Pendekar Pedang Kayu Harum

Pendekar Pedang Kayu Harum
pkh 12 part 12


__ADS_3

Kakek bertubuh kecil kate akan tetapi mempunyai kepala sebesar gentong beras dengan muka ciut itu menggeleng-gelengkan kepalanya dan membelai lehernya dengan hudtim (kebutan dewa). Dengan hati mendongkol Kiang Tojin maklum apa yang tersembunyi di balik kata-kata itu, yang tidak diucapkan akan tetapi yang sesungguhnya paling penting, yaitu bahwa kalau terjadi pertempuran, tentu Bu-tek Sam-kwi akan berpihak kepada para tokoh kang-ouw!


"Sedangkan bahaya ke dua yang merupakan akibat kekukuhan peraturan tidak adil ini adalah bahwa jika para sahabat yang perkasa di sini berhati mulia dan mengalah lalu mengundurkan diri, tentu Kun-lun-pai akan menjadi buah tertawaan dan buah ejekan di seluruh dunia! Bayangkan saja, melindungi seorang bocah dengan dalih peraturan yang kaku, tua dan konyol, dengan pamrih bahwa kalau semua orang telah pergi, Kun-lun-pai tentu akan naik sendiri ke Kiam-kok-san, dan menguasai seluruh pusaka peninggalan dari Sin-jiu Kiam-ong! Bukankah Kun-lun-pai lalu dianggap sebagai perkumpulan berengsek yang menggunakan akal bulus dan menganggap semua tokoh kang-ouw di sini seperti kanak-kanak saja?"


"Pat-jiu Kiam-ong, omonganmu mengandung racun!" bentak Kiang Tojin dengan kedua tangan di kepal.


Dia maklum betapa lihainya kakek yang menjadi datuk golongan hitam ini, namun untuk mempertahankan Kun-lun-pai, dia tidak takut menghadapinya. Ia menaksir bahwa dengan enam orang sute-nya dan dibantu oleh puluhan anak murid Kun-lun-pai, dia tidak perlu takut menghadapi Bu-tek Su kwi yang hanya datang bertiga itu.


Akan tetapi tiba-tiba terdengar Kok Sian Cu tokoh Kong-thong-pai berkata, "Siancai...! Sekali ini, omongan Pat-jiu Kiam-ong ada isinya dan harus diakui kebenarannya!"


Pada saat Kiang Tojin memandang, jelas tampak olehnya betapa semua tokoh kang-ouw membenarkan datuk hitam itu dengan pandang mata atau anggukan kepala. Maklumlah Kiang Tojin bahwa keadaan benar-benar semakin gawat dan kalau dia tetap bersikeras mempertahankan, tentu akan terjadi bentrokan hebat yang dia sangsikan apakah akan menguntungkan Kun-lun-pai. Selagi Kiang Tojin merasa bimbang tiba-tiba saja terdengar suara gurunya berkata lembut,

__ADS_1


"Pat-jiu Sian-ong, keadaan menguntungkan bagi pihak Bu-tek Sam-kwi, Jelaskanlah, apa kehendakmu selanjutnya? Pinto mendengarkan." Tahu-tahu di situ telah muncul kakek tua Thian Seng Cinjin ketua Kun-lun-pai yang berdiri dengan tongkat di tangannya.


"Bagus sekali, Ketua kun-lun-pai datang sendiri, segala sesuatu dapat diputuskan dengan singkat dan tepat. Thian Seng Cinjin, mengingat akan keadaan para sahabat kang-ouw yang menaruh dendam kepada murid Sin-jiu Kiam-ong dan mereka yang dahulunya telah diganggu Sin-jiu Kiam-ong, maka sebaiknya kalau kita bersama ramai-ramai mengejar ke puncak Kiam-kok-san. Kita akan bekerja sama dalam suasana persahabatan, tanpa ada persaingan dan tidak ada perebutan. Kita tangkap bocah yang membikin kacau itu, dan kita ambil semua pusaka peninggalan Sin-jiu Kiam-ong. Para sahabat yang pusakanya dahulu dicuri oleh Sin-jiu kiam-ong tentu saja boleh mengambil pusaka masing-masing, ada pun pusaka-pusaka lainnya yang tidak ada pemiliknya, kita bagi rata di antara kita. Ada pun bocah itu sendiri, kita serahkan kepada mereka yang menaruh dendam padanya. Bagaimana, bukankah keputusan ini sudah adil sekali?"


Semua tokoh kang-ouw mengangguk-angguk menyatakan setuju dan terdengar ucapan ‘adil’ dari beberapa orang murid Kun-lun-pai.


Thian Ti Hwesio cepat-cepat berkata, "Omitohud, kami dari Siauw-lim-pai sama sekali tak menginginkan pusaka lain orang dan kami sudah cukup senang kalau dapat menemukan kembali dua buah kitab pusaka kami."


"Kami pun menghendaki nyawa anak itu sebagai pembalasan atas kematian banyak anak murid kami!" kata Kok Sian Cu dari Kong-thong-pai.


"Sin-jiu Kiam-ong berdosa kepadaku. Bila kini aku mendapatkan sebuah dua buah pusaka peninggalannya, itu sudah cukup adil," kata Sin-tio Gi-hiap.

__ADS_1


Semua orang lalu menyatakan penasarannya dan hak mereka untuk mendapat sebagian pusaka Sin-jiu Kiam-ong. Akhirnya Thian Seng Cinjin yang sejak tadi tersenyum tenang sambil mendengarkan tuntutan mereka itu, berkata.


"Dan bagaimana dengan kalian bertiga, Bu-tek Sam-kwi? Kalian bertiga menuntut apa? Juga menghendaki pembagian pusaka Sin-jiu Kiam-ong?"


"Ha-ha, Thian Seng Cinjin. Segala macam benda permainan dan pelajaran kanak-kanak apakah gunanya bagi kami? Kalau nanti ternyata ada yang berguna bagi kami tentu kami akan mengambil bagian kami sebagai imbalan atas usaha kami menciptakan perdamaian dan permufakatan di sini, ha-ha-ha!"


Kiang Tojin menjadi muak dan mendongkol mendengarkan omongan semua orang itu dan diam-diam di dalam hatinya dia terpaksa membenarkan maki-makian Keng Hong tadi bahwa orang tua-orang tua ini amatlah tamak! Makin suka hatinya terhadap Keng Hong, akan tetapi karena maklum sekali ini Keng Hong takkan dapat terlepas dari bahaya maut kecuali kalau dia pandai terbang di udara, maka dengan menekan keharuan hatinya dia hanya berkata,


"Keputusan terserah kepada Suhu, asal saja para sahabat yang mulia ini masih mau ingat bahwa merupakan pantangan besar bagi Kun-lun-pai untuk melihat pembunuhan terjadi di sini!"


"Suheng kenapa khawatir? Para Locianpwe tentu akan menangkap dan membawa pergi bocah setan itu, tak akan membunuhnya di depan Kiang Tojin!" kata Lian Ci Tojin dengan hati girang.

__ADS_1


Tosu ini tadinya merasa gelisah sekali ketika Keng Hong memperlihatkan pita hijau dan mendengar omongan pemuda itu. Rahasianya telah diketahui orang dan celakanya, yang mengetahui adalah bocah ini. Maka dia harus dapat membunuh Keng Hong atau melihat bocah ini terbunuh, baru akan aman rasa hatinya. Karena dia memang sudah mempunyai perasaan tidak suka kepada Kiang Tojin, maka dia mempergunakan kesempatan itu untuk memukul suheng-nya ini dengan ucapan yang jelas penuh arti itu...


__ADS_2