
Akan tetapi karena sekali ini dia menghadapi lawan yang jauh lebih lihai, begitu melihat betapa dia mampu mendesak, bahkan totokan mautnya hampir mengenai sasaran, Biauw Eng tidak dapat menahan kegembiraan hatinya dan hal ini, biar pun hanya sedikit, tetap saja telah mengurangi kewaspadaannya. Dalam kegembiraannya ia lupa bahwa nenek itu amat sakti dan keadaan yang mendesak itu mungkin hanya merupakan siasat yang lihai belaka.
Dia sadar sesudah terlambat karena ketika totokan ujung sabuknya sudah dekat dengan dada nenek itu, tiba-tiba rambut nenek itu menyambar ke depan dan membelit-belit sabuk sutera putihya!
Biauw Eng sangat terkejut dan terpaksa hendak melepaskan sabuknya, namun sebagian dari rambut nenek itu sudah bergerak lagi dan seperti hidup, rambut itu telah menangkap lengan kanannya, membelit bagian pergelangan sehingga lengan gadis itu bagaikan telah diikat kuat-kuat.
"Hi-hi-hik-hik! Engkau berani melawan aku, ya? Sebagai puteri Lam-hai Sin-ni, aku akan mengampuni nyawamu, akan tetapi sebagai seoang gadis yang berani melawanku, kau harus dihukum!"
Biauw Eng maklum bahwa dari seorang nenek seperti ini dia tidak dapat mengharapkan maaf, maka ia pun tidak mau minta maaf, bahkan tiba-tiba ia memukulkan tangan kirinya ke arah lambung nenek itu. Pukulan ini hebat sekali dan biar pun Ang-bin Kwi-bo seorang tokoh besar dalam dunia sesat, akan tetapi jika pukulan tangan kiri Biauw Eng mengenai lambungnya, tentu dia akan celaka, sedikitnya luka hebat.
Akan tetapi pada saat itu si nenek sudah membuat Biauw Eng tak berdaya dengan hanya menggunakan rambutnya saja sedangkan dua tangannya masih menganggur, tentu saja pukulan tangan kiri Biauw Eng ini tidak ada artinya baginya. Sekali tangan kanannya yang berkuku panjang itu bergerak, maka pergelangan tangan kiri Biauw Eng sudah ia tangkap sehingga gadis itu tidak mampu berkutik lagi!
"Hi-hi-hik! Hukuman apa yang harus kau terima? Tanganmu? Apa kubuntungkan sebelah tanganmu saja?" Nenek itu mengancam sambil menyeringai hingga tampak giginya yang besar-besar.
__ADS_1
Sie Biauw Eng yang sudah tidak dapat berkutik lagi itu memandang dengan wajah tetap dingin, bahkan mulutnya yang bentuknya bagus itu sudah membentuk senyum mengejek, seolah-olah ancaman itu sama sekali tidak membuat hatinya menjadi jeri.
"Wah, kalau hanya lenganmu yang buntung, tentu iblis betina tua bangka Lam-hai Sin-ni masih dapat menurunkan ilmu untuk sebelah tanganmu lagi. Tidak, lebih baik kakimu saja yang kubuntungkan sebelah. Dengan hanya sebelah kaki, berdiri pun kau tak akan tegak. Benar, kubuntungkan saja kakimu sebatas paha, hi-hi-hik, dan setiap orang laki-laki akan jijik melihat kakimu yang buntung, heh-heh-heh!"
"Tidak! Tak boleh kau lakukan itu, bibi Ang-bin Kwi-bo!" Tiba-tiba Bhe Cui Im membentak marah dan dengan nekat gadis ini sudah menerjang dari belakang tubuh nenek itu untuk menolong sumoi-nya.
Karena pedangnya sudah hilang ketika tadi dirampas dan dibuang Keng Hong, kini Cui Im menyerang dengan tangan kosong. Akan tetapi walau pun hanya memukul dengan tangan kosong, gadis ini diam-diam telah melumuri kedua tangannya dengan racun yang selalu dibawa-bawanya, sesuai dengan julukannya Dewi Racun!
Kini kedua tangannya itu mengeluarkan asap hijau sebab racun yang dipakai pada kedua tangannya itu amat jahat. Jangankan lawan yang terpukul sampai robek kulitnya hingga racun itu dapat meracuni darah, bahkan baru tersentuh saja, racun ini dapat meresap melalui lubang-lubang kulit dan membuat daging menjadi membusuk dalam waktu singkat!
Hebatnya, tubuh Bhe Cui Im terhuyung-huyung mundur seperti terbawa angin badai, lalu terdengar gadis ini memekik dan Cui Im roboh sambil merintih-rintih. Dengan dua tangan menggigil gadis ini cepat merobek bajunya, maka tampaklah sebagian dadanya berwarna biru!
Dengan tangan masih menggigil, Cui Im mencari-cari di dalam saku bajunya. Setelah dia menemukan bungkusan yang dicarinya, cepat dia membukanya dan dengan jari-jari tetap menggigil dia segera menelan tiga butir pil berwarna hijau, kuning dan merah!
__ADS_1
"Hi-hi-hik! Kau bocah lihai, dapat menahan sedikit dorongan Ban-tok Sin-ciang (Tangan Sakti Selaksa Racun), tentu engkau yang disebut Ang-kiam Tok-sian-li Si Dewi Racun!"
Keadaan Cui Im tidak terlalu menderita lagi. Dia masih lemas, akan tetapi sudah dapat bangkit dan duduk bersila, mengatur napas. Tiga buah pil yang ditelannya itu mempunyai khasiat yang sangat manjur, dapat memunahkan segala macam racun yang bagaimana jahat pun.
Ang-bin Kwi-bo kini kembali menghadapi Biauw Eng yang sejak tadi hanya memandang semua itu dengan mata tidak peduli. Baginya, majunya Cui Im untuk membantunya sudah sewajarnya, dan robohnya Cui Im pun bukan hal yang aneh.
Dia sendiri tak mampu berkutik, apa lagi yang dapat ia lakukan? Tidak lain hanya menanti datangnya hukuman yang dia tahu pasti sangat mengerikan. Akan tetapi sebagai puteri Lam-hai Sin-ni, terutama sekali sebagai seorang tokoh muda yang berjulukan Song-bun Siu-li, dia harus menjaga nama dan akan menghadapi semua yang akan terjadi dengan mata tak berkedip.
"He-he-heh, sekarang kau boleh pilih, Song-bun Siu-li! Lebih baik kubuntungkan sebelah lenganmu, ataukah sebelah kakimu?"
"Ang-bin Kwi-bo, aku sudah kalah olehmu, Mau membuntungi lengan, kaki atau pun leher, terserah! Di sana masih ada ibuku yang kelak akan mencarimu untuk menagih hutang berikut bunga-bunganya!"
Ang-bin Kwi-bo menjadi marah setengah mati. Sudah menjadi kesukaan para tokoh sesat terutama Bu-tek Su-kwi empat datuk besar kaum sesat, untuk melihat calon korbannya merengek-rengek minta ampun dan merintih-rintih oleh siksaan. Maka kini menyaksikan sikap Biauw Eng yang malah menantang dan wajah yang cantik itu tetap dingin bahkan senyumnya mengejek, nenek itu menjadi penasaran sekali dan merasa terhina.
__ADS_1
Alangkah akan malunya dan rendah namanya apa bila ada yang melihat betapa Ang-bin Kwi-bo yang terkenal itu sekarang malah diejek oleh seorang tawanannya, seorang gadis muda!