Pendekar Pedang Kayu Harum

Pendekar Pedang Kayu Harum
pkh 12 part 11


__ADS_3

Melihat munculnya ketiga orang iblis ini, Thian Ti Hwesio tokoh Siauw-lim-pai yang tadi bicara, cepat berkata sambil menggerakkan tongkat Liong-cu-pang di tangannya.


"Omitohud...! Pinceng tidak akan mundur selangkah pun menghadapi ketiga orang Bu-tek Su-kwi jika sekali ini Sam-kwi hendak merampas peninggalan Sin-jiu Kiam-ong, termasuk kitab-kitab pusaka kami!”


"Kami pun tidak sudi bersekutu dengan Bu-tek Su-kwi, musuh-musuh kami dari aliran yang bertentangan!" kata Kok Sian Cu.


"Ha-ha-ha-ha! Ada saatnya bermusuhan ada saatnya bersahabat. Jika tidak ada alasan bermusuhan, kenapa tidak bersahabat? Kalau ada alasan kuat untuk bersekutu, mengapa bermusuhan? Bukankah Nabi Konghucu mengatakan bahwa di empat penjuru lautan ini semua manusia adalah bersaudara?" kata Pat-jiu Sian-ong yang suaranya halus sambil menggerak-gerakkan kebutannya dengan lagak seorang dewa sedang memberi ceramah kebatinan!


"Kami adalah golongan bersih, lawan golongan sesat, kami kaum putih lawan kaum hitam tidak sudi bersahabat dengan Bu-tek Su-kwi!" kata Coa Bu tokoh Hoa-san-pai.


Memang semua tokoh kang-ouw membenci Bu-tek Su-kwi, empat orang iblis yang selalu membikin kacau dunia kang-ouw dan hampir semua golongan kang-ouw pernah dibikin rugi oleh empat orang datuk hitam itu.

__ADS_1


"Hi-hi-hik, sombong amat orang Hoa-san-pai! Mengandalkan apanya sih?" Ang-bin Kwi-bo mengejek.


"Mengapa bicara baik-baik dengan orang yang berhati dengki dan memandang orang lain penuh dosa sedang diri sendiri yang paling bersih? Kalau kami merampas pusaka, kalian mau bisa berbuat apakah?" bentak Pak-san Kwi-ong dan kakek tinggi besar berkulit hitam ini menggerak-gerakkan tubuhnya yang berbulu sehingga dua buah tengkorak pada ujung rantai yang diikatkan di pinggangnya mengeluarkan suara berkelotokan mengerikan.


Akan tetapi Pat-jiu Sin-ong mengangkat tangan kanan yang memegang kebutan sambil tersenyum dan terdengarlah suaranya yang halus bagaikan orang peramah penuh kasih sayang antara manusia.


"Damai…, damai…! Tidak ada yang seindah perdamaian! Kami datang untuk membantu cu-wi sekalian dalam perdebatan memperebutkan kebenaran dengan pihak Kun-lun-pai! Harap cu-wi jangan salah faham."


Setelah berkata demikian, Pat-jiu Sian-ong memandang kepada kedua orang kawannya. Memang di antara mereka bertiga, Pat-jiu Sian-ong terhitung yang paling pandai bicara dan pandai pula bersiasat. Dia tahu bahwa kedua orang kawannya itu, seperti juga dia sendiri, tentu saja tidak gentar menghadapi pengeroyokan para tokoh kang-ouw itu.


“Kiang Tojin, engkau sebagai tokoh yang mewakili Kun-lun-pai, mengapa berpandangan sempit dan picik? Mengapa engkau melarang orang-orang gagah yang hendak naik ke puncak Kiam-kok-san?" dengan suara halus tetapi penuh nada menekan, Pat-jiu Sian-ong bertanya kepada Kiang Tojin.

__ADS_1


Tosu Kun-lun-pai ini maklum bahwa akibat munculnya Bu-tek Sam-kwi, keadaan menjadi gawat. Akan tetapi dia bersikap amat tenang ketika menjawab. "Pat-jiu Sian-ong, agaknya di jaman sekarang ini orang-orang kang-ouw tidak lagi mengindahkan peraturan sehingga melanggar wilayah orang lain sesuka hatinya dan seenak perutnya sendiri. Kiam-kok-san adalah wilayah kami, bagaimana mungkin kami membolehkan orang lain mendakinya?"


"Ha-ha-ha-ha-ha, alasan yang sangat lemah, ya... lemah sekali! Tadi sudah dikemukakan pendapat yang sangat jitu dari sahabat Kok Sian Cu wakil Kong-thong-pai dan sahabat Thian Ti Hwesio wakil Siauw-lim-pai. Mengejar orang jahat dan berusaha mengambil kitab pusaka sendiri sama sekali bukanlah sengaja ingin melanggar, Akan tetapi aku memiliki alasan yang lebih kuat sekali, Kiang Tojin. Bukankah tadi kau sendiri mengatakan bahwa Kiam-kok-san adalah sebuah tempat keramat bagi Kun-lun-pai dan tak seorang pun boleh mendakinya, bahkan orang Kun-lun-pai sendiri pun dilarang?"


"Benar sekali!" Kiang Tojin berkata tegas.


"Ha-ha-ha-ha! Jika demikian, mengapa sampai bertahun-tahun Sin-jiu Kiam-ong menjadi penghuni Kiam-kok-san padahal dia pun bukan seorang Kun-lun-pai? Dan sekarang, baru saja Cia Keng Hong mendaki Kiam-kok-san, tetapi mengapa didiamkan saja, Kiang Tojin? Bukankah dengan demikian seakan-akan Kun-lun-pai melindungi bocah itu? Ataukah ada udang bersembunyi di balik batu, ada maksud lain terkandung dalam peraturan ini?"


Mendengar ini, Kiang Tojin tidak mampu menjawab! Ya, bagaimana dia harus menjawab? Sin-jiu Kiam-ong dahulu setengah memaksa tinggal di Kiam-kok-san, dan karena tak ada orang Kun-lun-pai yang dapat menundukkannya, bahkan dia sudah melepas budi kepada Kun-lun-pai, maka ketua Kun-lun-pai membiarkan saja orang tua itu tinggal dan bertapa di Kiam-kok-san.


Kemudian Keng Hong tinggal pula di sana, akan tetapi hal itu merupakan kelanjutan dari perbuatan Sin-jiu Kiam-ong, bukan kehendak Keng Hong pribadi atau kehendak pihak Kun-lun-pai. Betapa pun juga, apa yang diucapkan oleh Pat-jiu Sian-ong memang benar terjadi!

__ADS_1


Kiang Tojin sudah melihat betapa semua tokoh kang-ouw yang tadi bersikap tak senang dan memusuhi ketiga orang Butek Su-kwi, kini mengangguk-angguk mendengar ucapan Pat-jiu Sian-ong itu. Hal ini pun dilihat jelas oleh Pat jiu Sian-ong yang merasa ‘mendapat angin’, maka dia lalu melanjutkan desakan kepada Kiang Tojin.


"Kiang Tojin, selama ini Kun-lun-pai terkenal sebagai partai besar yang kenamaan karena gagah perkasa dan menjujung tinggi kejujuran dan keadilan. Jika sekarang ini Kun-lun-pai berkukuh dengan peraturan hanya untuk mempertahankan sebongkah batu karang saja, tentu akibatnya akan hebat sekali. Bayangkan saja, kalau para cu-wi di sini tidak mau menerima peraturan kukuh yang mau menang sendiri itu tentu akan timbul bentrokan dan pertempuran yang akan membawa akibat hebat sekali. Bahkan sangat berbahaya bagi Kun-lun-pai."


__ADS_2