Pendekar Pedang Kayu Harum

Pendekar Pedang Kayu Harum
pkh 08 part 9


__ADS_3

Di sebuah dusun lain yang tidak jauh dari Ciang-cung tinggal seorang kepala kampung yang menjadi raja kecil di dusun itu, bahkan kekuasaan dan pengaruhnya sampai menjalar ke dusun-dusun lain di dekatnya, termasuk Ciang-cung karena kepala-kepala kampung dari dusun-dusun lainnya tak ada yang berani menentangnya.


Kepala dusun ini bernama Bong-cungcu (Lurah Bong) dan memiliki seorang putera tunggal bernama Bong-cit yang terkenal jahat, mata keranjang dan senang membawa kehendak sendiri mengandalkan kedudukan ayahnya dan mengandalkan kekuatan pasukan tukang pukulnya yang terdiri dari buaya-buaya darat yang pandai ilmu silat. Pada saat Bong Cit mendengar akan kecantikan seorang gadis yang memasuki dusun itu bersama adiknya, segera bersama anak buahnya Bong Cit mengejar ke Ciang-cung, menemui gadis cantik itu dan menggodanya dengan ucapan-ucapan yang tidak sopan.


Tentu saja Ciang Bi dan adiknya menjadi marah dan menghajar para tukang pukul itu sehingga mereka bersama majikan muda mereka lari tunggang-langgang. Akan tetapi, tak lama kemudian kembali datang pasukan tukang pukul yang jumlahnya lebih banyak, lalu mengeroyok Ciang Bi dan adiknya. Pasukan tukang pukul ini kiranya cukup kuat sehingga hampir saja Ciang Bi dan adiknya celaka kalau saja saat itu tidak muncul Keng Hong yang menghajar mereka.


"Begitulah, Twako. Sungguh aku merasa malu sekali bahwa biar pun ayah telah mengirim aku bersama adikku belajar selama lima tahun di Hoa-san-pai, ternyata baru pertama kali bertemu dengan penjahat saja sudah hampir celaka. Masih baik nasibku dapat bertemu dengan seorang pendekar gagah perkasa seperti engkau. Jika saja kepandaianku setinggi kepandaianmu, tentu akan kucari jahanam Bong Cit itu dan akan kulenyapkan dari dunia. Manusia macam dia itu merupakan ancaman bagi keselamatan gadis-gadis di kampung sekeliling tempat itu."


Keng Hong mengangguk-angguk. "Aku tidak dapat terlalu menyalahkan dia."

__ADS_1


"Apa maksudmu?"


"Siapa orangnya yang tak akan tergila-gila melihat engkau, Bi-moi. Engkau terlalu cantik jelita dan manis, membuat hati pria menjadi jungkir balik!"


Tiba-tiba saja wajah yang cantik itu menjadi merah sekali, bibir yang mungil itu tersenyum ditahan, matanya mengerling malu-malu. "Ihhh, engkau juga... mata keranjang dan... dan kurang ajar...? Sukar dipercaya...!"


Keng Hong tertawa lirih dan menggeleng-gelengkan kepalanya, pandang matanya secara jujur menatap wajah itu dengan kekaguman.


Makin merah wajah Ciang Bi dan gadis itu menunduk, akan tetapi dia tidak marah, malah jantungnya berdebar akibat... girang! Memang tepat sekali ucapan yang didengarnya.

__ADS_1


Dia suka akan pujian mengenai kecantikannya, apa lagi kalau pujian itu keluar dari mulut seorang pemuda yang dikaguminya! Kalau dia sampai bermusuh dengan Bong Cit adalah karena pemuda she Bong itu sudah mengeluarkan kata-kata kotor dan kemudian hendak menangkapnya.


"Kau... kau terlalu jujur dan blak-blakan, Twako..." akhirnya dengan lirih Ciang Bi berkata. "kau membikin aku menjadi... menjadi malu..."


Keng Hong tertawa dan memandang wajah yang ayu itu. Sinar merah api ungun membuat bentuk wajah itu menjadi gemilang dan tampak jelas garis-garisnya, bagaikan garis-garis daun bunga mawar dengan lekuk-lengkungnya yang tak lebih tak kurang, amat tepat dan cocok sekali, serasi pada tempatnya, membuat mata tak ada bosannya memandang dan mengaguminya.


"Salah siapakah, Bi-moi? Salahkah mata ini apa bila melihat wajah yang cantik dan indah, nikmat dipandang tanpa membosankan? Ataukah pemilik wajah itu sendiri yang salah mengapa wajahnya cantik? Kalau salah mataku, biarlah mulai sekarang juga aku akan meramkan mata bila mana berbicara dan berhadapan denganmu agar aku jangan dapat melihat wajahmu! Sebaliknya, kalau salah wajahmu mengapa begitu cantik, biarlah mulai sekarang kau menutupi wajahmu dengan sapu tangan atau dengan kedok yang buruk agar mataku tidak dapat mengagumimu. Bagaimana?"


Gadis itu tersenyum lebar, menekan diri agar tidak tertawa terkekeh, sedangkan pandang matanya bersinar-sinar ditujukan kepada wajah pemuda yang makin menarik hatinya itu, pemuda yang perkasa, yang sudah menyelamatkan nyawanya dan nyawa adiknya, yang ramah-tamah, yang telah melepas budi tetapi selalu merendahkan diri, yang amat tampan dan memiliki sepasang mata yang seolah-olah dapat menembus dadanya dan menjenguk isi hatinya, yang kini bahkan memuji-mujinya dengan kata-kata merayu-rayunya!

__ADS_1


"Wah..., Hong-ko... engkau benar-benar pandai merayu hati! Hong-ko..., sungguhkah kau menganggap aku… aku cantik dan... dan apakah engkau... suka kepadaku?" Gadis itu memberanikan diri mengeluarkan pertanyaan ini yang keluar dari lubuk hatinya, dan dia diberanikan oleh sikap dan kata-kata Keng Hong yang selalu terbuka dan jujur blak-blakan itu.


Keng Hong tersenyum lebar. "Pria yang manakah di dunia ini yang tidak akan merayu wanita cantik seperti seekor kumbang menari-nari dan menyanyi di atas setangkai bunga? Kaum cendekiawan, kaum sastrawan selalu merayu segala keindahan dengan kata-kata indah yang dirangkai dalam bentuk sajak-sajak hingga terciptalah sajak-sajak abadi yang menyanjung keindahan bunga dan kecantikan wanita! Tentu saja aku merayumu dengan kata-kata indah sedapatku, Bi-moi, karena memang engkau cantik dan patut menerima rayuan dan sanjungan pria yang mana pun juga di dunia ini. Kau bertanya apakah aku suka kepadamu? Aduh, Bi-moi, perlukah ditanya lagi? Tiada seekor pun kupu-kupu atau kumbang yang tidak suka akan kembang! Tiada seorang pun pria yang tidak suka akan seorang wanita cantik, kecuali kalau pria itu tidak normal atau... banci!"


__ADS_2