
Dia menggeleng kepala dan memandang kedua orang nona itu dengan pandang mata tajam.
"Tidak, aku ingin bebas!"
"Sumoi, hajar mampus saja laki-laki tak berbudi ini!" teriak Cui Im yang sudah melangkah maju dan siap dengan pedang merahnya.
"Tahan, Suci. ibu menghendaki dia hidup-hidup! Ehhh, Keng Hong. Engkau sendiri tadi mengaku bahwa aku telah menyelamatkan jiwamu. Inikah balasanmu? Hendak melawan aku? Beginikah kegagahan murid Sin-jiu Kiam-ong? Kasihan kakek itu yang tentu gelisah di dalam akhirat kalau menyaksikan muridnya yang tak mengenal budi."
Wajah Keng Hong menjadi merah sekali dan dia mengepal tinjunya. "Sudahlah, jangan membawa-bawa nama suhu. Baik, aku mau ikut akan tetapi ingat, hanya untuk menuruti perintahmu sebagai balas jasa atas pertolonganmu. Sesudah bertemu dengan Lam-hai Sin-ni, kuanggap hutangku kepadamu telah lunas!" Setelah berkata demikian Keng Hong lalu berjalan menuju ke kereta.
Cui Im menyenggol lengan sumoi-nya dengan siku sambil menggerakkan muka ke arah Keng Hong yang tampak oleh mereka dari belakang, sambil terkekeh dan berbisik, "Lihat, Sumoi..., hebat tidak dia?"
Gadis baju putih itu memandang dan wajah yang cantik jelita itu seketika menjadi merah sekali. Matanya yang jelita terbelalak pada saat dia melihat ke arah tubuh belakang Keng Hong. Pakaian bagian belakang yang compang-camping dan kulitnya yang penuh debu itu masih tidak dapat menyembunyikan sebuah punggung yang tegak dengan lengkung kuat di bagian bawah seperti terbuat dari pada baja. Bahu yang bidang, pinggang yang kecil dan sepasang pinggul yang bulat membayangkan otot-otot yang dipenuhi tenaga di atas kaki yang kuat.
Cepat-cepat dia memejamkan mata, tidak mau memandang lagi dan mulutnya mencela. "Suci, kau selalu mendahulukan nafsu-nafsumu. Kau tahu aku tidak sudi memperhatikan pria!" Gadis ini membuang muka dan setelah Keng Hong memasuki kereta, barulah dia berkata, "Ambilkan selimut dan suruh dia menutupi tubuh belakangnya secara pantas!"
Cui Im terkekeh dan berlarian ke kereta, mengambil selimut dan melemparnya ke arah Keng Hong.
"Keng Hong, tutupi rapat-rapat badanmu yang sebelah belakang, kau membikin sumoi menjadi jijik, hi-hi-hik!"
__ADS_1
Kemudian dia melompat ke atas di sebelah depan dan segera membalapkan empat ekor kuda setelah sumoi-nya pun melompat masuk dan duduk di hadapan Keng Hong dengan sikap tidak acuh.
Dari luar terdengar suara seorang di antara Pak-san Su-liong. "Kalian tunggu saja! Suhu sendiri yang akan merampas tawanan itu!"
Namun dua orang murid Lam-jai Sin-ni ini tidak mempedulikan teriakan mereka dan terus membalapkan kereta ke selatan. Kereta berguncang-guncang, namun Keng Hong duduk anteng, matanya tak pernah terlepas dari wajah gadis di depannya.
Dia menjadi makin kagum. Gadis ini amat lihai ilmu silatnya, juga wataknya jauh berbeda dengan watak Cui Im yang cabul dan senang mengumbar nafsunya. Gadis ini pendiam, bahkan sama sekali tidak pernah memperlihatkan kegembiraan. Betapa pun juga dalam hal kekejaman dan keganasan, gadis baju putih ini mungkin sepuluh kali lebih ganas dari Cui Im, sungguh pun agaknya tidak berwatak licik dan curang seperti suci-nya itu.
Diam-diam dia membuat perbandingan. Yang manakah yang baik di antara kedua orang gadis ini? Cui Im hidup sebagai seorang yang ingin menikmati hidup sebanyaknya, selalu menuruti nafsunya tanpa peduli akan apa pun, hendak meraih sebanyaknya kesenangan dunia tanpa peduli dia akan dicap gadis cabul atau tidak.
Pendeknya segala hal di dunia ini harus diarahkan demi kesenangan diri pribadi. Gadis seperti itu tentu saja tidak memiliki kesetiaan terhadap siapa pun kecuali dirinya sendiri.
Tiba-tiba saja muka yang jelita ini bergerak sehingga sepasang mata yang jernih bertemu dengan pandang matanya. Keng Hong terkejut dan tersipu, cepat-cepat dia mengalihkan pandangan matanya, pura-pura melihat pohon-pohon di pinggir jalan.
"Engkau lapar?" Pertanyaan itu pun tiba-tiba dan halus merdu.
Keng Hong mengangguk dan menjawab perlahan, "Haus..."
"Namaku Biauw Eng, dan kau boleh memanggil aku dengan namaku."
__ADS_1
Keng Hong terkejut. Eh, kiranya ada juga sikap manis budi pada diri nona aneh ini. Cepat dia mengangkat muka memandang, mengharapkan ada perubahan muka pada nona itu, perubahan muka yang wajar, yang tersenyum seperti halusnya ucapan yang dikeluarkan. Namun dia kecelik, wajah itu tetap dingin dan tenang, sama sekali tidak membayangkan sesuatu kehangatan. Ia menghela napas panjang dan berkata.
"Memang aku lapar, dan terutama sekali haus, Biauw Eng."
Song-bun Siu-li atau yang tadi mengaku bernama Biauw Eng, dengan tenang mengambil sebuah bungkusan dari sebelah belakangnya, di atas tempat duduk kereta itu, membuka bungkusan dan mengeluarkan sebuah roti kering yang besar. Ia mematah-matahkan roti itu, membagi menjadi tiga, lalu memberi sebagian kepada Keng Hong, sebagian lagi dia lemparkan ke arah Cui Im sambil berseru, "Suci, silakan makan!" dan dia sendiri segera memulai makan bagiannya.
Cui Im menggigit roti kering sambil tertawa dan berkata, "Sayang, sumoi. Satu guci arak Ai-ang-ciu (Arak Merah Asmara) telah dihabiskan sekali teguk oleh bocah itu, hi-hi-hik!"
Sepasang alis yang hitam itu berkerut sebentar, tetapi tidak cukup untuk membayangkan bagaimana perasaan Biauw Eng, apakah kecewa, ataukah marah, ataukah perasaan lain lagi. Hanya saja bibirnya yang tadi tertutup ketika dia mengunyah roti di dalam mulut, kini terbuka sedikit mengeluarkan kata-kata.
"Aku masih ada persediaan air minum, jangan khawatir, suci."
Tangan kirinya meraih ke belakang dan gadis ini sudah mengeluarkan sebuah guci yang mengkilap, berwarna putih, terbuat dari pada porselen yang sangat indah. Melihat bahwa Keng Hong paling dulu menghabiskan rotinya, nona ini lalu menyerahkan guci porselen kepadanya sambil berkata,
"Minumlah dulu."
Keng Hong menerima guci itu, memandang kagum lalu bertanya, "Mana cawannya?"
"Hi-hik-hik! Keng Hong, kau selalu bersopan-sopan mencari cawan. Apakah kau khawatir diracuni? Ahh, jangan takut, sumoi selamanya tak sudi main-main dengan racun, lagi pula segala macam racun jika dimasukkan ke dalam guci pusaka itu maka pengaruhnya akan lenyap." Cui Im tertawa-tawa mengejek sehingga muka Keng Hong menjadi merah sekali.
__ADS_1