Pendekar Pedang Kayu Harum

Pendekar Pedang Kayu Harum
pkh 07 part 4


__ADS_3

Sejenak ibu dan anak berdiri tegak berhadapan, saling bertentang pandang. Keng Hong yang melihat ini merasa betapa bulu tengkuknya berdiri. Alangkah serupa benar orang ini. Hanya yang seorang nenek-nenek, yang ke dua gadis remaja. Akan tetapi kedua-duanya sama-sama berwajah dingin dan memiliki pandang mata yang membayangkan kekerasan hati seperti baja!


"Pernah menolongmu tidak dapat dijadikan alasan untuk mencegah aku membunuhnya! Dia harus kubunuh karena dia, manusia tolol dan murid tidak setia ini, dia agaknya sudah menerima pelajaran Thi-khi I-beng dari Sin-jiu Kiam-ong setan tidak setia itu! Karena itu dia harus kubunuh. Minggirlah!"


Akan tetapi sejengkal pun Biauw Eng tidak mau minggir, bahkan dia menegakkan kepala, membusungkan dada dan memandang ibunya dengan sikap menantang.


"Tidak!" katanya dan untuk pertama kali terdengar suaranya dipengaruhi nafsu. "Ibu tidak boleh membunuhnya!"


Lam-hai Sin-ni tertegun. Sejak kecil puterinya ini tidak pernah berani membantahnya. Dia yang menjadi semacam ‘ratu’ di daerah pantai laut selatan, yang ditakuti semua orang, kini terheran-heran menyaksikan puterinya sendiri hendak membantah dan melawannya!


"Apa kau bilang? Mengapa tidak boleh?"


"Karena aku cinta kepada Cia Keng Hong!"


Sunyi sekali sesudah ucapan yang nyaring itu diucapkan oleh Biauw Eng. Tiga pasang mata terbelalak, yaitu mata Keng Hong, Cui Im serta Lam-hai Sin-ni sendiri.


Keng Hong terbelalak dan jantungnya berdebar keras sampai tubuhnya menjadi gemetar. Biauw Eng cinta kepadanya? Sungguh hal yang sama sekali tidak pernah dia duga! Kalau Cui Im yang mencintainya, hal itu tidak aneh, dia mengenal watak mata keranjang murid Lam-hai Sin-ni itu. Akan tetapi Biauw Eng? Sikapnya terhadapnya begitu dingin, begitu galak!

__ADS_1


Juga Cui Im terbelalak. Mendengar sumoi-nya secara terang-terangan mengaku cinta kepada seorang pemuda, benar-benar membuat dia seperti mimpi di siang hari! Padahal biasanya, sumoi-nya itu memandang rendah semua pria, bahkan menjadi marah-marah dan memaki-makinya kalau dia bicara tentang pria. Sumoi-nya seorang yang ‘alim’ dan agaknya mempunyai pantangan untuk segala macam bentuk cinta terhadap pria!


"Kau... kau gila...? Kau... kau mencita murid Sin-jiu Kiam-ong...?" Lam-hai Sin-ni berbisik, seolah-olah tidak percaya kepada telinganya sendiri.


"Kau... heh-heh-heh... kau mencinta dia...?"


Baru sekali ini Cui Im mendengar gurunya tertawa dan dia merinding penuh keseraman. Suara ketawa itu lebih pantas disebut isak tangis.


"Kau mencinta muridnya? Dia... dia tentu mata keranjang, tidak setia seperti... seperti..."


Tiba-tiba saja Lam-hai Sin-ni mengeluarkan pekik mengerikan, kemudian wajahnya yang biasa dingin itu kini berubah beringas. "Kau sudah gila! Minggir! Pengakuanmu ini bahkan mendorongku untuk membunuh si keparat! Minggir!"


"Tidak, ibu!" Biauw Eng melolos sabuk suteranya dan berkata kepada Keng Hong dengan suara halus, "Keng Hong, kau pergilah. Kau pergilah setelah kau dengar pengakuanku. Pergilah...!"


Wajah Keng Hong menjadi pucat pasi. Jadi Biauw Eng ini adalah puteri gurunya! Kalau begitu... antara gurunya dan Lam-hai Sin-ni pernah menjadi hubungan suami isteri! Dan puteri gurunya ini mencintainya! Dia tidak tahan lagi, merasa kasihan mendengar suara menggetar dari Biauw Eng ketika menyuruh dia pergi. Sambil menghela napas, dia lalu membalikkan tubuhnya dan meloncat pergi dari tempat itu.


"Minggir...!" Lam-hai Sin-ni berteriak sambil menerjang ke depan, hendak mengejar Keng Hong.

__ADS_1


Akan tetapi Biauw Eng juga menerjang maju menyambut ibunya dengan serangan sabuk sutera sambil berkata, "Ibu hanya dapat mengejarnya melalui mayatku!"


Nenek itu mendorong anaknya supaya jangan menghalanginya, akan tetapi sabuk sutera putih Biauw Eng bergerak cepat mengirim totokan ke arah kedua lutut ibunya dengan kuat sekali. Lam-hai-Sin-ni menjadi makin marah sebab totokan yang dilakukan puterinya itu kalau mengenai lututnya tentu akan membuat kedua kakinya tak dapat lari lagi.


Maka sambil mendengus ia menyambar ujung sabuk sutera itu dengan kedua tangannya, merenggutnya terlepas dari tangan Biauw Eng dan melemparkannya ke atas tanah. Hal ini terjadi tanpa mampu dicegah oleh Biauw Eng. Sementara itu bayangan Keng Hong sudah pergi jauh sekali dan Lam-hai Sin-ni cepat lari mengejar.


Akan tetapi, kembali Biauw Eng menyerangnya. Kini dengan pukulan tangan yang amat dahsyat. Lam-hai Sin-ni terkejut, terheran-heran dan hampir tidak percaya akan pandang matanya sendiri. Puterinya sendiri menyerangnya seperti ini? Dengan pukulan maut?


Teringatlah nenek ini akan keadaan dirinya sendiri dahulu lantas terdengar suara terisak dari dalam dadanya. Pukulan puterinya itu dia tangkis dengan keras sehingga Biauw Eng terpekik dan terbanting ke kiri sampai bergulingan.


Gadis ini cepat menoleh ke arah larinya Keng Hong dan hatinya agak lega melihat bahwa pemuda itu tentu sudah lari jauh sekali karena tak tampak lagi bayangannya. Ketika dia menengok ke arah ibunya, dia sangat terkejut dan terheran, kemudian dia bangkit berdiri dan lari menubruk ibunya yang ternyata sudah duduk bersila sambil meramkan mata, mukanya pucat seperti mayat dan tubuhnya kaku! Ia maklum bahwa ibunya sedang berduka sekali dan bahwa di dalam dada ibunya sedang terjadi ‘perang’ antara membunuh Keng Hong atau memenuhi permintaan puterinya. Biauw Eng yang berlutut di depan ibunya segera menyentuh kaki ibunya dan menangis.


Cui Im terbelalak untuk kedua kalinya. Selama menjadi murid Lam-hai Sin-ni baru sekali ini dia melihat keanehan yang terjadi pada diri sumoi-nya yang biasanya amat ia kagumi karena sumoi-nya itu biar pun lebih muda dari padanya, namun amat lihai dan memiliki sifat-sifat yang persis Lam-hai Sin-ni.


Akan tetapi hari ini, gara-gara Keng Hong, ia melihat sumoi-nya menyatakan cinta kepada Keng Hong, dan kini, hal yang sangat luar biasa ia lihat ketika sumoi-nya itu menangis! Timbul perasaan panas di hatinya.


Dia sendiri tergila-gila kepada Keng Hong, tergila-gila akan ketampanannya dan terutama sekali akan ilmu kepandaiannya dan pusaka-pusaka yang mungkin sekali akan bisa dia dapatkan melalui pemuda itu. Sekarang mendengar pengakuan sumoi-nya, diam-diam ia menjadi iri hati, cemburu dan marah.

__ADS_1


__ADS_2