
Tiba-tiba terjadi perubahan pada paduan suara itu. Kicau burung yang tadinya merdu, kini berubah cecowetan penuh kejut dan takut, tanda bahwa terjadi sesuatu yang tak wajar di tempat itu. Kemudian muncullah bayangan orang-orang yang berkelebat cepat. Gerakan mereka tangkas bagaikan burung-burung raksasa dan dalam sekejap mata saja sembilan orang telah membentuk lingkaran kipas di hadapan kakek yang bersemedhi dalam jarak kurang lebih sepuluh meter.
Kenyataan bahwa sembilan orang ini dapat mendaki puncak, ditambah dengan gerakan mereka tadi, tentu saja mereka ini bukanlah orang-orang biasa, melainkan orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Ketika mereka berlompatan di depan kakek itu, kaki mereka tidak menimbulkan suara seperti kaki burung hinggap di atas dahan.
Mereka berdiri tak bergerak, akan tetapi dalam keadaan siap siaga, memasang kuda-kuda dengan gaya masing-masing, seluruh urat saraf menegang, pandang mata ditujukan ke arah kakek dan pedang yang tergeletak di depannya. Pandang mata yang menyapu wajah kakek itu mengandung benci yang mendalam, ada pun ketika pandang mata menyapu pedang, kebencian berubah menjadi rasa kepingin yang tak disembunyikan.
Meski kedatangan sembilan orang sakti itu hanya ditandai dengan perubahan pada kicau burung, ternyata sudah diketahui oleh kakek tua renta yang sedang duduk bersemedhi. Dia membuka kedua matanya dan menyapu dengan pandang matanya ke arah sembilan orang yang berdiri mengurungnya dalam bentuk lingkaran kipas. Mulutnya tersenyum, sedikit pun tidak memperlihatkan rasa heran seolah-olah kedatangan mereka itu memang telah diduganya.
Ada pun sembilan orang itu pada saat bertemu pandang sedetik dengan sapuan matanya, langsung menjadi terkejut dan bergidik. Mereka temukan pandang mata itu saja cukup memperingatkan mereka bahwa kakek yang mereka kunjungi ini makin tua makin ampuh kesaktiannya.
"Sie Cun Hong...! Aku datang untuk menerima pedangmu sebagai pengganti nyawamu yang semestinya kukirim ke neraka agar dendam hatiku terhadapmu lunas!"
Kakek itu menoleh ke kanan karena yang berbicara ini adalah orang yang berdiri paling kanan dalam lingkaran kipas itu. Bibirnya tersenyum lebar memperlihatkan mulut ompong tak bergigi lagi, seperti senyum seorang bayi yang belum bergigi.
__ADS_1
Wanita yang menyebut namanya yang sudah bertahun-tahun tak pernah didengarnya itu adalah seorang nenek yang usianya paling sedikit sudah tujuh puluh tahun. Rambutnya sudah hampir putih semuanya, digelung kecil ke atas dengan tusuk konde perak.
Wajahnya masih belum kehilangan raut dan bentuk yang manis, hanya mulut yang tentu dahulunya amat indah manis itu kini agak ‘nyamprut’ karena tidak bergigi lagi. Tubuhnya yang dahulunya pasti tinggi semampai itu kini agak membongkok dan kurus. Pakaiannya sederhana dan berwarna hijau. Dari depan, tampak gagang pedang tersembul dari balik pundak kanannya.
"Heiii, bukankah engkau Lu Sian Cu? Ahh, tubuhmu mungkin sudah menjadi tua, namun semangatmu benar-benar masih muda, Sian Cu! Engkau mendendam kepadaku dan kini menghendaki pedang Siang-bhok-kiam sebagai pengganti jiwaku? Eh, dalam hal apakah engkau mendendam kepadaku?"
"Keparat tua bangka! Jangan kau kira akan dapat mendesakku dengan pertanyaan untuk membikin aku malu. Aku sudah tua, dan semua yang hadir itu adalah tokoh-tokoh besar di dunia kang-ouw, tidak perlu malu aku mengaku! Puluhan tahun yang lalu engkau telah mempergunakan kepandaianmu menggagahi dan memperkosaku. Dendamku kepadamu setinggi langit!"
"Cih, laki-laki tak berjantung! Setelah perbuatan kejimu itu, bagaimana aku masih dapat menerima pria lain? Aku telah menyerahkan raga dan jiwa, akan tetapi engkau menolak dan meninggalkanku pergi! Engkau sudah mempermainkan cintaku. Seharusnya engkau menjadi suamiku, akan tetapi engkau bahkan mengejek dan minggat. Keparat, dendamku sedalam lautan setinggi langit!"
"Ha-ha-ha, engkau mau menang sendiri, Sian Cu. Dahulu pun kau sudah tahu bahwa aku adalah seorang yang selalu ingin bebas, bebas dari golongan, bebas dari segala ikatan termasuk ikatan rumah tangga! Memang aku telah berbuat jahat, memperkosamu, namun kita berdua, engkau dan aku, telah menikmatinya bersama dan hal yang menyenangkan orang lain mana bisa kau sebut sebagai hal yang menyakitkan hati orang itu?"
"Sie Cun Hong! Tidak perlu banyak cakap lagi. Serahkan pedangmu itu atau serahkan nyawamu!" Sambil berseru demikian, nenek itu kemudian mengeluarkan senjatanya yang menyeramkan.
__ADS_1
Senjata ini berupa cambuk warna hitam, akan tetapi bukan sembarang cambuk karena pada ujungnya terpecah menjadi sembilan dan di setiap ujung diberi baja pengait seperti mata kail. Inilah senjata cambuk sembilan ekor yang sudah membuat nama nenek ini tersohor di dunia kang-ouw, karena jarang ada lawan yang dapat bertahan menghadapi senjatanya yang istimewa itu.
Dan senjata itu pulalah yang membuat nenek ini dijuluki Kiu-bwe Toanio (Nyonya Besar Berekor Sembilan), sebuah nama besar yang ditakuti para penjahat, seorang pendekar wanita tua yang ganas dan keras hati terhadap penjahat. Telah puluhan tahun lamanya ia dikenal sebagai Kiu-bwe Toanio dan baru sekarang tokoh-tokoh lain yang hadir di sana mendengar namanya disebut oleh kakek itu, yaitu Lu Sian Cu!
"Tar-tar-tar...!" Cambuk hitam itu melecut-lecut di udara dan mengeluarkan suara nyaring meledak-ledak. "Sie Cun Hong! Apakah engkau masih membandel dan tetap tidak mau menyerahkan pedangmu?"
"Ha-ha-ha, engkau masih bersemangat dan galak. Tubuhku sudah tua, semangatku pun sudah melempem, apa bila kau hendak menolongku bebas dari tubuh tua dan dunia ini, nah, lakukanlah, Lu Sian Cu!"
Nenek itu mengeluarkan suara teriakan melengking panjang, lengking yang memekakkan telinga, yang mengandung rasa duka, kecewa, menyesal dan benci karena cinta ditolak. Cambuknya menyambar ke depan sehingga tiga buah di antara sembilan ekor itu sudah meluncur ke arah sepasang mata dan ubun-ubun kepala kakek itu masih duduk bersila, kini tangan kirinya diangkat, jari-jari tangannya bergerak menyentil tiga kali.
"Tring-tring-tringgg....!"
"Aiiihhh.....!" Kiu-bwe Toania menjerit dan hampir saja ia melepaskan cambuknya karena tiga buah ekor cambuk yang terkena sentilan kuku jari tangan kakek itu secara mendadak membalik dan menerjangnya pada tiga buah tempat, yaitu ke arah buah dada dan pusar.
__ADS_1