
Sudah dua kali ia terkena senjata lawan. Pertama kali pundaknya kena diserempet ujung pedang Coa Kiu, menimbulkan luka pada kulit dan sedikit dagingnya, tidak parah namun cukup mengakibatkan pakaiannya yang putih bersih bernoda darah. Kedua kalinya, ujung tongkat bambu di tangan Kok Sian Cu merobek kulit paha dirinya hingga celana putihnya ikut robek dan tampak bagian kulit pahanya yang berdarah. Namun, gadis ini tidak pernah mengeluh dan permainan sabuk suteranya malah menjadi makin cepat dan ganas.
Keng Hong juga sangat repot menghadapi para pengeroyoknya. Keadaannya tidak lebih baik dari pada keadaan Biauw Eng, bahkan lebih buruk lagi. Dia dikeroyok oleh lima orang kakek sakti, yaitu tiga orang dari Kong-thong-pai dan dua orang pimpinan Tiat-ciang pang.
Biar pun dia sudah mempergunakan ginkang-nya untuk berkelebatan ke sana ke mari dan mengerahkan sinkang untuk menangkis, namun tetap saja berkali-kali tubuhnya terpaksa menerima gebukan-gebukan yang kalau mengenai tubuh orang lain tentu mendatangkan maut. Dia mempunyai tubuh yang secara otomatis akan menggerakkan tenaga sakti untuk melawan pukulan yang datang dari luar, akan tetapi meski pun dia tidak sampai terluka dalam, tetap saja tubuhnya terasa sakit-sakit seperti rontok semua tulang-tulangnya dan kepalanya menjadi pening.
Tetapi pemuda ini juga tidak pernah mengeluh dan dalam daya tahan dan kekerasan hati, belum tentu dia kalah oleh Sie Biauw Eng. Hanya ada satu hal yang membuat hati Keng Hong tidak enak, yaitu adanya Biauw Eng yang membelanya mati-matian. Dia membenci gadis ini akan tetapi dia pun tidak menghendaki gadis ini tewas karena dia. Sayang dan benci bercampur aduk di dalam hatinya, membuat hatinya terasa lebih sakit dari pada pukulan-pukulan yang diterimanya.
Yang paling berat baginya dalam pertandingan ini adalah tangan besi hijau dari Ouw Beng Kok, ketua Tiat-ciang-pang. Hebat bukan main ilmu kepandaian kakek ini, dan setiap kali tangannya bertemu dengan tangan besi, dia merasa tangannya panas dan sakit, sungguh pun dalam hal tenaga, dia tidaklah dapat dikatakan kalah karena Tiat-ciang Ouw Ban Kok juga tidak berani mengadu tenaga dengan pemuda ini.
Biauw Eng yang mengamuk secara nekat itu kembali terkena tusukan pedang, sekali ini di tangan Coa Bu. Karena dia sedang menahan desakan tongkat bambu Kok Sian Cu yang berbahaya dengan sabuk suteranya, maka tusukan dari samping kanan itu sukar untuk dapat dia hindarkan lagi. Dia hanya dapat meloncat ke atas untuk menghindarkan tusukan maut yang mengarah lambungnya, namun tetap saja ujung pedang itu menancap daging paha kanannya.
__ADS_1
Biauw Eng mengeluarkan jeritan, bukan jerit karena rasa nyeri melainkan jerit kemarahan. Ketika tubuhnya roboh, tangan kirinya bergerak cepat sekali dan sinar-sinar putih segera menyambar ke arah tiga orang kakek yang sedang mengeroyoknya itu. Hebat bukan main sambaran senjata rahasia bola-bola putih berduri yang kesemuanya mengarah ulu hati, leher dan pelipis lawan dan jumlahnya belasan buah karena disambitkan secara cepat dan susul menyusul.
"Aihhhh..!"
Coa Bu yang kegirangan karena berhasil merobohkan gadis yang lihai itu, berteriak kaget dan cepat miringkan tubuhnya. Meski pun bola putih yang menyambar ke ulu hati berhasil dibuat menyeleweng, akan tetapi tetap saja mengenai pundaknya, menimbulkan rasa nyeri dan seketika pundak berikut lengannya seperti lumpuh.
Karena maklum bahwa senjata rahasia itu bagian duri-durinya tentu mengandung racun, kakek Hoa-san ini segera melompat mundur, cepat merobek luka dengan ujung pedang untuk mengeluarkan darahnya, lalu mengobatinya dengan obat bubuk yang disimpan di sakunya.
Coa Kiu dan Kok Sian Cu dapat menangkis runtuh semua senjata rahasia, bahkan ketika gadis itu menguras seluruh senjata bola putih dan tusuk konde bunga bwe, mereka dapat menyampok semua am-gi (senjata gelap) itu ke atas tanah.
Kok Sian Cu menggerakkan tongkat bambunya ditusukkan ke arah perut gadis itu yang sudah rebah di atas tanah. Akan tetapi Biauw Eng tidak mau menyerah begitu saja. Dia menggunakan kegesitannya untuk bergulingan di atas tanah sehingga sampai empat lima kali ujung tongkat bambu itu hanya menusuk tanah.
__ADS_1
Melihat robohnya Biauw Eng, Keng Hong menjadi marah sekali. Ia mengeluarkan teriakan melengking nyaring kemudian pukulan Kok Liong Cu ke arah dadanya dia terima begitu saja sambil mengerahkan sinkang dan... tangan itu lalu melekat di dadanya terus disedot sinkang-nya! Namun, seperti juga tadi setiap kali Keng Hong berhasil menyedot singkang seorang lawan, kakek yang lain cepat-cepat menotoknya sehingga terpaksa dia tak dapat mempertahankan kekuatan sinkang-nya dan lawan itu lantas terlepas lagi. Jika saja yang menotok bukan tokoh-tokoh sakti seperti itu, tentu yang menotoknya pun akan tersedot sekalian!
"Dessss..!"
Begitu tangan Kok Liong Cu tertempel pada dadanya dan Kok Seng Cu cepat menotok pundaknya sehingga tubuhnya seperti lumpuh dan tangan Kok Liong Cu terlepas, sebuah pukulan kilat datang dari belakang, yaitu tangan besi ketua Tiat-ciang-pang, amat keras menghantam tengkuk Keng Hong. Pukulan ini adalah pukulan maut yang amat kuat dan jarang sekali ada tokoh kang-ouw yang sanggup menerima pukulan ketua Tiat-ciang-pang seperti itu.
Keng Hong terdorong sebuah pukulan kilat yang datang dari belakang, yaitu tangan besi ketua Tiat-ciang-pang, sangat keras menghantam tengkuk Keng Hong ke depan sehingga pemuda itu roboh menelungkup dalam keadaan pingsan!
"Keng Hong..!"
Biauw Eng yang tadinya sibuk bergulingan menghindarkan tusukan ujung tongkat bambu Kok Sian Cu, cepat menubruk ke arah Keng Hong ketika dilihatnya pemuda itu roboh dan disangkanya tentu tewas. Kekhawatirannya ini membuat dia kurang waspada dan selagi tubuhnya masih meloncat dan hendak menubruk Keng Hong, dari kiri melayang kaki Kok Liong Cu yang menendang keras, tepat mengenai lambungnya hingga tubuh Biauw Eng terlempar pula, terguling-guling dan rebah miring dalam keadaan pingsan.
__ADS_1
"Kita habiskan saja mereka. Dua orang muda ini benar-benar berbahaya sekali!" kata Kok Sian Cu yang sudah menggerakkan tongkat bambu ke arah Biauw Eng yang pingsan, ada pun Ouw Ban Kok sudah menghampiri Keng Hong hendak mengirim pukulan terakhir.
Ketua Tiat-ciang-pang ini merasa penasaran dan malu sekali bahwa pukulannya tadi tidak cukup kuat untuk membunuh Keng Hong, padahal dia maklum sekali bahwa pukulannya itu benar-benar hebat bukan main, dan kiranya orang-orang sakti yang berada di situ tak seorang pun yang akan sanggup menerima pukulan itu dengan hanya menderita pingsan seperti Keng Hong.