
Tubuh yang ramping padat dan biar pun kini tertutup jubah Keng Hong yang terlalu besar, masih tak dapat menyembunyikan bentuknya yang menggairahkan.
Biar pun mereka tak berkata-kata, Keng Hong tidak merasa kesepian. Akan tetapi gadis yang maklum betapa sepasang mata orang yang dikaguminya itu memandangnya penuh kekaguman, menjadi tak tenang dan akhirnya ia berkata lirih,
"Cia-taihiap, betapa aku akan dapat membalas budimu yang amat besar? Biarlah aku dan adikku akan selalu berdoa untuk kebahagianmu..."
"Ihhh, Nona, mengapa begini sungkan? Lupakan saja apa yang telah kulakukan karena itu semua tak lain hanyalah pelaksanaan kewajiban seorang manusia yang harus membantu manusia lain yang sedang tertimpa kemalangan."
"Engkau gagah dan bijaksana, taihiap..."
Gadis itu memandang dan sejenak pandang mata mereka saling melekat. Keng Hong dapat menangkap sinar kemesraan memancar dari pandang mata di balik bulu mata lentik itu, akan tetapi hanya sebentar saja karena gadis itu sudah cepat-cepat menundukkan mukanya kembali.
Tiba-tiba terdengar teriakan dari sebelah dalam kuil. Keduanya cepat melesat ke dalam kuil seperti berlomba, dan berbareng mereka memasuki ruangan di mana tadi Lai Sek rebah dan tidur.
Sekarang pemuda remaja itu sudah bangun, akan tetapi masih rebah dan terlihat gelisah sekali. Mulutnya mengeluarkan teriakan-teriakan marah seperti orang sedang berkelahi, kaki tangannya bergerak-gerak, tetapi matanya meram. Keng Hong menarik napas lega. Kiranya pemuda itu hanya mengigau saja.
"Dia diserang demam!" Seru Ciang Bi khawatir ketika meraba leher adiknya itu. Keng Hong meraba dahi pemuda itu dan ternyata pemuda itu diserang demam panas.
"Biar kucarikan obat di dusun itu untuk melawan demamnya," kata Keng Hong dan tanpa menanti jawaban dia sudah berkelebat lari menuju ke dusun itu. Pemilik toko obat dengan senang hati memberikan obat penolak demam yang disebabkan luka, kemudian pemuda ini cepat kembali lagi ke dalam hutan.
Dapat dibayangkan betapa marah hatinya ketika melihat bahwa di depan kuil itu sudah dipenuhi dengan orang-orang yang dia kenal adalah orang-orang yang tadi mengeroyok enci dan adik itu. Jumlah mereka kini tidak kurang dari tiga puluh orang dan paling depan berdiri seorang laki-laki tinggi besar bermuka merah yang membawa golok besar.
__ADS_1
Laki-laki tinggi ini sedang bicara dengan Ciang Bi, menuding-nudingkan goloknya ke arah gadis itu yang bersikap tenang dengan pedang di tangan, dan sudah siap untuk melayani pengeroyokan. Keng Hong mempercepat larinya dan dengan gerakan indah dia meloncati kepala mereka yang mengurung, langsung turun di dekat Ciang Bi. Wajah gadis ini berseri melihat datangnya penolongnya.
Keng Hong tidak mempedulikan si tinggi besar, bahkan dia memberikan bungkusan obat kepada gadis itu sambil berkata, "Nona, kau serahkan saja tikus-tikus ini kepadaku. Lekas masak obat ini dan minumkan kepada adikmu."
Gadis itu meragu, menyapu para penjahat itu dengan matanya. Agaknya ia merasa berat meninggalkan pemuda penolongnya itu seorang diri saja menghadapi sekian banyaknya penjahat, apa lagi yang kini dipimpin oleh kepala mereka yang kelihatannya kuat dan lihai.
"Akan tetapi..."
"Jangan membantah, lebih baik lekas tolong adikmu. Aku sanggup melayani mereka ..."
"Taihiap, pakailah pedangku..."
"Terima kasih. Tidak usah. Menghadapi segala macam tikus busuk, perlu apa mengotori pedangmu?"
"Kalian ini mau apakah? Puluhan orang laki-laki tinggi besar mendesak dan mengganggu seorang gadis muda dan adiknya yang sedang sakit, sungguh perbuatan yang amat tidak gagah!"
Kepala penjahat itu usianya kurang lebih empat puluh tahun. Tubuhnya membayangkan tenaga yang kuat sekali dan goloknya amat besar dan kuat, sikapnya pun menyeramkan. Mukanya merah seperti wajah Kwan Kong pahlawan pada jaman Sam-kok, dengan kumis dan jenggotnya yang hitam lebat, sepasang matanya yang lebar itu kemerahan. Dengan gerakan goloknya dia menuding ke arah Keng Hong dan suaranya serak ketika bertanya kepada anak buahnya,
"Inilah pemuda usilan itu?"
"Benar dia, Twako!" kata seorang di antara mereka yang tadi dihajar Keng Hong.
__ADS_1
Kepala penjahat itu kembali memandang Keng Hong penuh perhatian, seolah-olah tidak dapat percaya bahwa pemuda yang usianya paling banyak baru sembilan belas tahun ini mampu merobohkan dua belas orangnya!
"Siapa namamu?" bentaknya, sikapnya sombong dan memandang rendah.
"Namaku Cia Keng Hong."
"Kamu orang Hoa-san-pai juga?"
Pertanyaan ini menyadarkan Keng Hong bahwa enci dan adik itu tentu murid Hoa-san-pai. Pantas saja ilmu pedangnya demikian indah. Ia menggeleng kepala dan menjawab,
"Aku bukan dari partai mana-mana, aku hanyalah seorang yang kebetulan lewat dan tidak tahan melihat belasan laki-laki tinggi besar mengeroyok seorang wanita. Mengapa kalian bukannya insyaf akan perbuatan pengecut dan memalukan itu bahkan kini kembali datang mengganggu? Lebih baik kalian sadar dan pergi saja, karena perbuatan kalian ini hanya akan membuat kalian tercela dan ditertawakan orang gagah sedunia."
"Bocah sombong! Bocah usilan! Kami mempunyai urusan sendiri dengan orang-orang dari Hoa-san-pai, ada sangkut paut apa denganmu? Engkau sudah bosan hidup!"
Kepala penjahat itu sudah menerjang dengan goloknya dan terdengar suara mendesing pada saat golok itu menyambar ke arah kepala Keng Hong. Pemuda ini belum sempurna mempelajari ilmu silat dan yang telah dipelajarinya hanyalah delapan jurus ilmu serangan dan ilmu pedang yang belum matang, maka dia amat kaget dan cepat meloncat mundur. Loncatannya sangat ringan dan cepat, namun gerakannya mengelak kaku sekali.
Hal ini dilihat oleh kepala penjahat yang ilmu silatnya lumayan juga, maka sambil berseru keras dia maju lagi menubruk sambil membacokkan goloknya. Tetapi sekali ini Keng Hong yang maklum akan bahaya yang mengancam dirinya, sudah mendahului dengan pukulan atau dorongan dua tangannya ke depan. Ia menggunakan telapak tangannya mendorong sambil mengerahkan sinkang.
Terdengar penjahat tinggi besar itu menjerit dan roboh terjengkang, memuntahkan darah segar. Matanya mendelik dan nyawanya melayang pada saat itu juga!
Melihat robohnya pemimpin mereka, orang-orang kasar itu menjadi marah sekali. Sambil berteriak-teriak memaki mereka sudah menerjang maju, mengeroyok Keng Hong dengan senjata mereka.
__ADS_1
Keng Hong yang belum memiliki banyak pengalaman dalam pertempuran, apa lagi kalau dikeroyok tiga puluh orang yang memegang senjata tajam, menjadi bingung sekali.