Pendekar Pedang Kayu Harum

Pendekar Pedang Kayu Harum
pkh 05 part 7


__ADS_3

Tapi sekarang, dia hanya akan mengenangnya sebagai sebuah kenangan yang memalukan dan menjijikan.


"Suci, jangan ribut. Ada musuh-musuh datang...!" Tiba-tiba Biauw Eng berkata halus.


Kedua orang itu merasa jengah sendiri mengapa mereka ribut-ribut saja sehingga tidak mendengar datangnya ancaman musuh. Pada waktu mereka berdua memandang keluar goa, benar saja, di bawah sinar bintang-bintang yang suram, terlihat berkelebat bayangan belasan orang yang gesit dan ringan.


Bagaikan bayang-bayangan setan, belasan orang itu menerjang kereta dan terdengarlah suara hiruk pikuk, suara senjata-senjata dipukulkan pada kereta sampai kereta itu hancur dan roboh, kudanya pun lari tak karuan. Agaknya orang-orang itu menjadi marah karena mendapatkan kereta itu kosong, kemudian melampiaskan kemarahan mereka pada kereta kosong!


"Kurang ajar! Mereka merusak kereta!" Cui Im berseru marah.


"Tenang, Suci. Mari kita sambut mereka! Dan kau Keng Hong, jangan turut mencampuri urusan kami, kau tinggal saja di sini dan menonton." Sikap Biauw Eng tenang sekali dan kini dia mengajak suci-nya untuk keluar dari goa menyambut belasan orang yang sudah mendengar seruan Cui Im dan kini menyerbu ke arah goa.


Keng Hong hanya duduk bersila di dalam goa, membuka mata memandang bayangan-bayangan itu dan telinganya mendengar suara Biauw Eng yang halus merdu dan tenang.


"Siapa di depan? Mau apa kalian dan mengapa merusak kereta? Di sini Song-bun Siu-li dan Ang-kiam Tok-sian-li!"

__ADS_1


Belasan sosok bayangan itu tiba-tiba saja berhenti bergerak, agaknya tertegun dan kaget mendengar nama-nama itu, kemudian terdengar suara.


"Kami empat orang anak murid Hoa-san-pai sedang mewakili suhu-suhu kami Hoa-san Siang-sin-kiam untuk minta diserahkannya tawanan yang bernama Cia Keng Hong!"


Dalam remang-remang tampak oleh Keng Hong bahwa empat orang yang berkelompok itu adalah tiga orang muda dan yang seorang gadis, kesemuanya memegang pedang. Teringat dia akan dua orang tokoh Hoa-san, yaitu Hoa-san Siang-sin-kiam yang bernama Coa Kiu dan Coa Bu, kakak beradik yang hebat ilmu pedangnya itu. Jadi empat orang ini murid-murid mereka? Tentu lihai ilmu silatnya.


"Pinceng bertiga adalah murid-murid Siauw-lim-pai, mentaati perintah ketua kami untuk menangkap Cia Keng Hong!" Tiga orang hwesio gundul Siauw-lim-pai itu masing-masing memegang sebatang toya dan tampaknya mereka itu kuat-kuat.


"Kami sembilan orang adalah murid-murid Kong-thong Ngo-lojin, juga mewakili suhu-suhu kami untuk membawa Cia Keng Hong ke Kong-thong-pai!" Sembilan orang ini pun masih muda-muda dan jika tidak keliru penglihatan Keng Hong di dalam gelap itu, mereka terdiri dari enam orang pemuda dan tiga orang pemudi, dengan senjata bermacam-macam, ada pedang, golok, tombak pendek, ruyung dan cambuk saja.


Akan tetapi, baik Cui Im mau pun Biauw Eng bersikap tenang-tenang saja, bahkan kini terdengar suara Biauw Eng yang halus dan dingin, mengandung ejekan dan tantangan.


"Cia Keng Hong adalah tangkapan yang berada di dalam kekuasaan kami sebagai wakil dari Lam-hai Sin-ni. Tak seorang pun boleh mengganggunya. Kalian ini murid-murid tokoh besar di dunia kang-ouw sungguh tak tahu malu telah merusak kereta kami. Jika memang hendak menggunakan kekerasan, majulah, kami berdua tidak gentar menghadapi kalian!"


"Omitohud, kiranya Song-bun Siu-li yang ternyata masih seorang bocah akan tetapi mulutnya sombong sekali!" bentak seorang murid Siauw-lim-pai.

__ADS_1


Dia langsung menerjang maju dengan toyanya, diikuti dua orang sute-nya. Yang lain-lain juga segera berseru keras dan menerjang maju, mengeroyok Cui Im dan Biauw Eng. Dua orang gadis murid Lam-hai Sin-ni mengeluarkan suara yang melengking tinggi dan tampaklah gulungan sinar pedang merah dari tangan Cui Im yang amat gemilang, disusul gulungan sinar putih dari sabuk sutera Biauw Eng yang lebih gemilang dan juga lebar lagi. Pertandingan berlangsung dengan sangat seru di malam yang remang-remang itu.


Tingkat kepandaian dua orang murid Lam-hai Sin-ni sesungguhnya lebih tinggi dari pada tingkat kepandaian murid-murid Siauw-lim-pai, Kong-thong-pai dan Hoa-san-pai itu, apa lagi Biauw Eng. Kiranya kalau hanya menghadapi pengeroyokan lima orang lawan saja, Biauw Eng masih ada harapan untuk menang. Ada pun takaran lawan Cui Im kiranya hanya dua atau paling banyak tiga orang lawan saja.


Jadi bila mereka dikeroyok tujuh atau delapan orang, barulah ramai dan seimbang. Akan tetapi kini yang mengeroyok mereka adalah enam belas orang! Tentu saja kedua orang murid Lam-hai Sin-ni menjadi terdesak hebat sehingga terpaksa mereka itu harus saling bela dengan cara berdiri beradu punggung dan memutar senjata secepat mungkin untuk menangkis hujan senjata yang akan menimpa mereka.


Sekali ini pun sabuk sutera putih di tangan Biauw Eng berjasa lagi karena sabuk yang panjang itu selain dapat melindungi tubuhnya sendiri, juga dapat membantu suci-nya yang mulai repot. Bahkan beberapa kali Cui Im mengeluarkan teriakan marah pada saat betis kirinya dan pangkal lengan kanannya tercium ujung senjata lawan sehingga walau pun bukan merupakan luka parah, namun cukup merobek baju dan kulit mengeluarkan darah.


"Nona, kalian berdua sebaiknya menyerah saja. Kami tidak bermusuhan dengan nona berdua, juga tidak ingin membunuh. Kami hanya ingin menawan Cia Keng Hong karena guru-guru kami mempunyai urusan dengan dia sebagai wakil gurunya yang telah berdosa terhadap partai kami," terdengar seorang pemuda murid Hoa-san-pai berkata nyaring.


"Mulut besar!" Cui Im membentak. "Keng Hong adalah tawanan kami, kalau kalian dapat membunuh kami, baru boleh bicara tentang menawan Keng Hong!"


"Bagus! Memang kaum sesat selalu nekat dan mau menang sendiri!" teriak seorang anak murid Kong-thong-pai dan kepungan lalu diperketat, serangan diperdahsyat sehingga dua orang murid Lam-hai Sin-ni menjadi semakin repot untuk melindungi tubuh mereka dari cengkeraman maut.


Kini cuaca mulai makin terang karena bulan sepotong yang munculnya sudah malam itu mulai memuntahkan sinarnya. Keng Hong yang menyaksikan pertandingan itu menjadi gelisah. Dia maklum bahwa dua orang nona itu juga sudah pasti akan roboh, kalau tidak tewas sedikitnya tentu akan terluka hebat.

__ADS_1


Dia sedang mempertimbangkan pendiriannya.


__ADS_2