
Akan tetapi yang paling menarik hati Keng Hong adalah sebuah rak batu di mana berdiri jajaran kitab-kitab yang telah lapuk. Inilah kitab-kitab ilmu silat peninggalan gurunya. Akan tetapi hatinya berdebar keras pada saat dia melihat betapa keadaan tempat kitab-kitab ini tidak rapi susunannya, bahkan kacau-balau dan ada beberapa buah kitab tercecer di atas lantai. Melihat betapa senjata-senjata itu masih rapi seperti juga keadaan benda-benda berharga, maka kitab-kitab itu pasti ada yang mengusik dan mengganggu.
Cui Im! Tidak salah lagi, tentu gadis itu yang mendahuluinya mendapatkan kamar ini telah mengambil kitab-kitab yang pilihnya! Celaka, pikir Keng Hong.
Terjadilah apa yang tadinya dia khawatirkan. Di antara segala benda berharga, perhiasan-perhiasan indah dan senjata-senjata pusaka, justru yang diambil Cui Im adalah kitab-kitab pelajaran ilmu kesaktian! Dia tidak tahu kitab-kitab apa yang diambil Cui Im, akan tetapi melihat bekas-bekasnya, tentu tidak sedikit yang diambil.
"Cui Im ...!" Ia memanggil lebih keras sambil berlari keluar dari kamar itu.
Dia harus minta kembali kitab-kitab yang diambil Cui Im! Kalau gadis itu ingin mempelajari satu dua macam ilmu di situ, harus dia yang memilihkannya karena selain dia seoranglah yang berhak mewarisi pusaka gurunya, juga dia harus dapat mengekang watak kejam gadis itu, atau sedikitnya menjaga supaya jangan sampai gadis itu memperoleh ilmu-ilmu yang sakti sehingga kelak akan menjadi seekor harimau buas yang tumbuh sayap!
"Cui Im...!"
__ADS_1
Keng Hong berlari dan membuka daun pintu terakhir yang ternyata merupakan sebuah terowongan sebelah depan yang kecil sehingga hanya dapat dilalui dengan merangkak. Terowongan sebelah belakang ini cukup tinggi, ada dua meter dan lebarnya semeter sehingga dia dapat berjalan dan mencari Cui Im. Dia merasa yakin bahwa gadis itu pasti melarikan kitab-kitab yang diambilnya melalui terowongan dari ruangan itu.
Pada saat itu, Keng Hong mendengar suara hiruk-pikuk seperti ada gempa bumi terjadi di puncak Kiam-kok-san. Ia lalu menghentikan langkahnya dan mendengarkan dengan teliti. Terdengar suara batu-batu pecah dan batu-batu menggelinding turun. Ia tidak tahu apa yang telah terjadi.
Suara itu sesungguhnya adalah suara yang ditimbulkan oleh kemarahan para tokoh yang naik ke puncak batu pedang. Dengan dipelopori oleh Bu-tek Su-kwi, para tokoh itu mulai membongkar batu-batu di puncak, merobohkan pohon-pohon dan bahkan menggunakan kesaktian mereka menghantami puncak batu-batu karang sehingga ambrol dan batu-batu besar lalu bergulingan jatuh ke bawah menimbulkan suara hiruk-pikuk yang sampai terasa getarannya dan terdengar suaranya oleh Keng Hong yang berada di sebelah dalam batu pedang! Batu-batu yang terguling itu sebagian ada pula yang menguruk tempat di mana terdapat goa rahasia terowongan sehingga tertimbun dan kini tidak mungkin ada orang mampu mendapatkan tempat rahasia yang mereka cari-cari itu.
Betapa pun Bu-tek Su-kwi bersama para tokoh kang-ouw mengamuk di atas puncak batu pedang, mereka tidak dapat menemukan Keng Hong dan tidak dapat menemukan tempat penyimpanan pusaka Sin-jiu Kiam-ong. Akhirnya sambil memaki-maki Bu-tek Su-kwi pergi meninggalkan tempat itu dan mendaki turun, diikuti pula oleh para tokoh kang-ouw yang merasa kecewa sekali.
Thian Seng Cinjin, Kiang Tojin dan para tosu Kun-lun-pai memandang ke atas dengan kaget dan heran. Mereka mendengar suara hiruk-pikuk itu dan melihat pula sebagian batu gunung yang runtuh dan menggelinding turun dari batu pedang sehingga mereka cepat mencari tempat yang aman agar tidak sampai tertimpa hujan batu itu.
Setelah suara hiruk-pikuk itu lenyap, tampak Bu-tek Su-kwi dan para tokoh lain menuruni batu pedang dengan wajah keruh. Para tosu Kun-lun-pai memperhatikan dan dengan hati lega mereka melihat tidak ada tokoh membawa sesuatu turun dari puncak. Hal ini menjadi tanda bahwa usaha mereka tidak berhasil untuk menemukan pusaka Sin-jiu Kiam-ong.
__ADS_1
Ada pun Kiang Tojin yang tak melihat mereka membawa Keng Hong sebagai tangkapan, menjadi terheran-heran dan hatinya diliputi dua macam perasaan. Ia girang sekali bahwa mereka tidak dapat menangkap Keng Hong akan tetapi juga khawatir kalau-kalau pemuda itu dibunuh oleh mereka di atas puncak karena pemuda itu tidak mau mengaku di mana adanya pusaka peninggalan Sin-jiu- Kiam-ong.
"Pinto harap cu-wi sekalian tak melanggar pantangan melakukan pembunuhan di puncak Kiam-kok san yang amat kami hormati," kata Kiang Tojin, suaranya tenang saja padahal hatinya berdebar keras.
"Membunuh apa? Seekor semut pun tidak ada di puncak itu. Bocah itu kembali sudah mengakali kita! Tidak saja Kun-lun-pai yang ditipu dengan pedang kayu palsu, juga kali ini kita semua ditipunya. Dia tidak berada di puncak!” berkata Ang-bin Kwi-bo dengan muka cemberut.
"Apa bila nanti kudapatkan bocah itu, akan kuganyang dagingnya, kuminum darahnya dan kuhancurkan kepalanya!" Pak-san Kwi-ong berkata dengan nada marah sekali.
Pat-jiu Sian-ong juga marah dan kecewa, akan tetapi sesuai dengan sifatnya, dia hanya tersenyum dan berkata halus, "Sayang sekali, kembali Kun-lun-pai yang menjadi korban. Bila mana dunia kang-ouw mendengar akan hal ini, hati siapakah yang tidak akan timbul persangkaan bahwa bocah itu sengaja disembunyikan oleh Kun-lun-pai?"
"Pat-jiu Sian-ong, hati-hati sedikit kalau bicara!" Kiang Tojin membentak, alisnya berkerut dan matanya mengeluarkan sinar berapi.
__ADS_1
Pat-jiu Sian -ong tersenyum menyeringai dan matanya mengerling ke kanan kiri.
"Ehh, apakah yang telah kukatakan? Aku tidak menuduh Kun-lun-pai, hanya menyatakan betapa mengherankan melihat bocah yang sudah terluka itu mendaki batu pedang lantas lenyap tanpa berbekas sama sekali dari puncak sana. Kemanakah perginya? Terbangkah dia? Atau menghilang? Siapa dapat menjawab? Batu pedang bukanlah milik kami, bukan wilayah kami, tentu saja hanya Kun-lun-pai yang dapat mengetahui rahasianya. Sudahlah, selamat berpisah! Kwi-bo dan Kwi-ong, tidak pergi dari sini atau menunggu apa lagi sih?" Sambil tertawa Pat-jiu Sian-ong berkelebat pergi, diikuti oleh Ang-bin Kwi-bo dan Pak-san Kwi-ong.