Pendekar Pedang Kayu Harum

Pendekar Pedang Kayu Harum
pkh 01 part 9


__ADS_3

Dia sedang membersihkan daun-daun pintu dan jendela yang terkena debu ketika Thian Seng Cinjin dan anak muridnya berkumpul di ruangan belajar. Karena dia tidak diusir dan memang dia bekerja tanpa mengeluarkan suara, maka Keng Hong dapat melihat serta mendengar semua.


Suasana di ruangan belajar itu amat hening sebab para murid mendengarkan wejangan guru mereka dengan penuh hormat dan kesungguhan hati, membuat Keng Hong berkerja makin hati-hati agar tidak mengganggu. Akan tetapi dia kadang-kadang sampai lupa akan pekerjaannya karena mendengar hal-hal yang amat menarik hatinya. Dia mendengarkan terus.


"Suhu, kemarin di puncak Kiam-kok-san sudah terjadi keributan," demikian Kiang Tojin, penolongnya dan merupakan tosu yang paling dihormati dan dicintai Keng Hong, berkata melapor. "Agaknya Sin-jiu Kiam-ong sudah kumat lagi watak mudanya yang suka dengan keributan. Menurut laporan dari para murid, Suhu, ada sembilan orang tokoh kang-ouw, termasuk pula dua orang hwesio Siauw-lim-pai, dua orang tokoh Hoa-san-pai dan seorang tosu Kong-thong-pai, mendatangi dia untuk minta pedang Siang-bhok-kiam. Mereka telah dilayani oleh Sin-jiu Kiam-ong yang berjanji sebulan lagi akan menanti mereka di hutan mawar sebelah selatan kaki gunung. Mohon keputusan Suhu karena keributan ini terjadi di wilayah kita."


"Siancai..., siancai...! Sejak dahulu Sie-taihiap (pendekar besar she sie) selalu mengejar kesenangan dan ketegangan. Akan tetapi harus diakui bahwa di balik kebiasaannya yang buruk itu tersembunyi watak pendekar yang patut kita puji. Kita orang-orang Kun-lun-pai bukan merupakan golongan yang tak kenal budi. Dulu Sie-taihiap pernah menanam budi kepada kita maka kita mengijinkan dia bertapa di Kiam-kok-san yang merupakan tempat suci bagi kita karena dahulu sucouw (Kakek guru) kita memilih tempat itu sebagai tempat bertapa sampai musnah dari dunia. Kini Sie-taihiap mengundang keributan, biarlah kita tidak mencampurinya. Pinto melarang seorang pun murid Kun-lun-pai untuk ikut campur tangan dan biar Sie-taihiap menyelesaikan urusannya sebagaimana yang dia kehendaki."


Mendengar percakapan mereka tentang Sin-jiu Kiam-ong yang berwatak aneh, hati Keng Hong menjadi tertarik sekali. Sudah banyak dia membaca kisah tentang keanehan para pendekar. Walau pun Kun-lun-pai merupakan pusat pendekar-pendekar sakti dan dia pun maklum bahwa Kiang Tojin penolongnya adalah orang yang berilmu tinggi, apa lagi guru penolongnya itu tentu seorang yang sakti, tetapi mereka tak memperlihatkan kepandaian mereka dan hidup sebagai pertapa-pertapa dan petani-petani biasa. Maka kini pada saat mendengar tentang Sin-jiu Kiam-ong yang hendak menghadapi lawan-lawan sakti di kaki gunung sebelah selatan, di dalam hutan mawar, dia menjadi ingin sekali menonton.


Demikianlah, pada hari yang telah ditentukan, sebulan setelah pertemuan di puncak yang disebut puncak Lembah Pedang, Keng Hong menggembalakan kerbaunya di luar hutan mawar. Biasanya bila dia menggembala kerbau yang enam ekor banyaknya itu, dia akan pergi menuju ke utara. Akan tetapi sekali ini dia sengaja menggiring kerbaunya turun ke selatan dan membiarkan kerbaunya itu makan rumput hijau gemuk di luar hutan mawar.


Agar tidak kelihatan bahwa dia sengaja datang ke tempat itu untuk menonton pertemuan orang-orang sakti seperti yang dia ketahui dari percakapan antara ketua Kun-lun-pai dan murid-muridnya, dia lalu berbaring menelungkup di atas punggung kerbau yang terbesar sambil meniup-niup suling bambu yang dibawanya.

__ADS_1


Keng Hong mempunyai kepandaian istimewa dalam meniup suling, bahkan sejak kecil ia sudah bermain suling, pandai meniup suling menirukan suara ayam dan burung-burung. Juga dengan tiupan sulingnya dia dapat merangkai suara-suara indah dan menciptakan lagu-lagu yang sungguh pun dirangkai sejadinya namun amat sedap didengar.


Sementara itu, sejak pagi Sin-jiu Kiam-ong Sie Cun Hong sudah duduk bersila di antara sekelompok bunga mawar, dan seperti ketika dia bersila di bawah batu pedang, sekarang pedang Siang-bhok-kiam juga tergeletak di depan kedua lututnya. Ia duduk bersila tanpa bergerak, dengan kedua mata dipejamkan, hening tenggelam ke dalam semedhi.


Tiba-tiba daun telinga kiri kakek ini bergerak, kemudian perlahan-lahan dia mengejapkan matanya. Ia mengerutkan kening saat mencurahkan perhatian dengan pendengarannya. Kakek ini mempunyai kebiasaan yang aneh, yaitu apa bila dia mendengar sesuatu yang mengesankan, maka daun telinga kirinya dapat bergerak seperti telinga kelinci!


Kalau dia sedang semedhi, meski pun ada suara halilintar menyambar di atas kepalanya, dia tidak akan terkejut atau mempedulikan, akan tetap tenang di dalam siulan-nya. Akan tetapi sekali ini, dia sadar dari siulan-nya (semedhi) karena mendengar tiupan suling yang amat merdu! Suara yang mengandung getaran sangat mengharukan, yang sangat halus seolah-olah hembusan angin pada ujung daun-daun bambu.


Karena Sin-jiu Kiam-ong memang amat suka mendengar suara suling, maka suara suling penuh getaraan halus ini lebih kuat pengaruhnya dari pada ledakan halilintar, menggugah dia dari semedhi dan membuat kakek ini ingin sekali mengetahui siapa gerangan yang dapat meniup suling seindah itu!


Ketika sampai di luar hutan dan melihat bahwa yang meniup suling adalah seorang bocah yang sedang duduk di atas punggung seekor kerbau besar, begitu penuh kedamaian dan ketenangan, sejenak Sin-jiu Kiam-ong tercengang kagum. Kemudian dia menghela napas panjang dan berbisik.


"Engkau telah menjadi pikun, terlalu tua! Di mana bisa terdapat orang yang begitu bersih hatinya sehingga tercermin pada tiupan sulingnya? Hanya seorang bocah saja yang akan sanggup meniup suling seperti itu. Di dunia ini mana terdapat orang yang hatinya bersih melebihi hati seorang bocah?"

__ADS_1


Ia lalu melangkah masuk ke dalam hutan mawar kembali sambil menggeleng-gelengkan kepala dan mencela kebodohan sendiri. Tak lama kemudian dia sudah kusuk bersila lagi, akan tetapi kali ini dia tidak bersemedhi, namun memasang pendengarannya menikmati alunan lagu yang terhembus keluar dari lubang-lubang suling.


Kakek ini tahu bahwa berturut-turut telah datang sembilan orang sakti yang sebulan yang lalu telah mengunjunginya di Kiam-kok-san. Akan tetapi dia tak peduli, bahkan pura-pura tidak tahu dan masih menikmati alunan suara suling yang terdengar sayup sampai.


Dia seperti orang terpesona dan tenggelam dalam hikmat suara itu, yang membawanya melayang-layang kembali kepada masa mudanya sehingga diam-diam dia menyesali diri sendiri. Sungguh dia harus merasa malu bahwa di ambang kematiannya, karena memang dia sudah mengambil keputusan hendak menyerahkan nyawanya tanpa melawan kepada sembilan orang ini, belum pernah dia melakukan jasa sedikit pun selama hidupnya.


Bahkan sebaliknya ia selalu hidup mengejar kesenangan, bergelimang dalam cinta kasih dengan banyak wanita yang dibalasnya hanya berdasarkan dorongan nafsu birahi. Belum pernah selama hidupnya dia menjatuhkan hati, mencinta seorang wanita dengan murni.


Betapa dia hidup secara berandalan, tidak pernah membedakan antara baik dan buruk, ugal-ugalan, merampas kitab-kitab dan benda-benda pusaka, mendatangi jagoan-jagoan hanya untuk memuaskan nafsunya ingin menang, menyerbu partai-partai persilatan untuk mengalahkan ketua-ketuanya.


Walau pun semenjak dahulu dia tidak pernah mempunyai niat untuk menjahati orang lain, namun wataknya yang ugal-ugalan tanpa dia sadari telah menyakitkan hati banyak orang. Kini datanglah penyesalan dan makin dia perhatikan suara suling yang mengalun merdu itu makin terharulah hatinya.


Perlahan-lahan suara suling itu makin melemah, kemudian terhenti seolah-olah peniupnya sudah merasa bosan dan lelah, seperti juga dia yang sudah merasa bosan untuk hidup lebih lama lagi, sudah lelah untuk berurusan dengan dunia yang lebih banyak deritanya dari pada senangnya.

__ADS_1


Setelah suara suling terhenti, Sin-jiu Kiam-ong mengangkat mukanya. Pandang matanya menyapu para pengunjung yang sudah berdiri berjajar di depannya dalam keadaan siap siaga, dengan senjata pada tangan masing-masing karena mereka itu kini datang untuk bertindak, bukan untuk bicara lagi. Semua mata sembilan orang itu ditujukan ke arah Siang-bhok-kiam yang menjadi pusat perhatian dan yang sebenarnya merupakan sebab utama kunjungan mereka.


"Ahh, kalian sudah datang? Nah, aku pun sudah siap. Sekarang aku takkan melawan bila hendak membunuh aku, lakukanlah cepat-cepat. Akan tetapi, karena yang membunuhku berhak memiliki Siang-bhok-kiam maka lebih dulu hendak kujelaskan kegunaan pedang ini." Kakek itu mengambil pedang kayu dari depannya...


__ADS_2