
Digoda terus-menerus, Keng Hong menjadi merah mukanya dan dia memandang dengan niat untuk balas memaki. Akan tetapi melihat mata yang bening dan indah itu, mulut yang manis tersenyum, dia menjadi tidak tega untuk memaki, maka dia menundukkan muka lagi.
"Kau memang tolol. Jika kau tidak tolol, tentu tidak kau berikan Siang-bhok-kiam kepada tosu-tosu bau itu."
"Itu adalah hak mereka dan aku tak mau membantah permintaan mereka. Mereka adalah tosu-tosu yang bijaksana dan baik, permintaan mereka patut dipatuhi. Pula, tak mungkin menggunakan kekerasan menentang. Mereka amat lihai, terutama sekali Kiang Tojin dan ketua Kun-lun-pai."
"Kau penakut dan bodoh! Heran aku mengapa Sin-jiu Kiam-ong mempunyai murid seperti engkau! Padahal menurut pendengaranku Sin-jiu Kiam-ong gagah perkasa, tak mengenal takut terhadap siapa pun juga dan amat cerdik."
Keng Hong menarik napas panjang. Gurunya memang seorang yang selalu gembira dan tidak pernah mengenal takut. "Terserah wawasanmu. Aku tidak takut terhadap siapa pun juga, dan tentang kebodohan... hemm, tentu saja aku tidak secerdik suhu."
Sunyi yang agak lama. Keng Hong menunduk sebab teringat akan suhu-nya dan mulailah hilang kegembiraannya. Pada hari-hari pertama semenjak dia sendirian di dunia ini, telah terjadi hal-hal yang tidak menyenangkan hatinya. Apa bila begini terus nasibnya, bertemu seorang wanita saja selalu mengejek dan memakinya, mana mungkin dia dapat meniru watak suhu-nya yang menghadapi segala sesuatu dengan gembira. Betapa mungkin bisa bergembira rasa hati ini kalau seorang wanita cantik jelita mencemoohkan dan memaki-makinya?
"Keng Hong..."
Pemuda itu terkejut. Benarkah wanita itu memanggilnya? Suaranya begitu halus dan dia terkejut juga dipanggil secara tiba-tiba setelah lama berdiam diri.
"Hemm...?" Ia menengok dan makin gugup melihat betapa kedua mata itu memandang dirinya tajam-tajam dan mulut itu tersenyum manis akan tetapi hanya sebentar saja sebab bibir yang merah itu segera cemberut lagi. "Kau memanggilku?"
"Kau laki-laki canggung benar..."
"Sudahlah, Nona. Kalau engkau menghentikan aku hanya untuk mencela, untuk apa..."
"Engkau marah?"
"Tidak"
__ADS_1
"Engkau memang canggung, tidak seperti gurumu yang khabarnya... ahhh, apakah kau tidak ingin tahu siapa aku, siapa namaku dan mengapa aku datang ke Kun-lun-pai?"
Baru sekarang Keng Hong teringat dan dia merasa bahwa dia memang kurang perhatian, "Siapakah nama Nona?"
Gadis itu menahan kekehnya. Sikap Keng Hong benar-benar amat canggung dan gugup sehingga kelihatan lucu. "Namaku Bhe Cui Im. Bagus tidak namaku?"
"Bagus... bagus...," jawab Keng Hong cepat-cepat dengan pandang mata mendesak agar nona itu terus bercerita.
"Hi-hi-hik, kau ternyata pandai juga memuji..."
"Ehh..., aku... ahhh, teruskanlah, Nona."
"Aku mendengar tentang keramaian yang khabarnya akan terjadi di puncak Kun-lun-san yang disebut Kiam-kok-san, bahwa kabarnya tokoh-tokoh besar hitam dan putih hendak menjemput turunnya murid Sin-jiu Kiam-ong yang mewarisi Siang-bhok-kiam yang sangat diinginkan oleh seluruh tokoh kang-ouw."
"Tentu saja! Apa kau kira aku ini anak kecil yang suka menonton keramaian begitu saja? Dan aku malah berhasil sekali, lebih berhasil dari pada mereka yang memakai kekerasan. Mereka itu semua terusir oleh tosu-tosu bau Kun-lun-pai, belasan orang gagah di dunia kang-ouw, sama sekali tak berhasil, melihatnya pun tidak! Aku sengaja membiarkan diriku tertangkap oleh tosu-tosu bau itu. Memang harus diakui bahwa kalau aku melawan, tidak akan mampu mengalahkan tosu-tosu yang demikian banyak, apa lagi tosu she Kiang dan gurunya itu amat lihai. aku sengaja menjadi tawanan dan akalku berhasil memancing kau datang karena jeritan-jeritanku. akan tetapi siapa kira, karena ketololanmu kau serahkan pedang itu begitu saja!"
Mulai lagi maki-makian! Sekarang mengertilah Keng Hong mengapa gadis ini telah dapat meloloskan diri dari ikatan kaki tangannya sebelum dilepaskan. Kiranya gadis itu memang sengaja membiarkan dirinya ditawan. Benar-benar seorang gadis yang cerdik sekali, dan juga penuh keberanian.
"Untuk apakah engkau menginginkan pedang Siang-bhok-kiam, nona?"
"Eh-ehh-ehh, masih bertanya untuk apa lagi? Tentu saja untuk mendapatkan rahasianya. Keng Hong, katakanlah terus terang, apakah engkau sudah mendapatkan pula rahasia penyimpanan kitab-kitab pusaka yang terdapat di pedang itu?"
Pandang mata itu penuh gairah, agaknya gadis ini bernafsu sekali untuk mendapatkan kitab-kitab pusaka simpanan Sin-jiu Kiam-ong.
Keng Hong menggelengkan kepalanya. "Belum dan agaknya tak akan dapat kutemukan. Aku pun selamanya tidak ingin kembali ke Kun-lun-san. Nona, mengapakah mereka itu semua memperebutkan rahasia itu? Sampai mati-matian dan saling bermusuhan?"
__ADS_1
Gadis itu menggerakkan alisnya dan memandang pemuda ini dengan terheran. "Engkau benar-benar masih hijau! Sudahlah, yang penting sekali ini ceritakan kepadaku ilmu apa saja yang kau pelajari dari Sin-jiu Kiam-ong? Tadi kulihat engkau menggunakan ilmu yang mukjijat, kau pandai menyedot sinkang orang lain, bahkan Kiang Tojin yang begitu lihai hampir mampus di tanganmu. Ilmu apakah itu? Sukakah kau menceritakannya padaku?" Tiba-tiba saja sikap gadis ini manis sekali. Wajahnya berseri, matanya bersinar-sinar dan bibirnya tersenyum.
Keng Hong hanya dapat menggelengkan kepalanya saja, kemudian melihat wajah cantik itu menjadi murung dia pun cepat berkata, "Sungguh mati, aku sendiri tidak mengerti. Aku sendiri membenci penyakit yang ada pada tubuhku ini. Aku tidak mempelajari apa-apa kecuali dasar-dasar ilmu silat serta beberapa pukulan dan permainan pedang. Apa bila dibandingkan dengan orang lain, tentu tidak ada artinya."
"Hemm, engkau pandai merendahkan diri dan bersikap sungkan, alangkah jauh bedanya dengan gambaran mengenai gurumu!" Akan tetapi kegalakan ini segera berubah lagi, kini gadis itu tersenyum manis, dan membuka tutup guci hendak diminumnya. Akan tetapi dia mengerutkan kening dan berkata seorang diri, "Ahh, air ini kurang sedap!"
Dia lalu mengeluarkan sebuah bungkusan dari saku bajunya dan ketika dibuka, ternyata berisi daun-daun dan kembang-kembang kering. Dia menuangkan sebungkus daun dan kembang kering ini ke dalam guci airnya, lantas dikocoknya guci itu sambil memandang kepada Keng Hong. Ditatap sepasang mata seperti itu, Keng Hong menjadi tak enak hati kalau berdiam diri saja maka dia bertanya,
"Apakah yang kau masukkan dalam air minum itu?"
"Daun wangi dan kembang harum, pengganti teh yang sangat lezat dan sedap!" jawab gadis itu sambil menggelogok air dari guci seperti tadi. Segera tercium bau yang harum keluar dari mulut guci. Selesai minum gadis itu lalu menyerahkan gucinya kepada Keng Hong sambil berkata, "Kau minumlah."
Keng Hong menggelengkan kepala. "Aku tidak haus."
"Ehh, walau pun tidak haus, air ini sekarang sudah menjadi minuman enak. Coba cium, tidak harumkah?"
Gadis itu mendekatkan mukanya kemudian membuka mulutnya, menghembuskan napas ke arah muka Keng Hong. Pemuda itu terkejut sehingga mukanya terasa panas sekali, jantungnya berdebar tegang. Ia merasa canggung dan juga jengah.
"Apakah kau takut kalau air ini kucampuri racun?"
Untuk mencegah gadis itu melakukan hal-hal aneh yang lebih hebat lagi, tanpa banyak cakap Keng Hong segera menerima guci air dan menggelogoknya. Memang harum dan terasa agak manis, akan tetapi mulut dan lidahnya yang terlatih mendadak merasakan sesuatu yang tidak asing baginya. Racun! Racun yang amat kuat dan jahat!
Tetapi dia cepat-cepat dapat menekan perasaannya, tidak memperlihatkan sesuatu pada mukanya, bahkan lalu terus menuangkan air beracun itu hinggahabis berpindah ke dalam perutnya! Gadis itu memandangnya dengan sepasang mata bersinar-sinar pada saat dia menurunkan guci kosong dan berkata, "Lezat sekali!"
Sambil tersenyum-senyum gadis itu kini mengambil sesuatu dan karena yang diambilnya itu agaknya berada di saku dalam dari bajunya, ia lalu membuka dua kancing baju bagian atas. Cara ia membuka kancing secara terang-terangan begitu saja di depan Keng Hong, dengan gaya memikat dan manis sekali.
__ADS_1