seperti susu.
Sekali tangkap dia telah mencengkeram dua orang laki-laki pada bagian tengkuknya dan bagaikan melempar rumput kering saja, dia melontarkan dua orang itu ke belakang hingga mereka terpental dan terlempar sejauh empat meter, terbanting dan bergulingan. Dia tidak berhenti sampai di situ, kaki tangannya bergerak lagi dan kembali empat orang laki-laki terlempar jauh dan jatuh bangun!
Empat orang yang lain cepat-cepat membalikkan tubuh dan golok-golok di tangan mereka menyambar. Akan tetapi, mereka itu hanyalah kumpulan orang kasar yang mengandalkan keberanian, tenaga kasar dan golok. Begitu Keng Hong menggerakkan tangannya, angin dorongan tangan itu membuat keenam orang pengeroyok terhuyung mundur.
Dua orang yang agaknya menjadi pimpinan mereka menjadi penasaran lalu berseru keras dan menerjang maju lagi dengan golok mereka. Namun Keng Hong mendahului mereka, menyampok keras hingga terdengar bunyi.
"Krek-krek!"
__ADS_1
Suara ini muncul ketika tangan Keng Hong bertemu dengan pergelangan tangan mereka yang menjadi patah tulangnya. Mereka meringis kesakitan dan melompat mundur, tidak berani maju lagi.
"Masih tidak lekas minggat dari sini?!" Keng Hong menghardik, pandang matanya tajam menusuk.
Dua belas orang itu tidak berani untuk mencoba-coba lagi, mereka lalu pergi membawa teman-teman yang terluka. Ternyata jumlah mereka semua ada enam belas orang, yang empat telah dirobohkan gadis cantik itu.
Setelah mereka semua kabur, barulah Keng Hong menoleh dan melihat gadis itu tengah menolong pemuda remaja yang terluka pundaknya. Terdengar olehnya suara gadis itu yang halus, "Bagaimana, adikku? Parahkah lukamu?"
Pemuda remaja itu menggigit bibirnya dan menggelengkan kepalanya. "Kurasa tulangnya patah... Cici, lekas haturkan terima kasih..."
Gadis baju biru itu agaknya seperti baru teringat, Cepat-cepat dia membalikkan tubuhnya menghadapi Keng Hong yang berdiri memandang mereka, kemudian dia menjatuhkan diri berlutut sambil berkata,
"Saya Sim Ciang Bi bersama adik saya Sim Lai Sek menghaturkan terima kasih atas pertolongan Taihiap (Pendekar Besar) yang telah menyelamatkan nyawa kami."
Dua macam perasaan memenuhi hati Keng Hong mendengar kata-kata itu. Dia disebut taihiap! Dia merasa bangga dan juga jengah. Tentu gadis ini menganggap dia seorang pendekar yang berilmu tinggi karena dalam segebrakan saja mampu mengusir dua belas orang laki-laki kasar tadi. Padahal kalau mempergunakan ilmu silat, tanpa disertai tenaga sinkang yang luar biasa, belum tentu dia menang lihai dari pada gadis itu sendiri. Bangga karena mulut yang manis dan mungil itu menyebutnya taihiap, namun jengah dan malu karena dia sendiri merasa amat tidak pantas disebut seorang pendekar besar.
"Ah, harap jangan sungkan, bangkitlah, Nona," katanya sambil mengangkat bangun gadis itu.
Ketika kedua telapak tangannya menyentuh pundak itu, terasa hawa yang hangat lunak keluar dari daging pangkal lengan yang halus itu. Maka berdebarlah jantung Keng Hong, apa lagi ketika pandangan matanya bertemu dengan sebagian dada yang telanjang itu. Pandang matanya seperti lekat pada kaki dan lereng bukit dada yang putih halus.
"Cici... bajumu...!" Pemuda remaja itu memperingatkan cici-nya yang ketika itu sedang memandang wajah Keng Hong.
__ADS_1
Gadis itu merintih perlahan dan mukanya menjadi merah sekali. Keng Hong cepat-cepat membuka jubahnya dan menyelimutkan jubah ini pada tubuh si gadis yang memandang kepadanya dengan sinar mata berterima kasih.