Pendekar Pedang Kayu Harum

Pendekar Pedang Kayu Harum
pkh 05 part 3


__ADS_3

Mereka itu tadinya bersembunyi di balik pohon-pohon dan di dalam gerombolan-gerombolan semak.


Terdengar suara Song-bun Siu-li yang berdiri di atas kereta dengan cambuk di tangan, suaranya masih tetap halus merdu, namun kini dikerahkan dengan penggunaan tenaga khikang sehingga menjadi nyaring dan bergema lebih dahsyat dari pada suara banyak orang tadi.


"Murid Sin-jiu Kiam-ong menjadi tawanan Lam-hai Sin-ni! Di sini ada Song-bun Siu-li dan Ang-kiam Tok-sian-li yang melindunginya, siapa pun tidak boleh mengganggu tawanan!"


Keng Hong yang kini sudah duduk di atas tanah, diam-diam memandang dengan hati geli. Dia tidak tahu siapakah adanya banyak orang-orang laki-laki yang tinggi besar dan kelihatan galak-galak itu, akan tetapi yang dia tahu adalah bahwa dia dijadikan rebutan! Dijadikan rebutan di antara para tokoh kang-ouw, bukan tokoh-tokoh kaum bersih seperti ketika gurunya dulu dikepung di Kiam-kok-san, melainkan tokoh-tokoh hitam yang amat lihai.


Namun, baik tokoh bersih mau pun tokoh sesat, semua memiliki pamrih yang sama yaitu menghendaki Siang-bhok-kiam dan warisan mendiang suhu-nya. Kini timbullah keinginan hatinya untuk mencari serta mendapatkan pusaka peninggalan suhu-nya. Apa bila semua tokoh kang-ouw menginginkan pusaka itu, sudah barang tentu pusaka itu amat berharga dan penting.


Sesudah mendengar disebutnya nama Song-bun Siu-li, kini para pengurung itu menjadi ragu-ragu dan mereka terdiam, kemudian muncul empat orang tinggi besar yang usianya sudah empat puluh tahun lebih. Di tangan masing-masing memegang sehelai rantai baja yang digantungi sebuah tengkorak manusia!

__ADS_1


Melihat rantai dengan tengkorak itu teringatlah Keng Hong akan kakek tinggi besar yang berkulit hitam arang, yang matanya putih, telinganya seperti telinga gajah dan badannya berbulu, yaitu Pak-san Kwi-ong. Senjata kakek itu pun berupa seutas rantai besar dengan dua buah tengkorak pada kedua ujungnya. Hanya bedanya, rantai empat orang laki-laki ini hanya bertengkorak satu.


"Kami Pak-san Su-liong (Empat Naga Pegunungan Utara), jauh-jauh datang melakukan perintah suhu. Mengingat akan sahabat segolongan, biarlah kami menyampaikan salam suhu kepada Ji-wi Siocia (Nona Berdua) untuk disampaikan kepada Lam-hai Sin-ni dan salam kami sendiri kepada Ji-wi. Kemudian, mengingat akan persahabatan, harap Ji-wi luluskan kami meminjam sebentar tawanan itu."


"Hi-hi-hik-hik! Enak saja membuka mulut!" Cui Im tertawa mengejek. "Kami yang susah payah menawan, tapi kalian yang hendak memboyong. Aturan mana ini? Lebih baik kalian pergi dari sini dan sampaikan kepada Pak-san Kwi-ong bahwa apa bila dia menghendaki tawanan, biarlah dia mencoba merampasnya dari tangan guruku!"


"Suci, tidak perlu banyak bicara melayani mereka. Pak-san Su-liong harap tahu diri dan jangan mengganggu kami. Betapa pun juga, kami tak akan menyerahkan tawanan!" kata gadis baju putih sambil menudingkan telunjuknya ke arah empat orang tinggi besar itu.


"Hemm, kalau begitu, terpaksa kami akan menguji kepandaian Ji-wi, apakah cukup patut menjadi pengawal tawanan penting!"


Tenaga sinkang Cui Im masih belum normal, belum pulih seperti biasa, akan tetapi tidak selemah tadi karena di sepanjang jalan gadis ini telah melatih napas untuk menghimpun tenaganya yang tercecer. Dia masih dapat mengandalkan ilmu pedangnya yang memang hebat dan pedang merahnya yang ampuh. Ada pun gadis baju putih itu sudah memutar cambuknya sehingga terdengar bunyi ledakan-ledakan nyaring.

__ADS_1


Empat orang tinggi besar itu menyambut kedua orang nona ini dengan sambaran rantai mereka dan terdengarlah suara bersiutan, tanda bahwa mereka itu memiliki tenaga besar sekali dan dari mulut tengkorak-tengkorak itu kadang-kadang mengebul asap putih yang beracun!


Pertandingan dua lawan empat ini berlangsung seru, akan tetapi Keng Hong yang duduk di belakang kereta dapat melihat jelas betapa sebetulnya Cui Im hanya melawan seorang saja sedangkan lawan yang tiga orang diborong oleh Song-bun Siu-li. Makin kagumlah hatinya menyaksikan nona baju putih itu.


Tiga rantai tengkorak yang mengepungnya tidak boleh dipandang ringan karena ternyata bahwa naga-naga dari Pak-san itu benar-benar mempunyai kepandaian tinggi, malah jika dibandingkan dengan Thian-te Siang-to murid Pat-jiu Sian-ong, agaknya empat orang ini masih lebih berat. Akan tetapi pecut di tangan Song-bun Siu-li amat lincah gerakannya, menyambar-nyambar dengan suara nyaring seperti halilintar mengamuk dan mengancam kepala tiga orang lawanya.


Asap putih yang mengepul dari mulut empat tengkorak itu adalah hawa beracun. Akan tetapi menghadapi ini, dua orang murid Lam-hai Sin-ni tentu saja memandang rendah karena guru mereka adalah ahli racun nomor satu di dunia ini!


Baik Song-bun Siu-li mau pun Cui Im sudah mengeluarkan sehelai sapu tangan berwarna kuning yang amat harum, lalu menggosok-gosokan sapu tangan masing-masing dengan keras ke hidung dan mulut mereka, kemudian menyimpan kembali sapu tangan itu baru menghadapi lawan tanpa mengkhawatirkan asap beracun.


Biar pun tenaga sinkang-nya belum pulih seluruhnya, akan tetapi ilmu pedang Ang-kiam Tok-sian-li memang hebat, sehingga tidak percuma dia berjulukan si pedang merah, dan kecerdikannya serta kekejamannya membuat dia patut pula dijuluki Tok-sian-li Si Dewi Beracun! Karena tiga orang lawan diborong sumoi-nya dan dia sendiri hanya menghadapi seorang lawan, pedangnya sudah sanggup mengimbangi gulungan sinar rantai, bahkan beberapa kali hampir berhasil melukai lawan, yaitu memapas bagian ujung bajunya dan membuat retak rahang tengkorak.

__ADS_1


Keng Hong yang menonton pertandingan itu, duduk dengan hati tegang, juga dia menjadi kagum. Semenjak turun gunung, dia telah menyaksikan pertandingan-pertandingan yang hebat. Sekarang mengikuti pertandingan antara murid-murid orang sakti, murid-murid dua orang datuk dari golongan sesat yang tinggi ilmunya, matanya menjadi kabur.


Gulungan sinar pedang di tangan Cui Im merah dan indah sekali, membentuk lingkaran-lingkaran yang makin lama makin melebar, mengurung gulungan sinar yang dibuat oleh rantai tengkorak lawannya. Ada pun cambuk di tangan Song-bun Siu-li juga telah lenyap bentuknya, yang tampak hanya gulungan sinar hitam yang berkelebatan di angkasa dan mengeluarkan bunyi meledak-meledak keras sekali. Sinar hitam ini dapat menahan rantai tengkorak ketiga orang lawannya yang berusaha keras untuk mengalahkan gadis muda yang namanya sudah amat dikenal di dunia kang-ouw itu.


__ADS_2