
Keng Hong bangkit berdiri. Sesudah dia menyaksikan sepak terjang tiga orang manusia iblis dan sembilan orang yang mengaku sebagai tokoh-tokoh kang-ouw, hatinya menjadi dingin terhadap Kun-lun-pai yang tadinya dia junjung tinggi sebagai pusat orang-orang sakti yang budiman. Dia memandang tajam kepada Kiang Tojin lalu berkata,
"Totiang, sampai mati pun saya tidak akan menyangkal bahwa Totiang sudah menolong nyawa saya dan sampai mati pun saya akan selalu ingat dan akan berusaha membalas budi Totiang itu. Akan tetapi, apakah budi yang dulu Totiang lepas mengandung pamrih supaya selama hidup saya harus ikut dan menuruti segala kehendak Totiang? Apakah Totiang hendak merampas kebebasan saya? Totiang, pernah saya membaca ujar-ujar di dalam kitab kuno bahwa budi disertai pamrih bukanlah pelepasan budi namanya, akan tetapi pemberian hutang yang harus dibayar kembali beserta bunga-bunganya! Apakah Totiang menghutangkan budi kepada saya?"
"Ha-ha-ha...!" Sin-jiu Kiam-ong tertawa terpingkal-pingkal dan dia mengelus-elus kepala anak itu. "Bocah, engkau penuh dengan semangat menggelora! Eh, Kiang-toyu, maafkan saya, ya. Agaknya bocah ini sudah ketularan watakku! Sekarang engkau hendak bilang apa lagi, Toyu?"
Wajah Kiang Tojin menjadi merah, ia menjadi gemas kepada anak itu karena sebetulnya tidak ada sedikit pun pamrih di hatinya minta dibalas budi oleh anak itu. Dia tadi berusaha memisahkan Keng Hong dari Sin-jiu Kiam-ong karena sesungguhnya di dalam hatinya dia tidak rela dan tidak suka melihat Keng Hong menjadi murid kakek luar biasa ini. Perasaan ini semata-mata timbul karena rasa sayang kepada Keng Hong.
Dia mengenal orang macam apa adanya Sin-jiu Kiam-ong, seorang yang sejak mudanya hanya mengandalkan kepandaian malang melintang, seorang petualang yang tak pernah segan-segan melakukan segala jenis kemaksiatan, pengejar kesenangan pemuas nafsu. Dia ingin melihat Keng Hong menjadi seorang yang baik dan dia mengerti bahwa kalau anak ini menjadi murid si raja pedang, tentu akan mewarisi pula wataknya yang liar dan jiwa petualangnya. Ia menghela nafas dan berkata,
"Siancai... hanya Tuhan yang mengetahui isi hati manusia! Taihiap, tidak sekali-kali saya ingin mempengaruhi Keng Hong dan terserahlah kalau memang dia sendiri suka menjadi murid Taihiap. Akan tetapi ada satu hal yang hendaknya diketahui baik oleh Taihiap dan terutama oleh Keng Hong sendiri. Karena dia bukan anak murid Kun-lun-pai, dan tidak ada sangkut pautnya dengan Kun-lun-pai, maka pada kelak kemudian hari segala sepak terjangnya tidak ada hubungannya dengan Kun-lun-pai. Taihiap dipersilakan menempati Kiam-kok-san sebab Taihiap merupakan seorang penolong Kun-lun-pai, akan tetapi kelak bila mana Taihiap tidak lagi berada di Kiam-kok-san, tentu saja kami akan melarang Keng Hong untuk berada di wilayah kami. Nah, selamat berpisah, Taihiap, semoga Thian selalu melindungi dan melimpahkan berkahNya."
__ADS_1
Tosu itu memberi isyarat kepada saudara-saudaranya, kemudian setelah menjura ke arah Sin-jiu Kiam-ong segera meninggalkan tempat itu untuk kembali ke puncak dan memberi laporan kepada Thian seng Cinjin.
Sin-jiu Kiam-ong tertawa dan memegang tangan Keng Hong untuk diajak mendaki puncak Kiam-kok-san sambil berkata, "Jangan menganggap semua omongan tosu itu, Hong-ji. Mereka itu adalah orang-orang yang terikat, terbelenggu kaki tangannya oleh agamanya, kasihan...! Segala aturan yang dibuat oleh manusia merupakan belenggu-belenggu yang akan mengikat kaki tangannya sendiri. Ehh, namamu memakai huruf Hong, sama dengan namaku. Memang kita berjodoh... aughhh...!" Kakek itu memegangi dadanya dan kakinya terhuyung.
"Ehh... kenapa? Suhu.... Suhu terluka...?"
Wajah yang menyeringai menahan nyeri itu berseri kembali. "Ahh, tidak seberapa hebat. Tahukah engkau bahwa pada saat engkau menyebut Kong-kong kepadaku, aku merasa seolah-olah engkau ini cucuku sendiri? Ha-ha-ha-ha! Alangkah lucunya, kawin pun belum pernah, bagaimana bisa punya cucu? Kau lebih tepat menjadi muridku. Hemmm..., akan kuberikan seluruh milikku kepadamu, muridku. Mudah-mudahan saja tak terlambat. Mari kita naik ke Kiam-kok-san dan engkau harus rajin belajar karena waktunya tidak banyak. Aku... setan laknat tiga iblis itu... aku terluka, kalau hanya racun saja sudah dipunahkan Siang-bhok-kiam, akan tetapi... ahhh…, pukulan mereka merusak isi dadaku yang sudah kurang kuat...! Mudah-mudahan tidak terlambat..."
Ketika mereka memasuki halimun tebal yang menutup bagian puncak batu pedang, Keng Hong hampir menjadi kaku oleh rasa dingin. Seluruh tubuhnya menggigil hingga gigi atas beradu dengan gigi bawah. Namun dia tetap bertahan, tidak mau mengeluh sama sekali.
Ketika suhu-nya melepaskannya dan Keng Hong memandang sekelilingnya, dia melihat bahwa kini dia berada di puncak batu pedang, dan bahwa puncak itu tidak meruncing seperti nampaknya dari bawah. Halimun tebal itu pun tidak mencapai puncak, melainkan mengambang di bawahnya.
__ADS_1
Puncak itu sendiri tersinar cahaya matahari yang amat indah dan puncak itu cukup lebar berbentuk segi empat, seolah puncak itu tadinya meruncing kemudian patah. Lebarnya lebih dari lima puluh meter dan di situ terdapat sebuah pondok kecil, dan tanah atau batu di situ ditumbuhi rumput dan lumut hijau muda.
Sekeliling puncak itu hanya tampak halimun belaka, seolah-olah tempat itu bukan bagian dunia lagi, melainkan di dunia lain, di tengah-tengah langit antara awan-awan putih! Akan tetapi Keng Hong tidak kuat lagi karena tiba-tiba perutnya menjadi kejang-kejang saking dinginnya dan dia roboh pingsan di dekat kaki gurunnya!
Keng Hong sadar di dekat api unggun. Ketika dia bangkit dan duduk, dia melihat gurunya bersila di dekatnya dan guru ini menempelkan telapak tangan pada punggungnya.
"Duduklah bersila, Keng Hong, dan atur napas perlahan-lahan. Dengan bantuan api yang panas, tekankan dalam hati dan pikiranmu bahwa hawa sama sekali tidak dingin, bahkan agak panas. Jangan ragu-ragu, kubantu engkau."
Betapa mungkin, bantah hati anak itu. Hawa amat dinginnya, bahkan panasnya api tidak terasa sama sekali olehnya. Apa bila tidak ada telapak tangan gurunya yang menempel pada punggungnya, telapak tangannya yang seolah-olah memasukkan hawa panas yang menjalar ke seluruh tubuhnya, tentu dia takkan kuat menahan.
Akan tetapi dia mematuhi perintah suhu-nya, duduk bersila dan bernapas dalam-dalam, panjang-panjang, sambil menekankan keyakinan bahwa hawa sebetulnya tidak sedingin yang dianggapnya semula. Memang tadinya agak sukar, akan tetapi semakin hening dia memusatkan perhatian, makin terasa bahwa memang dia keliru menduga. Memang hawa tidaklah amat dingin. Makin lama makin panas sampai mulailah keluar peluh di lehernya!
__ADS_1
"Tubuh kita hanya merupakan alat, muridku. Bila mana batin kita kuat, maka kita akan dapat menguasai alat yang akan melakukan segala perintah otak dan kemauan kita. Kau harus berlatih seperti ini, memperkuat kemauan hingga seluruh anggota tubuhmu tunduk dan taat kepadamu. Jika hatimu bilang panas, tubuhmu harus merasa panas, sebaliknya bila menyatakan dingin, tubuhmu harus merasa dingin pula." Demikian kakek itu memberi pelajaran pertama.