Pendekar Pedang Kayu Harum

Pendekar Pedang Kayu Harum
pkh 06 part 6


__ADS_3

Ucapan seperti ini bagi telinga Keng Hong merupakan ucapan yang terlalu bocengli dan mau mencari enak perutnya sendiri. Akan tetapi bagi dua orang gadis itu tidak aneh oleh karena mereka sendiri pun sejak kecil dididik untuk membawa pendapat sendiri tanpa peduli akan kesopanan dan keadilan umum. Pendeknya, yang benar bagi mereka adalah apa bila setiap tindakan ditujukan untuk keuntungan diri pribadi. Karena itu, ucapan nenek ini pun tidak mereka anggap bocengli, bahkan sudah wajar!


Cui Im sudah mengenal betapa saktinya Ang-bin Kwi-bo yang merupakan salah seorang di antara Bu-tek Su-kwi (Empat Iblis Tanpa Tanding), setingkat dengan gurunya. Karena itu dia tidak berani menentang dan hanya menundukkan muka tanda menyerah.


Akan tetapi sikapnya berbeda dengan Biauw Eng. Gadis ini adalah puteri Lam-hai Sin-ni, dan karena tugas yang sedang dilaksanakan ini adalah perintah ibunya, maka tentu saja mengandalkan nama besar ibunya dia tidak mau mengalah dan mempertahankan haknya sebagai orang yang menahan Keng Hong.


"Menyesal sekali bahwa terpaksa saya tidak dapat memenuhi kehendak bibi itu, karena tugas ini perintah dari ibu sehingga terpaksa saya harus mempertahankan hak saya atas diri murid Sin-jiu Kiam-ong yang telah kami tawan."


Mendengar ini, Ang-bin Kwi-bo menjadi tercengang dan fia memandang gadis baju putih itu penuh perhatian. Kemudian dia tertawa terkekeh dan berkata, "Eh, kiranya engkau ini puteri Lam-hai Sin-ni? Engkaukah yang membuat nama besar dengan julukan Song-bun Siu-li itu?"


"Benar, bibi. sayalah Song-bun Siu-li Sie Biauw Eng."


"Hi-hi-hik! Engkau berani melawan aku?"

__ADS_1


"Saya harus tahu diri dan saya pun maklum bahwa bibi bukanlah lawan saya. Seharusnya saya takut melawan bibi, namun saya lebih takut menghadapi ibu kalau saya melalaikan tugas yang diperintahkannya."


"Bagus! Kalau begitu, biarlah kita menggunakan hak seorang pemenang dan mari kita lihat siapa di antara kita yang akan menang dan juga berhak atas diri bocah ini!" Sambil berkata demikian, Ang-bin Kwi-bo telah meloncat ke depan menghadapi Biauw Eng yang sudah siap pula dengan senjatanya.


Gadis ini bersikap hati-hati sekali karena dia cukup maklum bahwa dia menghadapi lawan yang jauh lebih tinggi tingkatnya. Akan tetapi sedikit pun tidak terbayang rasa gentar pada wajahnya yang cantik namun dingin itu.


"Hi-hi-hik lumayan juga engkau! Agaknya sudah cukup matang sehingga maklum bahwa yang diam lebih kuat dari pada yang bergerak, yang diserang lebih untung dari pada yang menyerang. Biarlah kau jaga seranganku!"


Ucapan Ang-bin kwi-bo ini memang berlaku bagi dua orang lawan yang kepandaiannya setingkat, karena dalam ilmu silat, yang diam itu lebih waspada sedangkan si penyerang selalu membuka lubang untuk dirinya sendiri dan serangannya membuat kedudukannya agak lemah.


Biar pun Ang-bin Kwi-bo menyatakan hendak menyerang, akan tetapi kedua kakinya tidak bergerak maju, juga kedua tangannya tidak bergerak. Yang bergerak hanya kepalanya karena ia menggunakan rambutnya yang riap-riapan itu untuk menyerang!


Memang yang menyambar hanya rambut kepala itu, akan tetapi Biauw Eng yang lihai itu sama sekali tak berani menangkis, maklum bahwa senjata rambut ini merupakan senjata keistimewaan Ang-bin Kwi-bo dan bahwa rambut-rambut halus itu kalau digunakan oleh Ang-bin Kwi-bo berubah menjadi rambut-rambut yang kaku kuat melebihi baja!

__ADS_1


Biauw Eng mengelak dengan loncatan ringan ke kiri, kemudian sekali pergelangan lengan tangannya bergerak, cahaya putih sabuknya sudah meluncur cepat sekali menotok jalan darah maut di tenggorokan nenek iblis itu! Nenek itu sambil terkekeh menangkis totokan ujung sabuk ini dengan tangan kirinya, bahkan berusaha mencengkeram ujung sabuk dengan kuku-kukunya yang panjang. Akan tetapi ujung sabuk sutera itu lemas dan cepat sekali gerakannya, sebelum menyentuh tangan lawan sudah meluncur ke samping lalu melakukan totokan-totokan bertubi-tubi dari jarak jauh.


Biauw Eng amat cerdik. Karena maklum bahwa kelihaian nenek itu terletak pada rambut dan kukunya, ia sengaja menjatuhkan diri sehingga tidak dapat tercapai rambut mau pun kuku, sebaliknya ia dapat mengandalkan sabuknya yang panjang untuk menyerang terus secara bertubi-tubi. Setiap kali nenek itu menangkis dan hendak mencengkeram ujung sabuk, sabuk itu sudah melejit pergi untuk menotok lain bagian.


Dilihat begitu saja, pertandingan ini sangatlah menarik. Ujung sabuk putih itu seolah-olah seekor kupu-kupu putih yang lincah bukan main, hinggap di sana-sini dan selalu luput dari cengkeraman tangan Ang-bin Kwi-bo.


Bukan hanya sampai di situ usaha Biauw Eng untuk mengalahkan lawannya yang lihai. Ia harus mengerahkan seluruh kepandaiannya dan ia memang bersungguh-sungguh dalam usahanya untuk memenangkan perebutan ini biar pun tidak mungkin menurut perhitungan.


Selain menghujankan totokan-totokan dari jarak jauh, kini tangan kirinya kadang-kadang bergerak dalam saat-saat yang tidak terduga lawan dan meluncurlah senjata rahasianya yang ampuh, yaitu bola-bola putih yang berduri dan kadang-kadang diseling pula dengan senjata piauw berbentuk tusuk konde putih dengan ukiran bunga bwee.


Karena senjata-senjata rahasia ini dilepas dari jarak sangat dekat dan dilontarkan dengan pengerahan tenaga lweekang, juga pada saat yang tak terduga-duga dan memilih selagi kedudukan tubuh lawan lemah, mau tidak mau Ang-bin Kwi-bo harus mengelak ke sana ke mari sehinga untuk beberapa lama dia seperti terdesak! Ia terdesak bukan karena ilmu silat, melainkan karena kecerdikan lawan yang masih muda itu. Hal ini membuat Ang-bin Kwi-bo menjadi penasaran, malu dan marah sekali.


Pada saat nenek iblis ini repot mengelak dari hujan senjata rahasia, Biauw Eng tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, sabuk suteranya mengirim totokan yang amat kuat ke arah ulu hati nenek itu. Agaknya nenek yang sedang sibuk mengelak dari sambaran senjata rahasia ini tidak sempat lagi mengelak dari totokan maut ini sehingga Biauw Eng yang masih muda tidak dapat menahan rasa girangnya.

__ADS_1


Inilah pantangan bagi orang yang sedang bertanding. Ibunya sudah menggemblengnya sedemikian rupa sehingga dia menjadi seorang gadis berdarah dingin berurat syaraf baja, dan tidak dapat digoyangkan oleh segala macam perasaan.


__ADS_2