Pendekar Pedang Kayu Harum

Pendekar Pedang Kayu Harum
pkh 15 part 5


__ADS_3

Sejak itu muncullah julukan Kim-lian Jai-hwa-ong yang tak pernah dilihat orang, atau pernah pula dilihat orang-orang akan tetapi begitu bertemu dengannya tentu dibunuhnya!


Malam hari itu hati Siauw Lek murung dan tidak puas. Ia gagal bersenang-senang dengan puteri The-ciangkun yang tak mau melayani hasrat hatinya bahkan berani menjerit hingga terpaksa dibunuhnya.


Siauw Lek memang seorang Jai-hwa-ong (penjahat pemerkosa wanita), akan tetapi dia mempunyai kebiasaan aneh yang dia beritahukan kepada lima orang Pak-san Ngo-houw sebelum mereka dia bunuh, yaitu bahwa dia hanya mau memiliki wanita yang bersedia melayaninya! Kalau wanita itu menolak, tentu dibunuhnya!


Banyak wanita yang karena takut dibunuh, atau karena memang tertarik oleh wajahnya yang tampan dan tubuhnya yang tinggi besar, suka melayaninya dan tentu saja setelah melayani hasrat nafsu penjahat ini, wanita-wanita itu lalu menyimpannya sebagai rahasia besar dan tidak berani menceritakan keadaan penjahat itu kepada orang lain karena hal itu sama saja mengakui bahwa dia telah dinodai penjahat itu! Mereka yang menolaknya pun tidak dapat menceritakan kepada orang lain karena mereka ini tentu sudah dibunuh oleh Siauw Lek.


Ada kalanya Siauw Lek berhasil mendapatkan pelayanan wanita yang memang tertarik kepadanya, akan tetapi ada pula yang harus dia dapatkan dengan cara mengancam dan dalam hal ini dia mempunyai banyak cara yang keji dan tidak mengenal peri kemanusian. Dalam mencengkeram nafsu birahinya sendiri, Siauw Lek kadang-kadang seperti bukan manusia lagi, melainkan iblis sendiri yang memasuki tubuhnya.


Malam itu dia murung. Dia hanya berhasil membunuh banyak orang, namun dia semakin ditekan serta dihimpit oleh nafsunya sendiri yang belum terpuaskan. Biasanya, sebelum mendatangi korbannya di malam hari, siangnya dia sudah melihat-lihat dan mencari-cari. Malam ini dia tidak ada tujuan tertentu karena siang tadi dia mencurahkan perhatiannya kepada puteri panglima itu. Amat sukat untuk mencari korban pada malam hari seperti itu, karena tidak mungkin pula dia harus mengintai setiap rumah untuk mencari wanita yang disukainya.


"Bedebah!" Ia menyumpahi nasibnya yang dianggapnya sial malam itu.

__ADS_1


Penjahat yang berilmu tinggi ini sama sekali tidak tahu bahwa ada bayangan yang amat gesit gerakannya, yang seakan-akan terbang saja ketika mengikutinya dari jauh. Tiba-tiba saja Siauw Lek berhenti berlari dan bayangan di belakangnya pun cepat menyelinap dan bersembunyi di balik wuwungan rumah.


Kiranya Siauw Lek berhenti bukan akibat sudah mengetahui bahwa dia dibayangi orang, akan tetapi karena dia mendengar suara bayi menangis dari rumah di sebelah depan, sebuah rumah kecil terpencil. Hatinya tergerak.


Hemmm, ada bayinya tentu ada ibunya yang muda, pikir otaknya yang sudah terlalu kotor karena selalu dipenuhi nafsu birahi yang tidak wajar. Dia lalu melompat ke depan, ke atas genteng rumah di depan itu dan kini tangis bayi sudah tak terdengar lagi.


Dari atas genteng, Jai-hwa-ong ini mengintai dengan jalan membuka genteng. Di bawah tampak sebuah kamar yang sederhana namun bersih, diterangi lampu minyak yang cukup terang. Seorang lelaki berusia tiga puluhan tahun tidur meringkuk di sudut ranjang dengan muka menghadap dinding. Di tepi ranjang itu sendiri, seorang wanita muda sedang duduk menyusui bayinya yang baru berusia beberapa bulan.


Ibu ini masih muda, paling banyak dua puluh satu tahun usianya dan karena ia menyusui bayinya di dalam kamar sendiri, wanita ini tidak ragu-ragu membuka penutup dadanya lepas-lepas sehingga tampaklah dua buah bukit dada yang berkulit putih halus dan penuh seperti yang biasa dimiliki ibu-ibu muda yang sedang menyusui anaknya.


Hati serta pikirannya sudah dipenuhi dengan bayangan kecabulan. Sudah penuh dengan rangsangan-rangsangan nafsu birahi sehingga pemandangan seorang ibu muda menyusui anaknya itu mendatangkan nafsu yang menyala-nyala dalam dirinya.


Ibu muda yang memang cantik dan terutama sekali berkulit putih kuning dan halus itu, kini agaknya terbangun dari tidur, tampaknya demikian penuh sifat kelembutan seorang wanita. Seketika lenyaplah kemurungan dan kekecewaannya, lenyaplah bayangan puteri Panglima The yang tadi urung dia dapatkan dan terpaksa dia bunuh. Dengan gerakan tangannya yang kuat dia lantas membuka beberapa buah genteng, kemudian tubuhnya menyelinap turun melalui lubang itu dan meloncat ke dalam kamar.

__ADS_1


"Aihhhh...!" Wanita itu berseru kaget ketika tiba-tiba ada seorang laki-laki asing berdiri di depannya.


Akan tetapi dia tidak sempat menjerit lagi karena jari tangan Siauw Lek sudah bergerak cepat menotok leher wanita itu sehingga jeritannya tertahan di kerongkongan, tidak dapat berteriak lagi. Dengan muka pucat wanita itu lalu memeluk bayinya, dirapatkan ke dada, bukan hanya untuk melindungi bayinya, juga untuk menutupi buah dadanya yang polos telanjang.


"Manis, jangan takut. Aku telah melihatmu dan jatuh cinta kepadamu. Kalau engkau mau melayani aku dengan manis, engkau takkan kubunuh, akan tetapi kalau engkau menolak, suamimu ini akan kubunuh lebih dulu!"


Agaknya suami wanita itu mendengar suara ribut-ribut dan menggeliat lalu membalikkan tubuh, mengedipkan matanya yang menjadi terbelalak ketika dia melihat isterinya berdiri ketakutan dan ada seorang lelaki asing berdiri di situ. Akan tetapi dia tak dapat bergerak, hanya dapat memandang dengan sinar mata penuh kemarahan dan kekhawatiran karena pada saat itu pula jari tangan Siauw Lek secepat kilat telah menotok jalan darahnya yang membuat laki-laki di atas ranjang itu lemas dan tak dapat bergerak.


"Jangan kau berteriak, Manis, aku tidak akan menyusahkanmu, tak akan menyakitimu..." Kembali Siauw Lek merayu dan tangannya bergerak menotok leher membebaskan jalan darah wanita itu sehingga dapat mengeluarkan suara lagi.


"Ampunkan saya...," wanita itu berkata lemah.


Siauw Lek tersenyum penuh kemenangan. Dia lalu mengulur tangan menyentuh pundak yang setengah terbuka itu, pundak yang kecil berkulit putih halus. "Engkau tidak bersalah apa-apa, Manis, kenapa minta ampun? Aku hanya akan mencintaimu, kau layanilah aku baik-baik, balaslah cintaku dan aku tak akan mengganggu selembar pun rambutmu yang halus ini..."

__ADS_1


"Ohhh, ampun… jangan..." Wanita itu mengeluh penuh kepanikan sambil melirik ke arah suaminya yang rebah miring tak dapat bergerak itu.


__ADS_2